“Adik kecil… Mau bermain dengan Kakak?”
Suara Irene Mimosa membalur udara siang itu dengan kehangatan manis yang membuai. Bagi siapa pun yang mendengarnya, perawakan anggun serta nada bicaranya adalah kombinasi paling efektif untuk meruntuhkan pertahanan psikologis makhluk apa pun di bumi.
Tidak terkecuali bagi Usagi Signare, bocah perempuan berusia tujuh tahun yang tengah mengulik tanah di taman kota.
Gadis kecil itu mendongak, mengerjapkan matanya yang bulat.
Saat menatap sosok berambut hijau segar berbusana tunik putih dan apron biru yang menyunggingkan senyum hangat, Usagi langsung mengukir senyum lebar tanpa curiga.
“Mama!” serunya riang. Menyangka sosok tersebut adalah mama—atau sosok yang ia inginkan menjadi mamanya.
Ketika ibu kandung anak tersebut masih sibuk memanggil-manggil di sudut taman lain akibat kelalaian sesaat, Irene sudah lebih dulu menggenggam jemari mungil Usagi. Dengan langkah tenang menuntun bocah itu keluar dari keramaian, membelokkannya ke dalam gang sempit yang remang.
Di sana, beberapa sosok kawan sekomplotannya telah menyambut.
Sebuah karung kulit besar yang kusam diseret keluar.
Usagi menatap benda tersebut dengan polos.. “Mama…” Kepalanya memiring. “… Bawa karung buat apa?”
Belum sempat pertanyaan itu dijawab, senyum ramah Irene masih terkembang ketika Satoshi Akira bergerak secepat kilat. Tanpa ragu, lelaki yang berbusana pelayan itu meringkus tubuh mungil Usagi, melesakkannya ke dalam karung kulit hingga terkunci rapat tanpa celah—layaknya mengemas jenazah. Tersenyum lebar.
“Langkah pertama: Culik Usagi-chan yang sedang bermain di taman, berhasil!”
Hanya Irene Mimosa yang bertepuk tangan untuknya sebagai selebrasi.
Tanpa membuang waktu, komplotan itu melompat naik ke atas kereta kuda yang sebelumnya telah disewa oleh Rin Heartbeat. Sang kusir memecut kuda-kudanya, kabin mewah dengan tempat duduk empuk melesat membelah jalanan utama Kerajaan Voltaire yang kian padat dan bising. Begitu ramai oleh lalu-lalang warga Optima.
Suara rontaan dan tangis ketakutan dari dalam karung kulit membuat suasana di dalam kabin kereta terasa begitu menggepit dan canggung. Bocah di dalamnya terus menjerit memanggil sosok “Mama”—yang ironisnya kini tengah duduk mengelus-elus karung kulit tersebut dengan kasih sayang palsu.
Di sudut lain, Rin Heartbeat tak mampu membendung kekesalannya. Sejak awal eksekusi, ia sebenarnya telah keberatan dengan apa yang dilakukan oleh kawan-kawannya.
Dengan mata menyala gusar, gadis berambut perak itu menyambar kerah kemeja pelayan milik Akira, menariknya kasar. “Kau ini benar-benar gila, ya?!” Bentak Rin dengan suara bergetar. “Bukankah aku sudah bilang, jangan gunakan cara-cara kriminal yang norak begini untuk mengamankan anak itu?!”
Kabin menjadi hening sebentar.
Akira mengangkat kedua tangannya ke udara, memasang gestur menyerah yang tampak tak bersalah. “A… Apa yang kau katakan, Rin-san?” Mencoba berdalih. “Gadis kecil itu sendiri yang mendatangi Irene dengan sukarela, bukan? Kita sama sekali tidak bisa disalahkan apabila—“
“—Lalu fungsi karung ini untuk apa, hah?!” Rin memotong, salah satu tangannya menarik ujung karung dengan agak keras.
Akira terdiam sejenak.
Seringai tipis yang terpatri di bibirnya mendadak kaku saat ia memutar otak mencari alibi. “Ah… soal benda ini?” Ia tertawa kecil tanpa dosa. “Coba bayangkan, kalau ada warga kota yang melihat kita berjalan santai memboyong putri Tuan Kleeve, rencana penyelamatan kita akan berantakan sebelum dimulai, bukan?”
Kedua alis tebal Rin menukik tajam. “Rencana omong kosong!” Tangannya mengencangkan cengkeraman pada kerah Akira.
