Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #99

Tamu-Tamu Di Lapangan Dojo

Kami melewati portal biru yang telah disiapkan oleh si pangeran cuek di dalam gua gelap. Begitu sampai di tujuan, sebuah pemandangan hancur-lebur kawasan dojo Hoshigiri yang sebelumnya tampak indah langsung menyambut kami. Mengakibatkan kami terkaget bukan main.

Rumah kediaman dan asrama ambruk seolah baru saja ditubruk oleh segerombolan raksasa. Jalanan berbatu bolong dan membentuk kawah seolah lembah yang dibuat secara paksa. Sejumlah api bergejolak dalam bara meski cuaca sangat dingin dan bersalju.

Di antara pemandangan yang seperti itu, sebuah pertempuran masih terjadi dengan sengit.

Hoshigiri Kanata.

Dengan pedangnya yang bukan lagi kayu untuk latihan, pria tua tersebut melepas jurus demi jurus saat ratusan monster berbagai bentuk menyerangnya bersamaan dari berbagai sisi. Nafas api. Tumbukkan gala. Ayunan kapak. Semua dilaluinya dengan mudah dalam gerakan cepat yang menyerupai cahaya, hanya dapat dilihat saat beliau mengambil jeda sekitar sedetik-setengah detik.

Hoshigiri Kanata menerapkan ilmu-ilmu beladirinya yang indah dalam setiap gerakan dan tarikan nafas. Dengan kuda-kuda kokoh yang tak pernah dibuat bergeser, beliau mengkombinasikan teori menyerang dan bertahan dengan sangat baik. Mencari celah setiap kali sebuah serangan datang menyerbunya. Membunuh lawannya satu demi satu.

Sejenak mungkin kami akan berpikir bahwa beliau tidak mungkin dikalahkan. Atau hanya masalah waktu seluruh monster akan segea takluk dan bergerak mundur.

Tapi bukan itu masalah yang sebenarnya terjadi.

Berada agak jauh dari pertempuran tersebut, tepatnya mengambang di langit-langit lapangan utama, seekor naga Ignis besar tampak ditunggangi seseorang yang menatap sinis dalam jas hitam berkobar.

Rambutnya pirang berkilau dengan sepasang mata biru seperti laut. Dengan wajahnya yang tampan bagai bangsawan, pria tersebut membelai lembut kepala gadis berkimono merah yang tak lain adalah Mei Ling di atas pangkuannya. Membisikkan kata-kata misterius yang tak dapat kudengar. Sementara di atas naga yang lain sesosok makhluk telinga runcing, Han Ling—atau Malakor Vex—tampak tak bosan-bosannya membentuk lingkaran sihir baru. Memberikan musuh tambahan bagi Hoshigiri Kanata yang bertempur habis-habisan di bawah melalui ‘pemanggilan monster’-nya yang merepotkan.

Tertawa lebar.

“BAGAIMANA, ORANGTUA?! KAU MENIKMATI PERTARUNGANNYA?!!”

Tak tertarik untuk membalas provokasi musuh yang mengambang di atasnya, Hoshigiri Kanata terus-menerus melepaskan jurus. Tidak kehilangan konsentrasi. Bergerak dari satu titik ke titik lainnya supaya tidak mudah dikejar.

Rin di sebelahku gemetaran melihat apa yang berada di hadapannya. Punggungnya menegang seakan-akan sedang melihat hantu. Terpongah.

“A… Apa yang terjadi…?”

Aku juga terdiam tanpa bisa berkata.

Ada banyak hal yang ingin sekali kutanyakan sekarang.

Maka aku menoleh kepada Sang Peniru Ov untuk memperoleh jawaban sementara. Akan tetapi, belum juga aku menyampaikan keherananku, seolah menyadari kedatangan kami melalui pendengarannya yang di luar batas logika, Mei Ling di atas tunggangan naga Ignis menoleh ke belakang—‘melihat’ kami dalam tatapan mata yang kosong tanpa kornea—memberitahu.

“Arah jam lima.” Dia berujar pada lelaki tampan di belakangnya.

