“Seperti yang sudah kuprediksi! Karena merasa berutang budi pada kita berlima yang telah menyelamatkan putrinya, Tuan Kleeve dengan senang hati mengabulkan satu permintaan apa pun dari kita! Bagaimana? Rencanaku sangat brilian, bukan?!”
Satoshi Akira tidak ada habisnya memuji diri sendiri. Di ruang tamu kediaman keluarga Heartbeat, rombongan keluarga Kleeve—tentu tanpa sang nyonya berwajah seram—baru saja pulang setelah menyampaikan rasa terima kasih mendalam.
Hari ini, Reugen Doughlas juga diundang untuk merayakan keberhasilan sang perancang strategi.
“Jadi, Rin-san…” Akira sengaja memelankan suaranya, memancing. “… kau mau memaafkanku, kan?”
“Tidak akan pernah!” Sambil mendengkus keras dengan pipi membusung sebal, gadis berambut perak berselimut gaun ungu glamor itu menggeleng tegas. “Kalau kali ini kumaafkan, kau pasti bakal berulah lagi!”
Akira mengangkat kedua tangannya santai. “Astaga… tampaknya dugaanmu padaku terlalu melenceng, Nona Muda.”
Rin Heartbeat berseru sengit, “Pokoknya, aku tidak mau keluargaku diseret ke dalam bahaya besar lagi! Tidak mau!”
“Sayangnya, Rin-san… Itu adalah hal yang tak terhindarkan.”
“Makanya aku menolak!”
Ketika si gadis tuan rumah terus berdebat dengan pelayannya sendiri, dari balik tangga spiral menuju lantai dua, Nyonya Flaa—ibu Rin—melangkah turun sambil menutupi mulutnya. Senyumnya mengembang lebar.
“Ara, makin hari kau makin dekat saja dengan Akira-kun, Rin-chan?” Kata wanita tersebut. “Padahal… sebelum ini kau sangat anti pada spesies bernama laki-laki.”
Wajah Rin seketika merah padam, terasa panas membakar. Menoleh dengan tubuh gemetar. “I—Ibu!” Serunya. “Tega sekali bicara begitu pada anak sendiri!”
“Tapi itu benar, kan?” Nyonya Flaa melangkah mendekati area ruang tamu yang dihiasi susunan sofa krem. “Kalau kau mau… Ibu dan Ayah tidak keberatan menikahkanmu dengan Akira, kok—jika kalian memang saling memendam rasa. Apa yang sering muncul di dalam buku cerita remaja? Cinta majikan dan pelayan.”
Kali ini, bukan hanya wajah Rin yang memerah—melainkan telinga hingga kedua bahunya. Ia menjerit histeris, “I—IBU!!” Gadis itu buru-buru mengalihkan pandangan pada pelayan 'setia'-nya.
“Akira-kun! Lakukanlah sesuatu!”
Sayangnya, Rin meminta pertolongan pada orang yang salah.
Dengan wajah angkuh yang dibuat-buat, Satoshi Akira malah manggut-manggut sembari memijat dagunya sok berpikir. “Hmm…” Ia mendengus. “… Akan kupertimbangkan.”
“AKAN KUPERTIMBANGKAN JIDATMU!”
Rin Heartbeat meledak. Ia melompat dari sofa, menerkam dan menabrak Akira hingga pemuda itu telentang di sofa—tertindih sepenuhnya di bawah tubuh Rin.
Irene yang menyaksikan aksi buas rekannya hanya memekik geli sambil menutupi wajah. “Rin-chan…” Ujarnya. “… Agresif sekali!”
“Kalau kau bersikap begitu!” Cerocos Rin dengan manik bening yang melotot tajam pada pelayannya. “Orang-orang bakal salah paham tentang hubungan kita, bodoh! Berpikirlah sedikit!”
Akira sama sekali tidak berniat melawan. Ia menyerah pasrah, meski mulutnya tetap menyahut. “Si… Sikap yang bagaimana?”