Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #106

Sang Peniru Part 4 Epilog: Sesuatu Di Dalam Hoshigiri Rin

“Kakak… di mana ini?”

Suara lirih seorang gadis bergetar, memecah kesunyian yang menggantung di sudut-sudut Benteng Tsukimi-Jo. Benteng perkasa itu kini tak lebih dari reruntuhan yang hancur berantakan.

Seluruh prajurit penjaga tewas mengenaskan dalam berbagai posisi merana. Lidah-lidah api yang masih menjilati beberapa sudut benteng menjadi satu-satunya penerangan di tengah pekatnya malam—memantulkan pendar merah pada genangan darah yang berbaur dengan potongan tubuh manusia.

Di tengah pembantaian itu, Theodora Aether perlahan terbangun. Kesadarannya baru saja kembali setelah kekuatannya sendiri meluap tanpa kendali. Dengan mata linglung, ia menatap sosok kakaknya yang terkulai tak bergerak di pangkuannya.

Wajah sang kakak pucat pasi, dihiasi jelaga dan lumuran darah.

Apa yang sebenarnya terjadi di sini?

Sudah berapa lama ia tertidur?

Mengapa kakaknya terluka separah ini hingga tak mampu menyahuti panggilannya?

Kepala Theodora kosong. Ia sama sekali tidak mengerti.

Cahaya rembulan menembus kepulan debu dan asap tebal, menyepuh tubuh kedua bersaudara itu dalam bayang-bayang pilu.

Dengan sisa tenaga dari fisiknya yang ringkih dan kurus, Theodora berusaha menggendong tubuh kakaknya. Langkah kakinya gontai, terseret di atas tanah yang dipenuhi puing tajam.

Ia mengigit bibir erat-erat, menahan rasa perih dari lukanya yang terkena percikan api, sembari sekuat tenaga menahan tangis yang siap meledak.

“…Tidak… Jangan… Kak Ely…” meringis kesakitan, matanya yang sehitam jelaga mulai berkaca-kaca.

Sebulir air mata jernih menetes dari dagunya, jatuh menimpa pipi sang kakak yang kaku.

“…Setelah aku akhirnya terbangun… jangan malah Kakak yang tertidur sekarang, bodoh!”

***

Di tempat yang berbeda, di bawah hamparan langit utara yang tak bersahabat.

“A—Are? A… apa yang kulakukan di sini?”

Hoshigiri Rin terperanjat. Kedua mata hitamnya berkedip seperti terbangun dari sebuah mimpi.

Ia mendapati dirinya sedang duduk meringkuk di dekat api unggun.

Beberapa tusuk daging kelinci berbalut rempah tampak terpanggang di atas bara, menghembuskan aroma gurih yang hangat.

Namun, kondisi tubuh Rin berbanding terbalik dari ketenangan yang ada. Yukata birunya robek di berbagai sisi. Darah kering mengerak di beberapa titiknya.

Dengan pakaian yang tidak menutupi seluruh tubuh tersebut, udara malam yang menggigit langsung menusuk kulit gadis pewaris dojo Hoshigiri, membuatnya menggigil hebat sebelum akhirnya menggeser duduk lebih dekat ke sumber panas. Menghela napas lega sejenak.

“Ah… Hangatnya…”

Manik matanya yang polos lalu menyapu hamparan salju luas di sekelilingnya.

Lihat selengkapnya