“Berani sekali kau… bocah kecil.”
Geraman halus itu membelah sunyi, sarat akan kebencian yang meletup-letup. Di hadapanku, sosok Yukki-san telah melintasi garis batas kejelmaan. Garis rambut birunya meluruh, berganti menjadi helai-helai merah darah yang menyala kobar. Sepasang matanya meletupkan pendar emas buas—tatapan sesosok predator yang lapar akan nyawa. Menatap tajam.
Dari pori-pori kulit yang pucat, terpancar aura termal raksasa yang seketika mendidihkan udara malam. Dinding-dinding kayu penginapan Masamune-san meretas nyaring, meliuk hancur sebelum akhirnya dilahap lidah api yang menari brutal. Dalam sapuan detik, furnitur kamar meleleh, menyisakan reruntuhan berjelaga dan kepulan asap pekat.
Hawa panas itu menyiksa paru-paruku. Persendianku terkunci mati. Ketakutan ekstrem merantai tubuhku hingga aku menjelma bagaikan patung batu di tengah kepungan neraka.
Sensasi terbakar ini…
Hawa panas yang begitu pekat ini…
… Terasa terlalu familiar bagiku.
Memori traumatisku meledak di dalam benak.
Malam kelam saat Desa Chiharu rata dengan tanah.
Wanita dan anak kecil menjerit dengan pasrah.
Guyuran bola api dari angkasa melebur semua bangunan tanpa sisa.
Satu pemukiman terpencil langsung lenyap begitu saja seolah dihapus dari peta kerajaan.
Dadaku menjerit, memerintahkan tubuh untuk bangkit berontak. Namun stamina yang menguap dan energi sihir yang membentur titik nol memaksaku tetap pasrah terduduk lemah. Aku hanya sanggup menatap pasrah pada paras asli Penyihir Bertopeng Kucing yang kini tak lagi bersembunyi di balik topengnya.
Ia mengangkat jari telunjuknya ke udara—sebuah gestur sederhana yang seketika memicu detak jantungku berpacu gila-gilaan.
Sambil mengukir seringai tajam melengkung, ia mendesis dingin.
“Tadi itu… kau benar-benar berusaha membunuh Yukki, kan?”
Cahaya merah terang berpendar di ujung jarinya.
Sihir Api: Ledakan Api!
BUUUUMMM!
Satu hempasan sihir pekat meledak di titik tumpuku. Lantai dua penginapan Masamune-san hancur berantakan. Tiang-tiang penyangga utama patah berkeping-keping, melempar struktur atap yang membara jatuh menimpa lantai dasar. Semburan api merambat liar, memusnahkan sisa-sisa kristal es di sekitarnya dan mengubah pelataran menjadi kawah bara yang mendidihkan malam.
Tubuhku terlempar deras bagai boneka kain, mendarat menghantam pelataran bawah yang tertutup lapisan es beku. Daging dan kulit di bagian depan tubuhku melepuh hebat, gosong mendidih memancarkan bau sangit yang menyengat.
Tapi aku tidak mau berhenti dan mati begitu saja.
Dibunuh oleh Yukki—atau setidaknya, sebuah tubuh yang tadi menyimpan kesadaran Yukki—adalah hal terburuk yang sangat ingin kuhindari ketika mati.
Maka aku menyentuh area utama tempat ledakan api mengenai tubuhku. Mencoba menyembuhkan.
Sihir Peniru: Tiruan Sihir Es: Sentuhan Penyembuh!
Menyedot sisa-sisa daya dari dasar jiwaku, aku memicu mantra penyembuh instan. Luka bakar di dadaku menutup lambat, menyisakan perih yang luar biasa. Dengan pandangan berkabut, aku berjuang keras untuk bangkit, mengawasi tiap sudut demi mendeteksi pergerakan sang algojo—
—Tapi percuma.
BUK!
Pergerakan gadis tersebut sudah melompati batasan logika indra. Tanpa jejak angin maupun suara, ia mendadak hadir tepat di hadapanku. Melepaskan tendangan linear telak di tengah dada. Menciptakan suara keretakan rusuk yang patah, berdentang nyaring di lubang telinga.
Hantaman berdampak masif itu melempar tubuhku melintasi halaman, menghantam pagar batu batas penginapan hingga hancur berhamburan. Membuat diriku tak bisa bergerak. Bernafas dengan sangat sesak.
Rasa sakit melumat seluruh sistem saraf. Napasku tersengal saat ujung rusuk yang patah menusuk rongga dada. Dalam kepanikan yang membakar, aku kembali merapalkan sihir penyembuhan, berusaha merangkak mundur menjauhi iblis berwujud manusia. Namun ia telah muncul. Menatap datar. “Tak kusangka kau masih sanggup bernapas setelah menerima ledakan tadi, bocah sialan,” Umpatnya datar tanpa emosi. Melangkah mendekat.
Belum sempat aku memulihkan kondisi tubuh yang sudah ringsek, putri kematian berambut merah lebih dulu melompat, melayang tepat di atasku. Tendangan berputar kecepatan tingginya mendarat, menghantam punggungku keras-keras. Aku menjerit kesakitan. Merasakan susunan tulang belakang kini yang gentian menerima cedera patah. Ragaku terjerambab semakin dalam ke bawah tanah. Terasa sedikit becek.
Tanpa belas kasihan, setelah memutar tubuhnya sekali lagi di udara, ia menghentak tulang punggungku yang patah. Menggunakan ujung sepatunya yang bersudut lancip untuk memberikan stimulan perih tak terbayangkan yang menjalar ke seluruh tubuh. Melakukannya berulang-ulang sambil mendesis. “Hei, bocah.” Sorot matanya kosong.
“Kenapa anak kecil sepertimu… Bisa menggunakan sihir Yukki? Kau mencurinya?”
Aku tidak mampu menjawab. Wajahku menghadap ke bawah sehingga batu-batu kecil bercampur tanah menyumbat mulutku.
Tapi ‘wanita lain’ dalam tubuh Yukki itu tidak mau tahu, membentak. “WOI!”
Aku menahan nafas.
“KAU DENGAR AKU?!”
BUAK!!