Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #112

PENDATANG AKADEMI YANG BEGITU MENCOLOK

Irene Mimosa membisu di tepi lapangan pelatihan sihir. Matanya tak berkedip menyaksikan sahabatnya, Ov Vanguard, bertukar serangan sihir sengit dengan kepala penguji murid akademi, Tuan Kleeve.

Siang itu, sang kepala penguji akhirnya berkenan menerima mereka berlima sebagai siswa khusus jika mereka, atau salah satu dari mereka ada yang berhasil menjatuhkan pria tersebut hingga tak dapat bertarung lagi.

Maka dengan senang hati Ov Vanguard maju, dan inilah yang terjadi.

Sihir Peniru: Tiruan Sihir Api: Bola Api

Sihir Peniru: Tiruan Sihir Besi: Tusukan Besi Runcing

Sihir Peniru: Tiruan Sihir Air: Gelombang Air

Lelaki pendiam itu memuntahkan berbagai elemen sihir sekaligus demi memojokkan Tuan Kleeve yang gigih bertahan di balik dinding tanah yang merepotkan. Tombak petir, tebasan angin, hingga bola api meluncur beruntun, Menciptakan rentetan ledakan yang menarik perhatian murid-murid lokal.

“A—Ada apa?!” Tanya seorang murid dari balik bahu kawannya yang mendekat ke jendela lantai dua.

Kawan yang dimaksud menyahut. “Ada pertempuran terbuka di lapangan!”

Di tengah jual-beli sihir yang sengit, bola mata Irene berpendar pualam oleh rasa kagum. Penglihatannya tak berhenti menyorot Ov yang bergerak dari satu sisi ke sisi lainnya demi mencari celah.

“O… Ov Vanguard…” gumamnya pelan. Menelan ludah dalam. “Sejak kapan… kau bisa menggunakan sihir?!”

Pemuda berambut pirang tak berminat menjawab. Ia melenting tinggi ke udara, lalu mengayunkan kedua tangannya menghantam ke bawah. Menciptakan beberapa lingkaran magis sekaligus. Mendesis, “Semuanya sudah selesai.”

SIHIR PENIRU: TIRUAN TUJUH ELEMEN KOMBINASI — PELANGI ELEMEN!

BUM! BUM! BUM! BUM! BUM! BUM! BUM!

Sejumlah tembakan artileri sihir dahsyat meluncur deras. Merasa tak perlu menahan diri lagi, Ov melepaskan apa yang ia sebut sebagai ‘tiruan sihir’ sebanyak tujuh elemen sekaligus untuk menggempur Tuan Kleeve di bawah.

Ledakan bertekanan tinggi pun melempar empat remaja yang menonton dari jarak dekat ke pinggiran lapangan. Di balik jendela kaca yang bergetar hingga retak, puluhan murid akademi berdesakan demi menyaksikan gaya bertarung tamu asing yang mengacak-acak sekolah mereka. Saling berseru sahut-menyahut.

“Si… siapa lelaki itu?!”

“Dia tampan sekali!”

Lihat selengkapnya