Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #101

Rencana Baru

“Terima kasih banyak, Akira-kun. Berkat bantuanmu, satu lagi sindikat bisnis gelap di Kota Navy berhasil kita berantas. Kami tidak akan pernah melupakan jasamu.”

“Ah, santai saja! Selama aku dapat imbalan yang pantas dan kepercayaan dari kalian, aku sama sekali tak keberatan, kok!” jawab Akira santai.

Bangunan terbengkalai yang selama ini menjadi kedok perdagangan manusia milik Tuan Walter akhirnya resmi disegel. Berkat mobilisasi prajurit yang cekatan, seluruh anggota kelompok kriminal itu diseret ke dalam jeruji besi untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka.

Saat ini, ketiga remaja pelarian tersebut tengah berbincang dengan Kepala Keamanan Kota Navy, Tuan Lion Rockyfield—pria berbadan tegap yang selalu membawa tameng raksasa, selaras dengan senyum ramah yang tak pernah lepas dari wajahnya.

Satoshi Akira melambaikan tangan perpisahan seraya berseru gembira, “Kapan-kapan aku minta bantuanmu lagi ya, Tuan Lion!”

“Tentu! Kami siap menunggu!” balas Tuan Lion terkekeh.

Namun, giliran gadis bergaun ungu glamor yang melangkah mendekat. Urat-urat kemarahan tampak menyembul di dahi mulusnya. Irene dan Ov yang sadar akan bahaya refleks melangkah mundur seirama.

GRET!

Gadis bangsawan itu menyambar kerah seragam pelayan yang dikenakan Akira, menariknya kasar hingga jarak wajah mereka sangat dekat. Sebuah senyuman sinis yang dingin terukir di bibirnya.

“Kau ini…” Rin menahan kalimatnya sejenak, membuat bulu kuduk Akira berdiri. “… bukannya melindungiku sebagai pengawal yang baik, kau malah memanfaatkanku untuk menyergap kelompok penjahat?! Kau memangnya sudah bosan bekerja di Kediaman Heartbeat, hah?!”

Akira mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, mencoba tersenyum sejinak mungkin. “M-maaf, Rin-san! Yang penting kan tidak ada yang terluka, lalu namamu bakal makin harum di seluruh penjuru kota—”

“AKU TIDAK PEDULI!!”

DUAK!

Sebuah pukulan telak mendarat tepat di pipi Akira. Tenaga sihir yang membalut tinju gadis berambut perak itu sukses melontarkan tubuh sang pelayan hingga melayang dan membentur jalanan berdebu.

Rin Heartbeat mengibaskan tangannya ketus, lalu berpaling penuh rasa jengkel. “Hmph! Habis ini, jangan harap kau bisa ikut makan malam di kediamanku. Paham?!”

Akira yang merangkak di tanah dengan wajah cemong akibat debu panik seketika. “R-Rin-san! Kita bisa bicarakan ini baik-baik—”

“Patuhi majikanmu, bodoh!” tembak Rin tanpa menoleh sedikit pun. Ia melangkah anggun memasuki kereta kuda mewahnya, lalu lenyap ditelan kegelapan lorong kota.

Ov dan Irene saling pandang sebelum akhirnya menghampiri pelayan malang yang termenung meratapi nasibnya di atas tanah. Mereka membantunya duduk di bangku tepi jalan.

“Akira-kun… kami berutang banyak padamu. Terima kasih,” ucap Ov Vanguard sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.

Irene menambahkan dengan nada canggung seraya memilin helai rambut hijaunya, “A-aku juga… Kalau kau dan Ov tidak datang tepat waktu, mungkin aku sudah mengalami hal mengerikan yang membebani hidupku selamanya.”

Namun, Akira sama sekali tak merespons. Ia menunduk dalam-dalam, hampa, seolah hilangnya porsi makan malam bersama majikannya adalah akhir dari dunia.

Tetapi keheningan itu tak bertahan lama. Sebuah ide gila mendadak melintas di benaknya. Dalam sekejap, matanya yang redup kembali memancarkan kilatan binar gairah yang mengerikan.

Ia mendadak bangkit, menyambar dan menggenggam erat tangan Ov dan Irene sekaligus. Tangannya bergetar penuh semangat.

Lihat selengkapnya