Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #1

EP 1. YUKKI DAN AKAME

Bara dan kristal es itu bertumbuh di dalam rahim baja serba putih yang dingin. Di balik jeruji steril, waktu mati tanpa derak jarum jam, hanya diukur dari seberapa sering nampan berisi ampas makanan busuk dilemparkan ke lantai. Tubuh dua gadis cilik itu perlahan memanjang. Rusuk-rusuk mereka menajam, lengan dan kaki memanjang rapuh, meninggalkan sisa-sisa kepolosan masa kecil yang habis digerus kejamnya kurungan.

Perubahan itu tak hanya menggerogoti fisik, tapi juga merembet ke rambut mereka. Helai-helai yang dulunya kusam tanpa warna kini berpigmen pekat: sang kakak menampung warna merah terang sepekat bara yang menolak padam, sedangkan sang adik membiaskan warna biru muda—dingin, bening, dan rapuh bagaikan kristal es.

Hari itu, engsel pintu besi berderit nyaring membakar sunyi. Pria-pria berjas putih melangkah masuk. Jarum-jarum suntik berukuran tak wajar, gergaji tulang bermata gerigi, dan peti-peti berisi instrumen eksperimen tanpa lisensi bergemerincing di tangan mereka. Siksaan berkala itu hendak dimulai lagi.

Namun tepat ketika jemari dingin para peneliti terulur, sang kakak melangkah ke depan. Sorot mata merah membara itu menembus pupil orang-orang berjas putih.

"Hei," panggilnya, suaranya mengalun tenang namun sarat ancaman. "Kalian cuma butuh kelinci percobaan untuk fasilitas laknat ini, kan?"

Pria-pria berjas putih itu bungkam. Keheningan mereka adalah stempel persetujuan yang tegas.

Sang kakak tersenyum tipis—sebuah senyuman getir yang menyayat hati. "Kalau begitu, pakai aku saja. Siksa tubuhku sesuka kalian. Tapi biarkan Yukki. Jangan sentuh dia sedikit pun. Kalian mengerti?"

Gadis berambut biru di belakangnya tersentak hebat. Wajahnya seketika pucat pasi, tak berdarah. "A-Apa yang Kakak katakan?!"

Para peneliti saling melempar pandang, berbisik sejenak, lalu mengangguk tanpa empati. Tanpa membuang detik, mereka menyergap Akame. Pisau bedah, gergaji, kapak kecil, hingga cairan pekat berbau menyengat yang membakar hidung langsung dihunus. Tepat di depan mata sang adik, neraka berdaging dan berdarah diuraikan secara brutal.

Beberapa menit berlalu dalam tragedi sadis yang lebih buruk daripada binatang.

Melihat tubuh kakaknya dicabik, dipotong, dan dirusak demi menanggung porsi penderitaannya, sesuatu di dalam dada Yukki pecah tanpa sisa.

"Kak Akame! Kak Akame!"

Rasa takut yang membelenggunya menguap, berganti menjadi amarah pekat yang membakar sumsum tulang.

"Jangan! Hentikaan!!"

Ia meledak. Jemari kecilnya mencengkeram belenggu, jeritannya membelah udara hingga tenggorokannya berdarah. Untuk pertama kali dalam hidupnya, kata-kata makian dan kutukan terkasar terlontar dari bibirnya. Air matanya menetes—lalu membeku sebelum sempat menyentuh marmer.

SZZZT!

Suhu ruangan merosot drastis menembus puluhan derajat di bawah nol dalam sekejap mata. Angin dingin tak kasatmata berpusar mendadak. Jeruji baja yang dirancang khusus untuk menahan penyihir istana kelas atas mulai merana; bajanya bergemeletuk, menyusut ekstrem, lalu patah berhamburan bagaikan kayu lapuk yang dimakan serangga.

Di luar sel, para penjaga bahkan tak sempat menarik picu senjata. Begitu jeritan si gadis biru memecah udara, tubuh mereka membeku seketika dari dalam, dihantam dan ditusuk oleh pilar-pilar es raksasa yang mencuat liar tiba-tiba dari lantai. Mengerang kesakitan sambil menyaksikan darah mereka sendiri muncrat ke mana-mana.

“LEPASKAN!" Yukki mengancam dengan keras.

PRANG!

