Aura hangat menyelimuti ruang utama gedung perserikatan siang itu. Suasana remang yang semula mencekam perlahan terkikis seiring kembalinya kesadaran Shirayaki Yukki. Manik matanya mengerjap pelan, membius pening yang memukul kepalanya setelah terbangun dari tidur yang melampaui garis kematian.
Tak ada yang menyangka, Anugerah Jiwa tingkat tinggi milik Irene Mimosa, yang sanggup menjangkau jasad berusia setahun, berhasil merajut kembali benang takdir yang sempat terputus. Hanya dalam satu helaan napas ajaib, empat nyawa yang gugur dalam pertempuran berdarah sebelumnya mendadak kembali menghirup nafas kehidupan.
"Wah, jangan-jangan..." suara Orihara Kanae yang khas langsung memecah hening. Pria itu berkedip, menatap Ikidori yang terbangun lebih dulu dengan cengiran tanpa beban. "... kita baru saja mati~?!"
"Jangan katakan hal mengerikan seperti itu dengan wajah ceria, Bodoh!" semprot Panglima Kedua Kerajaan, memijat pelipisnya yang mendadak pening.
Di sudut lain, Moris Wesley langsung memahami peta situasi saat mendapati diriku berjongkok sendirian di dekatnya. Irene-san sudah lebih dulu kuintruksikan untuk memasuki mode ‘menghilang’, lenyap tak berbekas di udara hampa, sementara Ov Vanguard masih bergeming dalam wujud transparan.
Si pria elegan membungkuk dalam-dalam. "Sebuah kehormatan luar biasa bisa diselamatkan olehmu, Amuro-kun.” Ungkapnya, begitu formal. “Aku bingung harus menyusun balasan seperti apa atas utang budi sebesar ini."
"Sederhana saja." Aku bangkit berdiri, mengebaskan debu dari mantelku. "Jangan pernah mengusik jalanku lagi—sampaikan teguran itu ke seluruh pejabat di kursi pemerintahan.”
“Karena mulai besok, langkahku akan mengayun ke perjalanan yang lebih jauh."
"Perjalanan jauh~?!" Orihara-san menjerit antusias, matanya berbinar. "Kalau begitu aku ikut~! Aku sudah muak setengah mati bekerja di bawah intrik kerajaan yang kotor ini~! Ajak aku, ya Amuro-kun?!"
"O-ri-ha-ra!" tegur Ikidori-san tajam. "Jaga wibawamu di depan seorang anak kecil!"
Panglima berambut merah itu merengut, bersedekap. "Ta—Tapi...” Ungkapnya. “… kenyataannya memang begitu, bukan?! Kalau Ikidori-san juga ingin cuci otak dan berlibur… Ayo kita bolos bersama-sama!"
"Jangan tarik orang lain ke dalam pusaran kebodohanmu!"
Di tengah percekcokan harian dua panglima, Yukki-san yang fisiknya suda stabil memanggil pelan. Matanya yang bening berembun. "Amuro-kun..."
Aku menoleh, menyambut tatapannya dengan seluruh ketulusan yang kupunya. "Benar, Yukki-san.”
Aku melayangkan sikap hormat seorang kesatria yang pernah diajari oleh Ov di sela-sela pelatihan.
“Ini aku, Takagi Amuro.” Kataku. “Maaf... aku terlambat kembali ke ibukota sampai-sampai kau harus melewati neraka ini, Yukki-san."
GRAB
Sebelum kalimatku tuntas, Yukki menabrakkan tubuhnya ke pelukanku. Dekapan itu begitu erat, disusul tangisannya yang pecah mewarnai sudut-sudut gedung perserikatan. Air matanya yang jernih menembus kain di bahuku, menyalurkan kehangatan napas dan getaran tubuhnya yang begitu nyata di kulit.
"Bodoh..." bisiknya di tengah isakan.
Aku bergeming, membiarkannya meluapkan segalanya.
"Membuat seorang wanita cantik menunggu selama ini..." Gadis berambut biru itu makin mengeratkan pelukannya. "... Amuro-kun benar-benar jahat."