Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #110

Pahlawan Yang Terdampar Di Negeri Orang

“Misi kita… adalah menumpas seluruh anggota Malaikat Hitam?”

Lucian Voltaire mengulang kembali ucapan Albert—sang agen bertudung hijau yang mengaku baru saja dipanggil menghadap Raja—dengan hati-hati. Di dekatnya, Noelle—si gadis elf berambut perak—bersedekap sembari menyipitkan mata sinis.

“Kenapa?” tanyanya dingin. “Kau takut?”

Lucian menundukkan kepalanya sebentar.

Demi mempertahankan wibawanya di hadapan para bawahan yang ia rekrut dari berbagai belahan benua, ia tidak mungkin mengakui kebenaran yang tersembunyi di dalam diri, membusungkan dada dan berdehem keras. “Te—Tentu saja tidak!”

Gadis berambut perak melirik ke arah sang agen. “Albert,” panggilnya dengan suara yang sengaja dikencangkan. “Orang itu ketakutan, benar?”

Albert hanya tertawa hambar seraya mengibaskan tangan. “Hahaha…” Nadanya benar-benar dipaksakan. “Sepertinya begitu.”

“A—Albert!” pangeran Kerajaan Voltaire, memprotes geram. “Kau membelot pada kaum bertelinga runcing ini?!”

“Anu…” Finn, bocah dari bangsa dwarf, dengan tidak sengaja memotong ucapan Lucian, mengangkat tangannya setinggi bahu.

Spontan, perhatian semua orang teralih padanya.

“…Malaikat Hitam itu…” Kata Finn takut-takut. “… Bukankah organisasi kriminal paling berbahaya di Kerajaan Voltaire?”

Albert Gradieve bertatapan dengan Lucian sebelum mengangguk pelan. “Benar sekali, Finn-kun.”

“Ada apa?”

Bocah dwarf itu memalingkan pandangannya ragu, suaranya bergetar. “Ti—Tidak ada apa-apa!” Akunya. “Aku hanya berpikir… apakah kelompok kita yang hanya berjumlah tujuh orang ini benar-benar mampu melawan mereka semua, atau jangan-jangan malah berakhir seperti menjalankan misi bunuh diri—”

“—Oohohohoho! Jadi itu yang membuatmu begitu khawatir?!”

Tawa melengking mendadak menyela ucapan Finn Humberg, menggema di sudut markas rahasia yang megah. Seorang gadis yang mengenakan gaun ballgown ala Cinderella—lengkap dengan bahu terbuka dan rok melebar—bangkit dari duduknya. Ia menutupi mulut mungil dengan kipas biru yang terentang, sementara mahkota berlian murni berkilau di atas kepalanya yang terguncang oleh tawa.

Gadis itu mengacungkan kipasnya ke arah Finn. Bertanya sedikit mengancam. “Apakah kau baru saja meremehkan kelompok agung ini… Wahai bangsa dwarf yang malang?”

Finn buru-buru mengoreksi kalimatnya. “Bu—Bukan itu maksudku!” Kali ini suaranya lebih tegas. “Hanya saja, berdasarkan informasi yang kita terima, para penyihir hebat dari Akademi Omnius pun tidak sanggup melumpuhkan orang-orang berjas hitam itu, bukan? Lalu bagaimana dengan kita?”

Gadis bergaun indah kembali tertawa melengking, membuat Lucian dan segenap anggota rapat menghela napas berat secara bersamaan.

“Bagaimana dengan kita… katamu?!” tanya gadis itu jumawa. “Kita tinggal memanggil bala bantuan dari luar!”

Air liur gadis berbusana mewah muncrat ke mana-mana.

“Dengar ya.” Lanjutnya. “Di hadapan kalian ini, sudah berdiri putri mahkota Kerajaan Aurelion yang bergelimang harta! Jika memang dibutuhkan, kita bisa menyewa seluruh pasukan tentara terbaik di dunia untuk menyukseskan misi kali ini! Bagaimana?! Kalian tertarik untuk memanfaatkanku sekali lagi, bukan?!”

Lihat selengkapnya