Hutan rindang antah-berantah itu menjadi saksi bisu lokasi Ov Vanguard ‘pertama’ melarikanku dari amukan kembarannya yang jahat.
Tubuhku remuk redam oleh rasa lelah yang amat sangat.
Di sela-sela napas terengahku, bayangan Irene Mimosa memamerkan senyuman tengil—baru saja merampungkan proses membangkitkanku dari kematian untuk yang ke-25 kalinya. Membuka bibirnya yang merah.
“Bagaimana~?” Tanya wanita tersebut.
“Jalan-jalan ke jurang kematian… Cukup menyenangkan, bukan~?”
Aku tidak sempat menanggapi jahilan seperti itu. Melepaskan pandanganku ke sekitar. Sedikit trauma akan kematian yang baru saja menimpaku.
Setahun berlalu sejak aku mulai berlatih di bawah bimbingan Ov Vanguard dan Irene Mimosa.
Dengan pengajaran tanpa henti dan brutal yang dilakukan si pria pirang, aku mengasah diriku mati-matian hari demi hari. Meniru setiap jurus sihir, cara bertarung dan pergerakkan yang dilakukan oleh legenda kerajaan Voltaire tersebut. Memulihkan kembali sihirku yang baru saja dirampas—bahkan jauh lebih kuat daripada sebelumnya.
Ov Vanguard tak hanya menjadi sekedar mentor sihir.
Ia juga menanamkan prinsip-prinsip dasar pertarungan di medan perang, memberitahu apa saja yang harus dilakukan jika terjadi A atau B, menganjurkanku menguasai sebuah senjata jarak dekat yang efektif dan fleksibel. Katanya, kelemahan terbesar para penyihir selalu identik: tidak bisa berkutik ketika didekati oleh gerakan cepat.
Aku mengamini perintahnya tersebut. Akan tetapi, yang kulakukan sedikit berbeda daripada yang ia minta.
Daripada hanya satu, aku mempelajari beberapa senjata sekaligus.
Busur silang, pedang panjang, sepasang belati, hingga senapan laras panjang—semuanya berhasil kukuasai berkat latihan panjang yang menguras tenaga.
Pangeran tampan itu memiliki koleksi senjata yang melimpah di dalam dimensi khusus yang ia sebut sebagai ‘Penyimpanan Praktis’—ruang penyimpanan yang bisa diakses kapan saja ia mau. Dari sana, aku bisa mencoba berbagai senjata terdahulu yang meski terlihat agak kuno, memiliki kualitas yang wajib diberikan pujian.
Sore itu, setelah aku dihidupkan kembali oleh Sang Penyelamat Irene-san, suasana mendadak serius.
Ov berdiri tegap di hadapanku—dingin, sedikit angkuh, namun memancarkan wibawa alami. Sorot matanya menghujam tanpa ampun. Ia berucap singkat.
“Waktu kita tidak banyak,”
Langsung memberikan ketegangan yang membuat bulu kuduk meninggi.
Aku menelan ludah.
Tempias surya senja memanjangkan bayang-bayang kami di atas tanah.
“Mulai sekarang, kita melanjutkan latihan sambil bergerak, Amuro-kun. Rencananya sederhana: kita buru satu demi satu jasad kawanku yang dikubur terpisah oleh kerajaan-kerajaan terdahulu dan menjadikan mereka sekutu untuk menumbangkan diriku yang jahat.”
Gagasan itu sebenarnya terdengar mengerikan. Akan tetapi, karena sekarang Ov adalah sosok yang telah menyelamatkanku dari ambang kematian sekaligus guru sihirku untuk saat ini. Aku tidak berniat memprotes atau mengomentarinya seperti dahulu. Percaya penuh.
Kepalaku mengangguk pelan.
“Kalau begitu…” Ujarku.
“… Mereka akan dibangkitkan dengan cara yang sama seperti Irene-san?”
Ov menyilangkan kedua tangan di dada, mengangguk mantap. “Benar.”
Menerangkan.
“Firasatku berkata bahwa sekarang musuh akan menghentikan aksi teror mereka untuk sementara waktu. Di saat mereka masih sibuk merencanakan sesuatu begini, kita harus mengamankan setiap jengkal kekuatan yang ada, Amuro-kun. Kesempatan tidak akan datang dua kali.”
Mataku menerawang ke balik pepohonan. “Musuh yang kau maksud…” Suaraku tertahan.”… Adalah lelaki yang merampas kekuatanku waktu itu, bukan?”
“Siapa lagi kalau bukan dia?” Ov mengalihkan pandangan.
“Meski kita tak boleh menutup mata dari kemungkinan munculnya pihak ketiga—yang jelas, kau harus siap menerjang segala rintangan di depan, Amuro-kun. Esok hari akan ada banyak orang yang menitipkan harapannya kepadamu. Kau harus siap semaksimal mungkin.”
Aku mengepalkan kedua tangan erat-erat. “A… aku mengerti!”
Ov memberi isyarat agar Irene Mimosa mundur.
Setelah jarak mereka dirasa aman, pangeran berambut pirang itu melingkupi area kami dengan selaput pelindung kedap suara baru yang tebal agar dampak latihan tak meluber keluar.
Lingkaran-lingkaran sihir beraneka warna mulai berpendar mengelilingi tubuhnya.
Sapuan angin lembut membelai anak rambutku.
Waktu istirahat telah usai.
Aku bangkit, memancing munculnya lingkaran sihir serupa di sekeliling.
“Jika kau sudah paham…” Ov menatapku lurus.
“… Mari kita lanjutkan.”
Kuda-kudaku terpasang kokoh, menancap di atas tanah. Mataku mengunci setiap gerak-gerik Sang Peniru dengan konsentrasi penuh, menyelaraskan napas demi meredam gejolak gugup. Simulasi pertarungan hidup-mati siap meletus.
Dari kejauhan, Irene bertepuk tangan riang. “Semangat, Amuro-kun sayang~! Jangan sampai kalah dari musuhmu~!”
Ov menggertakkan rahang, memancarkan aura membunuh yang pekat. Dari gesturnya, ia pasti berniat langsung menyerang tanpa ampun—sangat agresif.
Ia menggeram.
“Tunjukkan hasil latihanmu yang membosankan itu kepadaku…”
“…Takagi Amuro!”
***
Sementara itu, di sudut lain dunia.
Lucian Voltaire baru saja menyapu bersih sarapan sederhananya di sebuah kedai milik sahabat, membayar tagihan di kasir, dan berjalan-jalan tatkala sosok bertudung hijau berpas-pasan di sebelahnya.
berbisik cepat di dekat telinga.
“Misi baru untuk Anda, Lucian-sama.” Katanya, lirih.
“Perintah langsung dari Ayahanda.”
Lucian membalas berbisik tanpa mengubah raut wajah. “Aku paham.”
“Kumpulkan semua orang di lokasi biasa.”
Sosok bertudung mengangguk singkat lalu melangkah pergi, melebur bersama keramaian kota.
Dalam satu tahun terakhir, ibu kota Kerajaan Voltaire perlahan memulihkan diri dari serangan mematikan Malaikat Hitam. Denyut kehidupan kembali terasa di pasar-pasar yang bising oleh tawar-menawar. Kereta kuda milik para bangsawan melintas membelah jalanan batu, dikawal para pelayan dan pengawal pribadi.