Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #4

EP 4. RENCANA YANG BERBAHAYA

Aura mencekam melingkupi aula penahanan raksasa berdesain mirip amfiteater atau pertunjukan seni. Struktur balok bercor beton dan baja dikelilingi tribun bertingkat yang dipasangi jeruji-jeruji berarus listrik tegangan tinggi. Beberapa petugas bersenjata laras panjang berdiri siaga, membuka pintu besi tebal ketika tubuh dua subjek eksperimen—Nomor 99 dan Nomor 100—diseret masuk.

Ruangan ini memiliki batas keamanan tiga lapis yang jauh lebih mengerikan daripada sel lantai atas: Lapisan Terluar merupakan jeruji titanium tebal tanpa arus listrik untuk mengamankan para pengamat di tribun. Sementara di bagian tengahnya, dinding transparan sekeras tungsten, dipenuhi duri-duri tajam yang sanggup menembus daging jika mendekat. Pelindung semacam itu ditumpuk lagi dengan batangan logam anti-sihir super tebal yang tahan terhadap ledakan, hantaman, dan suhu ekstrem yang sewaktu-waktu dapat terlontar dari peserta di dalam kurungan.

Di pusat aula, rantai raksasa yang dingin telah menanti telah menanti kedatangan dua gadis tak berdosa.

Begitu leher Akame diikatkan pada belenggu utama, bobot rantai itu langsung menghempaskan tubuh lemasnya ke lantai berdebu. Para peneliti menyusul mengunci kedua kaki dan tangannya. Sementara itu, Yukki dipasangi lima pasang borgol sekaligus di sekujur tubuhnya hingga tak berkutik sedikit pun—mungkin para peneliti tahu bahwa ialah biang kerok di balik seluruh kekacauan yang melanda bangunan laboratorium bertingkat. Memberikan perhatian khusus kepadanya.

Akame yang kesadarannya pulih lebih cepat mencoba merayap menggapai ujung gaun adiknya.

Tapi gagal.

“Yu… Yukki…” bisiknya serak.

CZZZT!

Seorang peneliti tanpa ragu menekan tombol di remot kontrol. Sengatan listrik bertegangan tinggi menjalar instan, membuat Akame menjerit keras sebelum akhirnya kembali tak sadarkan diri. Lampu tanam di langit-langit berkedip redup. Hawa dingin merayap kaku.

Setelah memastikan seluruh aset terkunci rapat, para peneliti merapikan peralatan dan melangkah keluar menembus tiga lapisan jeruji. Dengan menggesek kartu identitas di pintu utara, mereka meninggalkan ruang eksperimen terbawah—sebuah laboratorium kelam tempat hukum kemanusiaan dibumianguskan.

Tempat yang akan menjadi neraka berikutnya bagi Akame dan Yukki.

***

 “Majulah, Penyihir Aneh.”

Aku menghentikan pelarianku, berbalik menantang ‘Yukki Bermata Emas’ secara langsung. Kenangan manis bersama Yukki-san sempat membuat jemariku bergetar, membuat ragu. Akan tetapi, di saat yang sama, aku juga ditimpa ingatan perih saat Homuro-san dihantam hujan api dan Yui tersenyum tipis sebelum hancur menjadi abu. Menyebabkan darahku mendidih. Ingin sekali menghabisi sosok pembunuh ini.



Emosiku bergejolak hebat. Hendak marah sejadi-jadinya—tapi masih berusaha kutahan karena tubuh ini adalah milik Yukki-san yang menyelamatkanku dan kuanggap seperti ibuku sendiri.

Perkotaan di sekitar kami telah lumat.

Jalanan berlubang hancur.

Lautan api membara berpadu kontras dengan bongkahan es yang berserakan.

Lihat selengkapnya