“Jika sampai berita ini bocor ke Kota Navy dan orang-orang tahu aku terlibat dalam aksi penculikan anak, statusku sebagai bangsawan terhormat bakal hancur dalam sekejap, tahu!”
“Ara~ Rin-chan…” Irene menimpal santai dari sudut kabin, jemari lentiknya menepis udara. “Tidak perlu emosi sampai seperti itu. Nanti kau bisa cepat tua.”
Rin menoleh ke arah Irene dengan raut merana. “Bahkan…” Ia tampak sangat sedih sekaligus geram. “Bahkan Irene-chan sudah tercuci otaknya oleh manipulasi pelayan licik ini?! Sungguh keterlaluan!”
Irene mengacungkan jari telunjuk, mengayun-ayunkannya di udara seolah sedang mengajari anak kecil. Berkata lembut. “Coba berpikirlah secara jernih, Rin-chan.” Senyumnya mengembang manis. “Bukankah niat dasar kita berangkat ke sini sangat mulia? Kita ingin mendahului pembunuh bayaran yang menargetkan Usagi-chan sebelum nyawanya melayang diambil orang. Harusnya kau bangga bisa berpartisipasi dalam misi penyelamatan ini.”
“Tapi aku merasa dikerjai!” tembak Rin sengit, tetap tak mau melepaskan Akira. “Jangan-jangan desas-desus pembunuhan itu cuma karangan lelaki brengsek ini saja dan kita sedang dimanfaatkan?! Kau setuju denganku kan, Ov Vanguard?”
Di bangku depan, seorang pemuda berambut pirang yang sejak tadi sibuk menatap hilir-mudik pemandangan kota di balik jendela kaca hanya mendengus pelan. Ov terkejut saat Irene secara tiba-tiba mencubit lengannya dengan lembut. Menoleh lambat. “Oh.” Gumamnya, pelan.
Mata pria itu berkedip polos. “… Ada apa?”
Bahu Rin melorot seketika. "Bahkan Ov pun tidak peduli padaku!"
Dengan rintihan frustrasi yang terdengar seperti anak kecil mengamuk, Rin melepaskan cengkeramannya dari kerah kemeja Akira. Hempasan dadakan itu membuat si pelayan hilang keseimbangan dan jatuh terduduk di atas lantai kayu kabin sambil meringis pelan.
“Aduh…”
Tanpa ragu, Rin melangkah nekat menuju pintu kereta yang melaju kencang, berniat melompat keluar ke tengah jalanan demi memutus kegilaan ini.
Namun, Irene bergerak lebih sigap. Jemari lemasnya mencengkeram pergelangan tangan Rin, menahannya sembari tersenyum manis.
“Ara, Rin-chan…” Suara riangnya selalu terdengar menghanyutkan. “Kalau kau nekat melompat dari sini, tindakan kita justru akan makin mencolok lho~? Jika memang ingin mengakhiri hidup, lakukan saja setelah semuanya selesai, ya~?”
Rin memejamkan mata erat-erat. Ia berusaha meratapi kemalangan nasibnya saat Irene dan Akira bekerja sama menarik tubuhnya kembali ke dalam kabin. Menggagalkan aksi melompat pasrah keluar kabin.
“Siapa pun…” Jerit Rin dalam hati yang tertahan di tenggorokan, “… TOLONG SELAMATKAN AKU DARI KELOMPOK ORANG-ORANG GILA INI!!”
***
Bayangan Rin tentang lokasi pertemuan adalah sebuah benteng rahasia milik komplotan tentara bayaran elit atau pasukan militer khusus milik kerajaan. Namun, ketika kereta kuda mereka berhenti di sebuah kawasan perkebunan yang terisolasi—dihiasi beberapa gubuk anyaman bambu yang lapuk—realita di hadapan mereka sama sekali berbeda.
Di sana, menyandar santai pada tiang gubuk, berdiri seorang pemuda berusia awal dua puluh tahun. Penampilannya serba hitam: dari rambut, manik mata, hingga mantel tebal yang membalut tubuhnya. Di pinggang kirinya terselip sebilah katana dengan tsuba berukir rumit. Sorot matanya dingin, tajam, dan penuh intrik—menegaskan secara instan bahwa ia bukan pemuda biasa.
SET
Satoshi Akira turun dari kereta setelah melunasi ongkos kusir. Ia menepuk bahu pemuda serba hitam itu dengan sangat akrab, memimpin rombongan menuju gubuk penyimpanan hasil panen yang sepi.