Rantai tebal yang mengikat pergelangan tangannya meledak menjadi serpihan kristal halus. Sorot mata zamrud Yukki tak lagi memancarkan binar seorang anak. Mata itu kini milik seorang predator mematikan yang rantainya baru saja terputus.

Para peneliti yang berada dalam sel bergidik ketakutan.

Tapi semuanya telah terlambat.

“LEPASKAN AKAME!!”

BAM!

Dinding-dinding es meledak dari dasar bumi bagai akar pohon purba yang mengamuk. Pilar-pilar es raksasa mencuat cepat, mencabik dan meremukkan tubuh pria-pria berjas putih yang mengelilingi Akame. Jeritan derita membahana sebelum akhirnya bungkam oleh hantaman kristal keras. Darah segar menyembur pekat, membanjiri permukaan es biru yang dingin dan licin.

Dengan nafas yang terengah-engah, Yukki yang menerima peningkatan kekuatan signifikan tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Ia melompat kencang, menyambar tubuh kakaknya yang bergelimang darah sambil menggunakan sihir penyembuhan. Melepaskan borgol laknat yang mencengkeram tangan dan kaki. Menghancurkannya bagai kaca rapuh. Menarik tangan kakaknya cepat, membawanya keluar sel. "Ayo, Kak! Kita kabur sekarang!"

"Yu--Yukki?!"

Dua peneliti terkejut saat melihat genangan darah mengalir di lantai laboratorium. Menunjuk-nunjuk dua sosok eksperimen berlarian dengan borgol terlepas. Mengangkat telunjuk. "Jangan bilang..."

"... Dua aset itu baru saja melepaskan diri dari selnya?!"

Sihir Es: Belati Es!

ZLEB ZLEB ZLEB ZLEB

Empat belati langsung melesat dari sisi-sisi gadis berambut biru. Menancap erat sebelum dua peneliti di belakangnya bisa bertindak lebih jauh. Melumpuhkannya.

Si kakak Akame menelan ludah saat menyaksikan adiknya baru saja membunuh orang seringan menginjak semut. Mengernyitkan dahi. Akan tetapi, ia tidak mau tinggal diam. Ketika rombongan peneliti lain muncul di lorong di depannya, ia segera melepaskan semburan api merah dari kedua telapak tangan. Lidah-lidah api itu memburu, menembus dada para penjaga yang datang mengerumuni koridor. Memberikan akses bagi mereka supaya bisa lari lebih jauh.

Ketika melintasi lorong-lorong bawah tanah yang dipenuhi cahaya-cahaya modern dari lampu memanjang di kedua sisi, Akame dan Yukki melihat beberapa penghuni sel lain yang mengalami nasib sama seperti mereka. Dikurung. Dibelenggu. Melepaskan tatapan kosong seperti terdakwa yang menunggu eksekusi mati.

Kedua bersaudari itu saling tatap. Meminta persetujuan dari masing-masing.

Nampaknya mereka sepemikiran.

"Baiklah..." Tangan Akame dan Yukki terangkat. "... Ayo bebaskan mereka!"

Kobaran api meledak-ledak saat menghantam jeruji anti-sihir yang tangguh seperti karang. Di sisi lain, hembusan beku Yukki juga melakukan hal yang sama. Perlahan meretakkan jeruji-jeruji sel yang memiliki material yang lebih lemah. Cepat-cepat melangkah masuk untuk membebaskan borgol yang mengunci tangan dan kaki penghuni di dalam. Meminta mereka untuk kabur bersamanya.

"A--Ayo!" Yukki tak bisa menahan perih saat melihat betapa mengerikan kondisi fisik dan mental anak-anak yang diselamatkannya. Ia menelan ludah.

"Mari kita kabur bersama!"

Akan tetapi, di luar dugaan gadis tersebut, dua anak lain yang menghuni sel laknat hanya menatapnya dalam diam. Melangkah mundur dengan hati-hati dan ketakutan. Memeluk lutut mereka.

"Tidak." Salah seorang memberikan jawaban. Frustasi.

"Kalau kami tertangkap... Para peneliti itu akan meningkatkan siksaannya pada kami berkali-kali lipat! Aku tidak mau! Aku tidak mau senjata-senjata dan racun itu diberikan lagi kepadaku! Aku tidak mau!"

Lihat selengkapnya