Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #114

Negosiasi Yang gagal

“Aliansi yang akan membantu kita membasmi Malaikat Hitam… adalah bocah ini?”

Suara Lucian terdengar mengalun rendah di ruang rapat markas rahasia pagi itu. Sang pangeran—yang baru saja memenuhi panggilan darurat dan berlari ke markas rahasia—menatap tajam ke arah seorang remaja berambut hitam dengan bola mata merah menyala yang duduk tepat di hadapannya.

Keenam anggota pasukan khusus kerajaan memilih bungkam. Mereka duduk mengitari meja dengan tangan bersedekap, membiarkan pemimpin mereka mengambil alih percakapan.

Bocah itu—yang tak lain adalah diriku sendiri setelah berhasil dibujuk oleh sang raja—menatap balik tanpa berkedip dari atas kursi kayu. Ujung sepatuku mengetuk-ngetuk lantai marmer tebal dengan irama konstan yang dingin.

Pangeran Lucian kembali membuka suara, “Bocah ini… bukannya penyihir peniru yang baru itu? Takagi Amuro?”

“Aku memang Takagi Amuro,” sahutku singkat dan datar. “Apakah ada masalah dengan hal itu, Pangeran Lucian yang terhormat?”

Lucian menggeleng tegas. “Tidak, sama sekali tidak.” Katanya. “Justru sebuah keberuntungan jika tim kami mendapatkan penyihir dengan kekuatan legendaris.” Ia menggantung kalimatnya sejenak sebelum tangannya gemetaran mengangkat selembar kertas kontrak yang baru saja kuberikan. “Yang jadi masalah adalah…”

“… Mengapa di sini tertulis bahwa seluruh anggota pasukan khusus harus tunduk di bawah perintahmu?”

Wajah pangeran muda itu tampak masam. Harga dirinya jelas terluka karena harus berhadapan dengan bocah 13 tahun yang dianggap masih hijau di medan tempur. Namun, aku bukan lagi Takagi Amuro yang lemah—bukan lagi sosok yang bisa dengan pasrah didikte oleh orang lain.

Aku mendengkus pelan. “Aku sudah empat kali terlibat dengan organisasi Malaikat Hitam,” ujarku dingin. “Bagaimana dengan kalian?”

Hening.

Kalimat pendek itu seketika membungkam seluruh ruangan—tak terkecuali Albert Gradieve yang tadi malam menemuiku bersama sang raja di bawah pengawalan ketat.

Aku melanjutkan, “Anggota aliansi yang paling memahami peta kekuatan, gaya bertarung, dan pergerakan musuh… bukankah sangat wajar jika ia yang memegang komando?”

Aku menyandarkan punggung ke sandaran kursi dengan santai, membiarkan logika sederhana itu meresap ke dalam kepala mereka.

Salah satu kakiku menumpang kaki lainnya. Menanti respon dengan tidak sabar.

Akhirnya, seorang anggota bertubuh kerdil berambut pirang mengangguk setuju. Sebuah senyum tipis terukir di wajahnya. “Ah, masuk akal juga.” Ia menoleh ke arah rekan-rekannya. “Jika memang hanya Takagi-kun yang berpengalaman menghadapi Malaikat Hitam, mau bagaimana lagi?”

“Tidak bisa!” Tuan Putri Via memotong tegas dengan raut wajah kaku dan dingin. “Seorang rakyat jelata… tidak berhak memerintah Putri Kerajaan sepertiku!”

Si pria kerdil—Finn dari bangsa dwarf—mengalihkan pandangannya pada Albert yang berselimut tudung hijau. “Bagaimana menurutmu, Albert?”

Lihat selengkapnya