Asap hitam pekat mengubur Perguruan Hoshigiri. Bau kayu terbakar bercampur semerbak anyir darah yang mendidih menyebar ke seluruh penjuru tebing. Bagi Ov ‘kedua’, Mei Ling, dan Han Ling, pembantaian ini telah usai. Dojo legendaris itu telah rata menjadi abu. Sang maestro, Master Kanata, telah tewas tercerai-berai di tanah, sementara putri tunggalnya dipastikan hancur dilebur oleh rentetan bom sihir dan kepungan ratusan monster-monster ganas.
Di atas punggung naga Ignis yang mengepakkan sayap raksasa, Ov Vanguard tertawa terkekeh. Pangeran palsu berambut pirang itu memangku gadis berkimono merah, Mei Ling, sembari membelai rambutnya lembut. Sombong, tak tersentuh, dan merasa telah memenangkan seluruh isi benua.
Namun, tepat di tengah helaan napas kepuasannya, dada Ov mendadak terhenyak.
Sebuah intuisi gaib yang amat dingin dan gelap mencengkeram jantungnya—sebuah bisikan naluri kematian yang belum pernah ia rasakan sepanjang ratusan tahun hidup.
Bulu kuduknya berdiri tegak. Udara di sekitarnya mendadak terasa begitu berat dan beracun.
Ov memicingkan mata, menatap tajam ke dasar pelataran dojo yang tertutup kobaran api.
Raut wajahnya yang semula tenang mendadak berubah pucat pasi.
Ia membentak panik.
“Han Ling! Tarik mundur semua monstermu dari sana! SEKARANG!”
Han Ling, si wanita bertelinga runcing, tersentak linglung. “E-Eh?” Keringat dingin meletup deras di pelipisnya.
Sihir Esensi Beladiri: Refleksi Vektor!
“ROOAAAARRR!”
“GRAAAA!”
Raungan kesakitan membahana membelah angkasa. Pasukan monster raksasa yang tengah mengerumuni area tengah dojo mendadak membeku. Tanpa peringatan, dampak energi fisik yang seharusnya melumat gadis di tengah mereka berbalik 180 derajat. Leher, otot-otot tebal, dan persendian makhluk-makhluk mengerikan itu tertebas secara gaib oleh kekuatan mereka sendiri. Tak tertahankan.
SPLAT! SPLAT! SPLAT!
Darah kental menyembur deras bagaikan pancuran membara. Puluhan monster berukuran raksasa tumbang secara beruntun. Dengan tubuh tercabik-cabik sadis, mereka tewas mengenaskan.
Dari balik gulungan asap tebal dan kobaran api liar, sebuah sosok melangkah keluar dengan tenang.
Semua orang tergelak melihat siapa yang masih berdiri setelah fenomena tidak masuk akal yang menimpa barusan.
Ternyata, sosok tersebut adalah Hoshigiri Rin—gadis ber-yukata biru—yang masih berdiri tegak di sana dengan penampilan yang kotor dan berdebu. Sejenak, siapapun yang memandangnya pasti memiliki kesimpulan bahwa ia hanya seorang gadis dua belas tahun biasa yang mudah panik dan masih labil. Akan tetapi, ada sesuatu yang berbeda di dalam gadis tersebut. Ia tak ada lagi memiliki wajah penakut yang selalu bersembunyi di balik punggung ayahnya sendiri.
Matanya memancarkan pendar merah haus darah yang pekat.
Tatapan mata itu jelas murni milik seorang pembantai berdarah dingin—seorang monster tempur yang hanya mendambakan pertarungan bertaruh nyawa demi memuaskan adrenalin. Bukan lagi tatapan gadis polos yang bahkan ketakutan dengan senjata teracung.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, Rin 'baru' memungut replika pedang Zendanki yang tergeletak di atas tanah becek darah. Membiarkan beberapa monster pelan-pelan menjauh karena merasa terintimidasi oleh auranya. Kemudian gadis itu memasang kuda-kuda kokoh.
Postur tubuhnya begitu presisi untuk seseorang yang baru saja belajar beladiri beberapa tahun. Begitu indah dan sempurna—sebuah tingkatan beladiri tertinggi yang sebenarnya belum pernah dipelajarinya saat berlatih di dojo.
Belum selesai orang-orang terpukau atas posisi kuda-kuda yang begitu rapi, gadis yukata biru kembali bergerak.
BAM!
Hentakan satu kakinya membuat fondasi bumi meretak hebat. Gelombang kejut yang tercipta melempar belasan monster hingga melayang beberapa meter. Dalam satu kedipan mata, sekonyong-konyong Rin sudah membelah udara, muncul melayang tepat di depan paras Ov Vanguard yang mendadak beku di atas naga Ignis, menghunus pedangnya lurus.
Sihir Esensi Beladiri: Aliran Timur — Tebasan Ganda Seratus Kali!
SAT SAT SAT SAT SAT SAT SAT!
Sebuah pemandangan yang amat mengerikan.
Dalam kurun waktu kurang dari satu detik, Rin melepaskan seratus kombinasi tebasan berkecepatan tinggi yang ditumpuk secara simultan. Dengan koordinasi pergelangan tangan, gerakan pinggang, dan lengan yang teratur sempurna, ia sukses memenuhi udara di sekeliling Ov dengan tebasan perak tak kasat mata.
Lengan, kaki dan wajah Ov tertebas tanpa ampun. Terkoyak instan.