“Pangeran asli yang dinantikan telah datang.”

Pria asing di belakangnya menghentikan belaian. Dengan ekspresinya yang menyimpan sebuah misteri, ia tersenyum simpul. Memerintah naga yang ditungganginya untuk berbalik melalui satu kata. Berkata,

“Putar balik.” Katanya.

Naga berukuran gedung penginapan mengangguk pelan seolah mengerti apa yang baru saja dikatakan. Ia mengepakkan sayapnya sedikit lebih kencang sambil menggerakkan leher. Berbalik ke arahku dan melepaskan tatapan buas.

Aku terkejut saat berhasil melihat sosok lelaki di atas naga tersebut dengan lebih baik.

Wajahnya begitu kukenal. Seperti seorang sahabat yang telah membersamai beberapa waktu terakhir. Ia berkali-kali membantuku di situasi yang genting, menjadi penyelamat terbaik sekaligus mentor terburuk yang pernah kumiliki. Lelaki itu sering muncul di ingatan Irene Mimosa yang sempat kuintip. Hanya saja dengan aura dan hawa keberadaan yang sedikit berbeda.

Ov Vanguard.

Dia memiliki rupa fisik yang sama persis dengan lelaki tampan yang saat ini berdiri tegap di sebelahku dan memicingkan mata.

Ov yang berada di atas naga tersenyum tipis. Melambaikan tangan.

“Selamat malam, para tamu sekalian.”

Aura hitam gemerlap menyeruak dari sekitarnya.

“Dan secara khusus, selamat datang di kebenaran…”

“… Takagi Amuro.”

Aku mengangkat tangan refleks saat melihat aura sihir yang mengerikan itu terasa begitu mengancam dan berbahaya. Aku tahu ini mungkin agak buru-buru karena aku belum menghitung kekuatan musuh dan jaraknya sedikit terlalu jauh. Akan tetapi, saat aku teringat kembali apa yang terjadi di masa lalu pada pasca pertempuran dengan Luminous Vornhold si raja iblis, sebuah amarah tiba-tiba saja timbul dalam diriku sehingga aku mengalirkan energi sihir dalam jumlah besar.

Benar, dialah yang sesungguhnya membunuh Irene Mimosa ratusan tahun yang lalu melalui sihir kutukan.

Membuangnya ke wilayah antah-berantah yang sangat ekstrem. Membiarkannya mati perlahan dengan cara yang sangat menyakitkan.

Aku…

AKU SAMA SEKALI TIDAK DAPAT MEMAAFKANNYA!!

Sihir Peniru: Tiruan Sihir Api Tingkat Tinggi Modifikasi:—

“BODOH!! JANGAN GUNAKAN SIHIRMU, AMURO-KUN!!”

Sang Peniru di sebelahku membentak keras-keras.

Aku tersentak kaget. Seperti baru saja melupakan sesuatu yang sangat penting.

“Eh?”

—Meriam Api raksasa Sepuluh Lapis!!

Tapi terlambat. Aktivasi sihirku sudah terlanjur kusempurnakan sehingga sebuah peluru mortir besar yang ditumpuk kekuatannya hingga sepuluh kali langsung ditembakkan. Menciptakan hentakan kuat yang tekanan udaranya begitu tinggi. Mengibarkan pakaian dan anak rambut di wajah. Menggetarkan tanganku sendiri yang sedang membidik.

Peluru merah menyala meninggalkan jejak api di bagian ekor. Di panorama malam yang temaram, ia melintas lurus bagai garis kuas dalam kanvas. Melambung seolah meteorit yang meluncur secara terbalik dari bumi. Bergerak menuju penunggang naga Ignis di depan.

Awalnya aku mengira si pria berambut pirang ‘kedua’ akan membentuk tameng pelindung, memberikan serangan balasan atau semacamnya untuk merespon serangan pembukaku. Namun, dugaanku ternyata salah besar. Ia malah dengan santai menerima seranganku melalui lingkaran sihirnya sendiri yang berwarna hitam pekat. Menangkapnya seolah sedang bermain bola.

Menyeringai licik.

Lihat selengkapnya