Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #100

Melarikan Diri

Irene Mimosa terbangun dengan kepala yang berat, seolah baru saja diseret dari dasar mimpi buruk. Ketika kelopak matanya terbuka sepenuhnya, rasa dingin yang menusuk menyadarkannya pada realitas yang mengerikan: kedua tangan dan kakinya terikat erat oleh tambang kasar, mulut kecilnya terbungkam perban lengket, dan tubuhnya terpancang kaku pada sebuah tiang kayu.

Ia terperangkap dalam ruangan kosong yang pengap. Debu menari-nari di bawah pendar redup sebuah lentera minyak di ujung meja. Hanya ada tumpukan kotak barang bekas yang membusuk di sudut-sudut ruangan.

Ketakutan mencekik dadanya saat ingatan terakhirnya berputar kembali.

Kereta kuda... gang gelap yang makin sempit... dan Tuan Walter.

Saat statusnya sebagai anak panti asuhan dilepas untuk diangkat menjadi putri bangsawan, Irene menyangka hidupnya baru saja dimulai. Namun, di dalam kereta kuda sebelumnya, tangan Tuan Walter yang tadi mengelus rambutnya mendadak membekap mulut gadis tersebut dengan sapu tangan berbau aneh. Tubuhnya mendadak lumpuh bagai tikus laboratorium, kesadarannya menguap, dan pemandangan terakhir yang ia lihat adalah seringai keji dari pasangan suami-istri yang seharusnya menjadi orang tua barunya.

Jadi... isi surat kaleng misterius itu benar!

“HMPHH!! HMPHH!!!” Irene mencoba berteriak, tetapi perban yang membebat mulutnya menelan bulat-bulat suara seraknya.

KREEEKK.

Pintu kayu yang lapuk terdorong terbuka. Tuan dan Nyonya Walter melangkah masuk, disusul oleh beberapa pria asing berkerudung cokelat. Langkah sepatu mereka berdentam berat di atas marmer berdebu. Sorot mata mereka yang lapar menyapu tubuh Irene tanpa ampun—menilai dari ujung rambut hingga kaki.

Irene meronta sekuat tenaga, tetapi ikatannya tak bergeming.

“Inilah barang yang kujanjikan, Tuan Javier,” ujar Tuan Walter sambil mengusap tangannya yang kurus. Ia memberi isyarat pada pria bertudung di sampingnya. “Gadis cantik, kulit bening, belum tersentuh, dan sangat polos. Kuharap kau punya penawaran yang pantas.”

Pria paruh baya bernama Javier itu mendekat, menatap manik mata hijau Irene yang bergetar. Seringai tamak terukir di wajahnya yang berkerut. “Luar biasa, Walter! Ini harta karun! Kalau kondisinya begini, kita bisa mengeruk keuntungan gila-gilaan di pasar gelap!”

Nyonya Walter menyela tak sabar, “Berapa taksirannya, Tuan Javier? Berapa?!”

Javier mengelus dagunya, matanya berputar memprediksi angka. “Hmm... Sepuluh ribu koin emas. Bahkan kalau kita jual ke bangsawan hidung belang, batas maksimumnya bisa tembus lima puluh ribu koin emas.”

“Se—Sepuluh ribu koin emas?!” Tuan Walter melotot, menutupi mulutnya yang ternganga. “Itu sepuluh kali lipat dari harga biasa!”

Pasangan suami-istri penjahat itu langsung berpelukan histeris. “Kita kaya! Kita kaya raya!!”

Setelah transaksi selesai disetujui, Javier memberi aba-aba kepada dua anak buah bertudung cokelat di belakangnya. Melambaikan tangan. “Kalian berdua, angkut gadis itu ke tempat penampungan yang biasa kita gunakan. Cepat.”

Dua sosok berseragam tudung cokelat mengangguk singkat. Gerakan mereka sangat gesit. Dengan cekatan, mereka memotong tali yang terikat ke tiang, menyambar tubuh Irene, lalu menggendongnya di punggung sebelum bergegas melangkah menuju pintu.

Tuan Walter menyipitkan mata, menatap punggung kedua pekerja itu dengan curiga. Postur mereka terasa terlalu kecil dan ringkih untuk ukuran penjaga pasar gelap. Maka ia mengangkat telunjuk. Menoleh pada mitra bisnisnya.

“Javier...” gumam Walter bingung. “Orang-orangmu... kenapa cebol begitu?”

Javier ikut mengernyit, menoleh heran. “Eh—?”

POOOF!

Belum sempat mereka menyadari kejanggalan yang terjadi, bom asap mendadak diledakkan tepat di tengah ruangan. Gas tebal berwarna kelabu membubung instan, memicu batuk histeris. Dua sosok mencurigakan tadi langsung melesat kencang menyusuri lorong dengan derap kaki yang lincah.

Tuan Walter, Nyonya Walter, dan Javier mencoba mengejar, tetapi gas tersebut bukan sekadar asap biasa. Dalam hitungan detik, lutut mereka melemas. Kesadaran dan kendali motorik mereka lumpuh seketika. Tak bisa diambil alih.

“Ti... Tidak...”

“Sepuluh ribu... koin emasku...”

“... Siapa yang... Menggunakan obat bius...?”

Lihat selengkapnya