Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #107

Sang Peniru Part 5: Kebangkitan Para Pahlawan--prolog

“Luna, tahu tidak kalau sihir itu ibarat bara api? Sangat berguna, tapi kalau digenggam terlalu besar dan lama—api itu malah bakal membakar dirimu sendiri.”

Ratu Avelorn berucap lirih sembari menyisir lembut rambut putrinya. Mereka berdua bersantai di atas ranjang. Cahaya matahari pagi menembus kaca jendela yang bening, membiaskan pendar hangat di wajah sang ratu yang pucat namun menawan dengan lesung pipinya.

Di dinding kamar yang megah itu, terpajang beberapa lukisan pendahulu dari Benua Terlarang. Lantainya dilapisi karpet putih tebal yang empuk. Dua pelayan berdiri patuh di dekat pintu—siap menjalankan perintah kapan pun dibutuhkan.

Mendengar itu, sang putri mahkota, Luna Avelorn, menoleh dengan mata membulat. “Be… Benarkah?” Suaranya patah-patah. “Kekuatan sihir… Bisa membakar kita kalau dipakai terus-terusan?”

Sang Ratu yang mengenakan mahkota berlian mengangguk anggun. Helai rambut di dekat telinga runcingnya bergoyang halus. “Tentu saja.”

Ia melanjutkan.

“Itu bentuk keadilan alam agar semua orang berhati-hati dengan kekuatan mereka sendiri. Contohnya… kisah Lima Pahlawan.”

Suasana kamar berpelindung sihir itu hening sejenak.

Angin pagi yang sejuk menyusup dari celah jendela, menerbangkan poni putih pucat milik Luna.

“Lima Pahlawan?” bisik Luna pelan. “Maksud Ibu… Para penyihir legendaris dari Kerajaan Voltaire?”

“Iya,” jawab sang ratu. Telinga runcingnya bergerak sedikit. “Kisah mereka adalah pelajaran berharga agar kita tidak gampang tergiur kekuatan besar dan tetap tahu diri.”

Wanita anggun yang secara fisik masih terlihat amat muda itu menjelaskan lebih lanjut.

“Dulu, kombinasi mereka berlima amat menakutkan bagi umat manusia. Bangsa kita yang dicintai roh sihir pun tak akan sanggup menandingi penyihir-penyihir itu, apalagi ras lain. Akan tetapi, setelah berhasil menumbangkan Raja Iblis Luminous Vornhold dan pasukannya, kelakuan mereka tiba-tiba berubah aneh. Mereka kehilangan kendali atas tubuh sendiri, digerogoti oleh kekuatan yang asing dan mahadahsyat.”

“Senjata makan tuan. Itulah takdir tragis yang dialami oleh para pahlawan itu.”

Hening kembali merayap.

Menerima informasi yang begitu berat, Luna menelan ludah dengan susah payah. Pelipisnya dibasahi keringat dingin.

“Lantas…” Katanya. “… Apa yang terjadi pada mereka setelah dikuasai sihirnya sendiri?” Tanya Luna, ragu.

Ukiran senyum tipis terulas di wajah sang ratu.

“Mereka saling bunuh.” Jawabnya, singkat.

Matanya yang jernih menerawang jauh ke luar jendela, seolah memutar kembali kengerian ratusan tahun silam.

“Kelima pahlawan agung itu akhirnya tewas di tangan sesama manusia. Mereka diburu lewat misi rahasia kerajaan, lalu dikubur secara terpisah dan tersembunyi agar jasadnya tidak disalahgunakan.”

Sang Ratu selesai menata rambut putrinya agar tampil memukau pada upacara pemberkatan di alun-alun ibu kota. Wajahnya memancarkan rasa bangga.

“Mungkin guru privatmu tidak akan pernah menceritakan hal ini, tapi begitulah sejarah kelam yang sebenarnya, Luna.”

Luna tertegun sebentar. “Guru privatku…”

“… Tidak akan pernah menceritakannya?”

Sang ibu mengangguk pelan sembari bangkit dari ranjang. Ia menepuk-nepuk gaun panjangnya yang sedikit kusut, lalu merapikan penampilannya di depan cermin.

Sebelum melangkah mendekati dua pelayan di depan pintu, sang ratu teringat sesuatu dan menoleh tipis. “Ah, tapi kita kaum Elf tidak perlu cemas, karena kita adalah bangsa yang dicintai roh.”

Lihat selengkapnya