Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #109

Muslihat Para Remaja

Benda itu akhirnya dikeluarkan oleh sang arsitek rencana gila, Satoshi Akira.

Ukurannya memang tidak terlalu besar, tetapi kilauan yang ia miliki begitu memanjakan mata—tampak jauh lebih padat, dan mengilap dibanding sekadar baja biasa. Nyonya Kleeve, Johan si pembunuh bayaran, hingga Irene dan Ov dibuat terperanjat seketika oleh benda tersebut. Bahu mereka gemetar.

“Ba… Barang yang kau pegang itu…” Nyonya Kleeve, yang tadinya bertindak begitu sinis dan dingin, mendadak menelan ludah ketakutan. “Jangan-jangan…”

“… Permata Biru Lumina Frost?!”

Akira membuang pandangannya santai. “Entahlah… Aku juga tidak tahu ini asli atau bukan.” Seringainya mengembang usil. “Tapi, aku baru saja membelinya dari seorang kolektor barang ilegal di ibu kota—keren bukan?”

Rin Heartbeat masih sempat menyemprot dari belakang. “Tidak perlu dijelaskan juga, Bodoh!”

Tuan Johan berkeringat dingin saat pemuda di depannya menyodorkan benda biru bening nan berkilau indah tersebut kepadanya. Ia kembali melontarkan penawaran licik.

“Jika kau bersedia membelot pada kami, Tuan Johan…” Kata Akira, diplomatis. “… Benda ini resmi jadi milikmu.”

“Jo—Johan! Jangan dengarkan dia!” Nyonya Kleeve mulai panik. Pengalamannya di dunia bawah tanah mengajarkan bahwa kesetiaan di tempat ini sangat murah—siapa pun bisa berpindah pihak demi keuntungan yang lebih besar.

“Jika kau tetap patuh padaku dan menghabisi para remaja ini, seluruh harta di kereta kuda akan jadi milikmu!”

Ov dan Irene saling pandang sejenak. Ternyata kabar mengenai harta di dalam kereta itu memang bukan sekadar isapan jempol.

“Whoa! Takutnya~!” Akira mengejek dengan nada dramatis, pura-pura merinding. “Kalau begitu… jika kau memilih membelot pada kami, permata ini beserta seluruh harta di kereta dapat kau bawa pergi. Harta di dalam kereta kuda itu… Sebenarnya sudah menjadi milik kami—apakah aku salah?”

Wanita bangsawan berambut pirang membentak. “Bocah sialan!”

Ia mencengkeram kerah baju Johan tinggi-tinggi—tindakan nekat bagi seorang wanita di hadapan pembunuh bayaran. “Tetaplah di pihakku dan bunuh mereka, Johan! Berapa pun bayaran yang kau minta, akan kubayar nanti dengan simpanan hartaku di rumah! Kau mengerti?!”

CRAT!

Tusukan itu begitu lembut dan tanpa hambatan.

Saat Nyonya Kleeve masih sibuk menaikkan tawaran, bilah tajam tiba-tiba telah menembus perutnya. Rasa sakit luar biasa menjalar hingga ke ujung jari. Tubuh wanita berpakaian mewah melayu lemas, menyaksikan genangan darah hangat membasahi tanah di sekeliling sepatu hak tingginya.

Sosok tersebut sudah tak sanggup bersuara saat si pembunuh bayaran menarik belatinya yang berlumuran darah. Kehabisan kata-kata untuk membujuk-rayu. Perlahan kehilangan kekuatan untuk menopang beban tubuh.

Johan mendesis dingin. “Kau pikir aku bisa kau bodohi lagi, Wanita Tua?”

CRAT!

Tanpa ampun, Johan menggorok leher wanita yang mencengkeram kerahnya hingga tembus.

Lihat selengkapnya