Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #98

Theodora Aether

Sihir Permainan: Pertaruhan!

Simbol bintang yang muncul di dahi Elyzard berpendar-pendar layaknya lentera. Begitu ia terpasang dengan sempurna, dunia antah-berantah yang ia tempati lagi-lagi mendesing seolah mesin berukuran raksasa. Bertanya melalui suara mekanis,

Sebutkan Isi Pertaruhan.

Adalah Si Nomor Sepuluh yang lebih dulu menjawab suara tersebut. Menyeringai lebar menatap bidak-bidaknya. Menopang dagu dengan kedua tangan. Berujar,

"[Siapa yang kalah, dialah yang akan dicabik-cabik] Itulah pertaruhannya."

Elyzard tertegun mendengar jawaban yang semena-mena tersebut. Berseru dari jarak jauh.

"Wo--Woy!!"

Keringat dinginnya mengalir.

"Apa-Apaan isi pertaruhan yang kau tawarkan itu?! Aku tidak terima!"

Pertaruhan Dikonfirmasi: [Siapa Yang Kalah, Dialah Yang Akan Dicabik-cabik]

Tapi terlambat, mesin dunia yang memang pilih kasih sama sekali tak memedulikannya. Kembali mendesing seolah sedang memproses sesuatu. Lalu ia diam. Tidak menanggapi sikap keberatan yang ditunjukkan oleh si pria pemalas.

Elyzard yang tak lagi bisa mengandalkan kekuatannya semakin merasa tegang. Keadaan di benteng pasti sudah sangat gawat. Orang-orang membutuhkan bantuannya. Ia harus segera keluar dari sini karena Malaikat Hitam sedang mengincar adiknya, Theodora Aether, yang disimpan dalam bungker bawah tanah.

Ia akan kehilangannya jika tidak segera bertindak.

Tidak.

Elyzard bergumam dalam hati.

Aku tidak akan melepaskan adikku lagi seperti dahulu!!

Maka ia mengatur nafasnya di atas singgasana merah yang empuk. 

Sambil mengambang di atas awan melihat para pasukanya, pria tersebut mencoba mengingat-ingat strategi permainan catur yang dulu dikuasainya saat bermabukan di kedai ibukota Voltaire. Memproyeksikannya sedetail mungkin dalam kepala. Lantas ia memberi isyarat melalui telunjuknya. Menggerakkan pasukan yang berada tepat di depan konvoi pengawal sang menteri. Memerintahkannya menyusul pasukan pertama yang sudah berada di tepi sungai. Mendirikan barikade baru yang sama kokoh.

Englund Gambit.

Elyzard menyebut taktik yang sedang digunakannya.

Kalau tidak salah... Itulah adalah pembukaan hitam yang dahulu pernah kupelajari.

Bukan pembukaan yang aman dan memiliki probabilitas kesalahan yang kecil, memang. Namun, pembukaan ini cocok untuk digunakan sebagai strategi pertempuran cepat yang mengandalkan gerakan-gerakan kejutan pengecoh musuh.

Sebuah sistem yang sedang ia perlukan untuk saat ini.

Si Nomor Sepuluh agak terkejut ketika lawannya ternyata memakai strategi barbar yang beresiko tinggi. Memuji keberaniannya.

"Langkah yang sungguh nekat." Banda merespon. Melakukan langkah yang berikutnya.

"Sekaligus bodoh."

Pria bermantel cokelat tidak memiliki waktu untuk berdebat lebih jauh. Dengan sebuah jam raksasa menggantung di sisi kanan dan kiri medan catur realistis, ia memahami bahwa pertandingan ini tidak akan berlangsung lama. Hanya dibatasi lima menit untuk tiap kubu.

Jarum jam yang begitu panjang dan berkilauan dalam warna emas berhenti bergerak setiap kali ia selesai melangkah. Mengaktifkan jam di seberangnya yang merupakan waktu Si Nomor Sepuluh. 

Tersisa empat menit sempat puluh lima detik.

Remaja itu menyingsingkan lengannya. Menyeringai.

"Baiklah, Tuan Penguasa yang tidak lagi memiliki sihirnya..."

"... Mari kita bertanding dengan adil!!"

***

Seharusnya sembilan anggota Malaikat Hitam berhasil menguasai benteng Tsukimi-Jo dengan mudah karena pemain utamanya, Elyzard Aether, telah dilumpuhkan ke dunia bermain milik Si Nomor Sepuluh yang merepotkan. 

Akan tetapi, begitu mereka memasuki pintu benteng yang berada di lantai menuju ruang bawah tanah, pijakan mereka berguncang hebat. Dinding-dinding terbelah seolah kertas yang baru saja dirobek menggunakan gunting. Puing-puing tanpa elak menghantam kepala mereka. Memberikan rasa perih. Mengepulkan debu.

Satoshi Kirigaya yang kembali mengaktifkan sihir ramalannya terkejut. Sebuah pandangan masa depan baru memenuhi matanya hingga perih. 

Bahunya gemetar ketakutan. Nafasnya memburu tak karuan. Pemuda itu menarik jas milik rekannya, Zephyier Doughlas, memberi arahan baru.

"Keluarkan semua orang dari sini!" Serunya.

"Se... Seseorang..."

"... Sedang melepaskan tembakan sihir dari dalam!"

"A--Apa--?!!"

BLAAAAARR!!!

Sungguh respon yang begitu lambat. 

Ketika Si Nomor Dua baru saja hendak memunculkan portal-portal biru untuk melarikan diri. Secara mendadak dari kedalamaan tangga benteng muncul secercah cahaya. 

Tidak ada yang tahu elemen apa yang digunakan sebagai inti dari cahaya tersebut. Yang penting, setiap kali ada material yang mencoba menghalanginya, ia langsung menghanguskannya. Meninggalkannya di belakang dalam kondisi sudah tercabik-cabik. Sementara ia terus melaju dalam garis lurus yang rapi. Tak tertahankan.

Sembilan anggota organisasi pemberontak itu terkena telak olehnya. Dalam satu ledakan, tubuh seketika tercerai-berai. Terhempas keluar menuju tempat semula mereka berada. Tak dapat bergerak walaupun seinci.

Satu-satunya yang selamat hanyalah Obbeus Omnius yang membuat tameng hitam di sepersekian detik terakhir. Pria tersebut terbang menjauh sambil mencoba menghitung kekuatan musuh, menggunakan sihir hitamnya untuk menghidupkan rekan-rekan lain yang terkapar tak bernyawa. Meraih tubuh mereka untuk direkontruksi ulang. Meletakkannya dalam sebuah kepompong gelap yang menggantung di dekatnya.

Mantan kepala akademi agak terkejut betapa cepat dan kuatnya serangan cahaya tersebut.

Lihat selengkapnya