Violet Omnius tersedak hebat.
Dadanya naik-turun memburu saat kelopak matanya terbelalak menembus kegelapan.
Angin dingin yang merayap di kulitnya membawa kesadaran yang teramat aneh—seolah ia baru saja merayapi danau tak berdasar yang gulita dan pekat.
Beberapa saat lalu, inderanya memang mati total. Namun kini, pandangannya yang mulai terang menangkap empat sosok yang menatapnya dengan binar bahagia. Berseru-seru girang. “A—Aku tidak percaya ini…!” Ujar suara sosok tersebut.
“Akhirnya kau bangun, Violet-san! Syukurlah!”
Fionna Vagust menjadi orang pertama yang menyerbu, menubruk tubuh Violet dengan pelukan erat. Kacamata bundarnya terhimpit miring di wajah. Lengannya mencengkeram erat punggung berambut ungu itu.
Violet yang masih linglung berusaha memberontak. “Woi, woi! Apa-apaan ini?! Lepaskan aku!” Tapi tenaganya masih terlalu lemah untuk melepaskan diri.
Tak mau kalah, Haya dan Maya ikut menubruk, mendekap Violet dan Fionna sekaligus dalam satu pelukan masif.
“Violet-saaan! Kami kira Anda sudah tidak bisa diselamatkan lagi! Kami janji akan menjadi bawahan yang bekerja lebih baik untuk andaaa!”
Violet tidak peduli, membentak setengah sesak. “Tu—Tunggu dulu! Dimana ini?!” Ia mengibaskan tangan untuk membebaskan jalannya napas. Matanya menyapu sekeliling—sebuah kamar tidur yang amat sederhana.
Terkaget.
“Bu—Bukankah tadi kita masih ada di ibukota?!” Tanya wanita tersebut. “Ke mana perginya para bajingan Malaikat Hitam itu?! Kita harus memburu mereka dengan segera!”
“Tenanglah, Violet-san. Situasi sudah terkendali,” Master Azaroth, sang jenderal militer, memotong dengan suara beratnya. “Anggota inti organisasi tersebut sudah kabur. Ibukota berhasil kita amankan kembali. Saat ini kita berada di perbatasan kerajaan sebelah selatan, di kediaman Nyonya Gleen Mimosa yang jauh dari keramaian dunia. Tempat ini aman.”
Suara Violet mendadak tercekat di tenggorokan. “Nyo—Nyonya Gleen?!”
Firasat buruk merayapi tengkuknya. Nama tersebut sontak membuatnya menelan ludah dengan susah payah. Terbata-bata. “Ja—Jangan bilang… beberapa saat lalu… Aku sebenarnya sudah—”
“Ding-Dong~! Tebakan yang sangat cerdas, Violetku yang nakal!”
Sesosok wanita muncul dari sudut remang ruangan bak hantu yang bangkit dari kubur. Gleen Mimosa berdiri di sana dengan sunggingan senyum yang teramat manis—dan mengerikan. Ikut memeluk Violet dari belakang.
“Kau sebenarnya sudah mati seminggu lalu, lho?! Dan selama seminggu itu, kau menumpang di rumah gurumu ini sampai suamiku kelimpungan!” lanjut Gleen dengan nada riang. “Nah, sebagai hadiah atas kebangkitanmu…”
Ia mengepalkan tangannya.
“…ini adalah bogem mentah yang penuh dengan kasih sayang~!”
Sihir Cahaya Suci: Pukulan Tanpa Rasa Sakit!
BUAAAK!
Fionna terbelalak. Tanpa ampun, tinjuan presisi itu meluncur deras, mendarat telak di pipi kanan Violet. Tubuh Kepala Akademi Omnius terpelanting hebat, menghantam dinding kayu hingga retak seribu.
Rumah sederhana itu berguncang seolah dihantam gempa lokal.
Haya refleks menutup mulutnya, menjerit ketakutan, “Me—Mengerikan, Haya!”
Saudara kembarnya memutuskan tak ikut mengomentari.
“Aduh-duh…” Violet meringis, sembari berusaha mencabut tubuhnya dari rekahan dinding kayu, ia mengaduh kesakitan.
Mengeluh dalam hati.