Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #3

EP 3. TUBUH YANG DIBERI DUA JIWA

Malam itu begitu kelam, namun atmosfernya mendadak benderang oleh cahaya membara—seolah ada sosok gaib yang menyulut obor raksasa di tengah angkasa. Rembulan malam kehilangan daya; pesonanya lumat dilibas hujan proyektil sihir yang membelah udara. Satu per satu benda panas itu menghantam pemukiman Desa Chiharu—sebuah desa terpencil yang jauh dari hiruk-pikuk peradaban.

Tanpa ampun. Tanpa belas kasih.

BUUM! BUUM!

Ledakan dahsyat memusnahkan bangunan dalam sekali tabrak. Kobaran api menjulang brutal, memanggang siapa pun yang berlindung di balik dinding-dinding kayu, melumat nyawa mereka dalam hitungan detik.

Jalanan berubah menjadi kawah kepanikan.

Reruntuhan balok berapi tumbang dari segala arah, memotong akses melarikan diri.

Tangis anak-anak, jeritan kesakitan, dan bau daging terbakar berbaur jadi satu. Beberapa warga tewas seketika hingga gosong, sementara yang lain lumat berubah menjadi abu. Pembantaian massal tanpa belas kasih ini digulirkan oleh kekuatan absolut yang turun tanpa peringatan.

Di angkasa yang pekat oleh asap hitam, berdiri sosok gadis bergaun merah yang melayang di balik lingkaran-lingkaran sihir merah membara. Rambut merah terangnya berkibar dihempas angin kencang, berpadu dengan jas hitam berlogo asing yang membalut bahu.

Wajahnya tersembunyi sempurna di balik topeng kucing putih yang dingin.

Dari balik topeng itu, matanya menatap datar ke arah puing-puing di bawah. Tidak ada rasa iba. Tidak ada penyesalan. Kedua tangannya terangkat stabil, merapalkan mantra sihir api tanpa henti untuk meratakan Desa Chiharu yang tak berdosa.

Namun, untuk beberapa detik yang singkat, pendar emas buas di matanya berguncang keras. Rona matanya tiba-tiba luruh, meluapkan pendar hijau zamrud yang lembab oleh air mata. Serangan apinya terhenti sejenak, diiringi gejolak batin yang tertahan.

Gadis bertopeng itu mendesis kesal pada dirinya sendiri, menekan getaran emosi tersebut.

“Tunggulah, Yukki…” Katanya, pada diri sendiri. Meneguhkan hati. “Biarkan aku yang menyelesaikan tugas kotor ini.”

“Apa pun yang terjadi… aku akan selalu melindungimu.”

***

 “Cara cepat untuk jadi kuat?”

Memori itu berputar kembali.

Saat itu, angin musim panas bertiup sepoi, membawa aroma padang rumput liar yang membentang luas. Langit biru membingkai awan tipis yang terukir lembut di angkasa. Beberapa kupu-kupu dan capung terbang menciptakan denging.

Di atas sebuah batu raksasa di lembah tempat Pelatihan Beladiri dilaksanakan, Homuro-san—seorang ahli pedang veteran Kerajaan—tengah menikmati istirahatnya setelah selesai mengajariku dan Yui Chiharu. Ia terdiam cukup lama setelah mendengar pertanyaanku yang absurd. Menopang dagu.

Hingga akhirnya, ia memandangku dengan sorot mata yang teramat serius. “Tidak ada.”

Jawaban yang singkat, padat, dan menghancurkan ekspektasi.

“Perbanyak latihan. Hanya itu satu-satunya jalan untuk jadi lebih kuat.”

Mendengar hal itu, bahuku langsung merosot. Aku—bocah sepuluh tahun yang baru saja dihajar habis-habisan oleh kawan latihanku, Yui-san—langsung tersungkur mencakar-cakar tanah dalam keputusasaan murni. Membayangkan wajah menyebalkannya yang mengejek ketika aku kalah beberapa saat lalu. “Astaga, Amuro-kun~” Suara Yui tadi pagi masih terngiang penuh ejekan. “Apakah kau benar-benar seorang lelaki~? Rasanya aku sedang melawan gadis yang baru saja memegang pedang pada hari ini…”

Sangat menyebalkan!—keluhku dalam hati.

Lihat selengkapnya