CRAAAATT!!
Darah segar menyembur pekat saat pendar cahaya putih meledak dari pusat reruntuhan Benteng Tsukimi-Jo yang telah hancur lebur. Dari dalam pendaran itu, sosok Elyzard Aether yang kalah telak dalam pertempuran catur realistis terhempas keras ke atas bata putih. Ratusan luka tebasan menganga di sekujur tubuhnya, tercabik-cabik, persis seperti taruhan maut yang dibuatnya bersama si bocah bertopi merah, Banda. Ia mengerang.
“Si… Sialan…”
Lalu terbatuk parah, memuntahkan gumpalan darah kental.
Namun, baru saja jemarinya bergerak hendak merangkak, Si Nomor Sepuluh yang juga keluar dari dunia permaianan mendadak menginjak tangannya dengan sangat kuat. Membuatnya menjerit. Ia melayangkan melayangkan tatapan kemenangan dari balik topi merah, mendesis. “Bagaimana rasanya dibantai oleh bocah yang jauh lebih muda darimu, paman? Mau coba satu ronde lagi? Kali ini aku janji pertaruhannya bakal jauh lebih seru.”
Elyzard tak sanggup menyahut provokasi konyol itu. Alih-alih melumpuhkan musuh dan kembali ke benteng sebagai pemenang, ia justru babak belur. Dan begitu menginjakkan kaki kembali di dunia nyata, pemandangan yang menyambutnya tak kalah tragis: Benteng Tsukimi-Jo sudah ambruadul, hampir seluruh prajurit penjaganya tewas terbantai. Darah merah menggenang dimana-mana.
Banda mengedarkan pandangannya ke sekeliling area yang luluh lantak, memicingkan mata. Ekspresinya mengisyaratkan sebuah kebingungan kecil.
“Hmm… Berdasarkan situasi di sini, sepertinya teman-temanku sudah menyapu bersih sisa-sisa prajurit benteng,” gumam Banda, lalu menghentikan ucapannya sejenak. “Tapi… pada ke mana mereka sekarang?”
Merasa lawan sudah tak memicu ancaman dan tinggal menunggu ajal akibat pendarahan hebat, Banda menyingkirkan kakinya dari tangan Elyzard. Ia melangkah beberapa tindak, melingkarkan kedua tangan di mulut, lalu berteriak keras.
“Woi! Jade-san! Utsusemi-san! Kalian di mana?!”
Suara nyaringnya memantul berulang kali di dinding-dinding benteng yang retak. Angin malam meniupkan asap dan debu puing, membuat matanya agak perih. Ketika tersadar bahwa ia mungkin sengaja ditinggalkan oleh rekan-rekannya, Banda mendengus kecewa.
Bocah itu berbalik, melangkah kembali menuju tubuh Elyzard yang sekarat. Keputusannya sudah bulat: habisi musuh ini sekarang juga, lalu pergi menyusul yang lain.
Jemari kecilnya meraih sebongkah puing batu yang besar dan berat, mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepala Elyzard.
Banda memberi jeda sesaat—memberi kesempatan bagi pria sekarat itu untuk mengucapkan kata-kata terakhirnya. Namun, tepat pada saat ia hendak menjatuhkan batu besar itu untuk menghancurkan kepala Elyzard, sebuah pendaran aura yang amat mengerikan mendadak muncul dari balik punggungnya. Menekan udara hingga terasa dingin dan berat.
Aura itu begitu pekat, begitu kelam, dan lebih dari cukup untuk membuat tengkuk Si Nomor Sepuluh membeku. Keringat dingin meletup deras di pelipisnya bahkan sebelum ia sempat menoleh. Dengan panik, Banda memutarkan badannya. Matanya melotot horor.
Gadis yang selama ini menjadi target buruan utama mereka—Theodora Aether—ternyata berhasil lolos dari kurungan. Gadis itu berdiri kokoh dalam kondisi segar bugar, memamerkan seringai menakutkan dari balik helaian rambut hitamnya yang terurai kusut.
Theodora terkekeh pelan. “Ara, ara~”
SZZZZT!
Ratusan lingkaran sihir tingkat tinggi mendadak merekah memadati angkasa di atas Tsukimi-Jo. Sebuah pemandangan spektakuler sekaligus mengerikan yang lebih pantas disebut sebagai pertanda kiamat muncul bagai pertunjukan seni. Cahaya magis berpendar silau di tengah kegelapan malam.
Refleks, Banda melangkah mundur. Tanpa memikirkan batu di tangannya atau Elyzard yang tinggal dieksekusi, ia melempar puing itu begitu saja dan berbalik lari sekuat tenaga. Kedua kaki kecilnya berpacu panik, dadanya naik-turun terengah-engah, berharap ada keajaiban yang menyelamatkan nyawanya dari murka sang penyihir.
Dari kejauhan, sudut bibir Theodora terangkat makin lebar saat menyahut kepergian si bocah bertopi merah.
“Tadi aku dengar…” bisik Theodora dingin, “… ada yang mengajak bermain di sini~?”
Sihir Gabungan Seratus Elemen: Pemusnahan!
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah…
… Organisasi Malaikat Hitam benar-benar kehilangan salah satu anggotanya.
***
“Hooii, Bocah! Kau bisa dengar suaraku tidak?”
Suara itu lagi.
Panggilannya memantul berulang di dalam rongga kepalaku, perlahan-lahan menyeret kesadaran kembali ke permukaan.
Mataku bergetar, lalu terbuka mengerjap-ngerjap.
Hal pertama yang tertangkap oleh penglihatanku adalah paras seorang wanita berambut hijau gelap yang tengah tersenyum lebar tepat di depan wajahku. Rona bahagianya meledak saat melihatku mulai memposisikan diri untuk duduk. Ia berbalik, berteriak riang, “Ov! Cepat kemari!”
Suara itu… benar-benar familiar.