Ide nekad itu sebenarnya terlintas secara absurd begitu saja di dalam kepalaku. Aku mengingatnya kembali dari percakapan santai dengan Yui Chiharu setahun lalu di teras rumah Homuro-san, saat kami menikmati makan siang di tepi halaman herba.
Kala itu Yui mengunyah makanannya dengan cepat lalu berseloroh, “Amuro-kun, kau tahu?” Bola matanya membulat besar. “Kata kakak-kakak di desa, rasa malu adalah musuh terbesar seorang gadis, lho~?! Kalau seorang gadis dipermalukan dengan cara yang tidak biasa, pikirannya bisa kacau seketika!”
Aku mendengus malas. “Kalau begitu, Yui Chiharu…” Kata-kataku tertahan.
Gadis di sebelahku mengedipkan matanya. “… Ya?”
“… Apakah ada sesuatu… Yang bisa membuatmu malu?”
Hening.
Dari kejauhan langit, terdengar burung bercakap-cakap dengan sesamanya melalui bunyi cit-cit yang aneh.
Tawa kecil Yui Chiharu pecah.
Aku membuang muka. Sudah menduga hasilnya akan seperti ini.
“Bwahahaha! Apa-apaan itu, Amuro-kun~?!”
Isi pikiranku langsung meluncur. “Strategi.” Ungkapku.
“Jika aku tahu beberapa hal yang bisa membuatmu malu, Yui-san…” Kedua tanganku mengepal. “… Mungkin di duel berikutnya aku akan menggunakan hal tersebut sebagai senjata untuk mengalahkanmu.”
“Mustahil, mustahil sekali, Amuro-kun~!”
Yui Chiharu menyeka air matanya yang menangis karena kebanyakan tertawa.
“Aku ini… Tidak memiliki sesuatu yang membuatku malu tak tertahankan!” Salah satu tangannya melambai menggunakan isyarat sumpit bambu. “Menyerahlah saja!”
Kepalaku mengangguk pasrah. “Baik, baik, baik…”
“Jadi kau memang memilikinya namun tidak mau memberitahukannya kepadaku karena tidak ingin kalah, ya? Aku paham.”
“Baguslah kalau kau mengerti dengan baik.”
Kami berdua lalu diam lagi. Menghabiskan bekal makan siang di teras kediaman Homuro-san yang menghadap langsung ke kolam buatannya di tengah halaman. Menikmati alunan dengung jangkrik yang khas dan menenangkan. Sambil sesekali memejamkan mata ketika belaian angin musim gugur menerpa dari arah selatan.
Yui Chiharu memang menolak buka mulut untuk memberitahu apa gerangan sebenarnya yang bisa membuatnya malu. Akan tetapi, diam-diam tanpa sepengetahuanku, ia mendadak melirik perlahan, memerhatikan wajahku dari dekat, sambil merasakan degup jantungnya meningkat secara konstan.
Apa yang… Bisa membuatku malu?
Mulutnya tiba-tiba bergumam di luar kendali pikirannya.
Wajahnya merah hangat.
“Amuro-kun.” Gadis tersebut berbisik terlalu lirih sampai aku tidak mendengarnya karena terlalu fokus makan.
“Jika ada sesuatu yang mampu membuatku malu dan salah tingkah…Itu adalah Amuro-kun.”
“Mungkin.”
“Yui-san? Kau mengatakan sesuatu?” Menyadari ada suatu bisikan-bisikan aneh yang terdengar dari arah Yui, aku bertanya setelah menelan makan siang di mulut.
Yui Chiharu tersentak hebat. Tapi dengan lihai, ia menyembunyikan ekspresi terkejutnya secara singkat lalu berkata. “Ti—Tidak ada apa-apa!”
Aku malah semakin curiga dan memicingkan mata. “Tidak ada… Apa-apa?”
Dengan senyum mengembang, Yui Chiharu menendang perutku lurus tanpa peringatan hingga aku tersedak. Hampir saja memuntahkan makan siang yag baru saja kumasukan.
Gadis berambut cokelat pendek mengangkat kedua sudut bibirnya dengan sangat aneh. “Yang namanya tidak ada apa-apa itu…”
“… Artinya memang tidak ada apa-apa, kan~?”
“A—Ampuni aku, Yui-saaan!”
Kenangan singkat itu kemudian luntur, membawaku kembali ke medan tempur yang dipenuhi kobaran api dan pecahan es. Menyadarkanku bahwa di sini segalanya sedang dipertaruhkan.
Denga informasi singkat berusia setahun lebih, akhirnya aku berhasil mencari dan mengeksekusi rencana paling gila yang pernah kulakukan seumur hidup.
Kelemahan seorang gadis terletak pada rasa malunya.
Oleh karena itu, untuk membuat musuhku takluk, aku cukup melakukan sesuatu yang sangat memalukan sehingga ketahanan mentalnya anjlok hingga titik terendahnya. Jika pertahanan jiwanya sudah melemah sampai sedemikian rupa, maka kesadaran Yukki-san seharusnya bisa mengambil alih tubuh tersebut dengan mudah—dan ternyata hal itu telah memberikan hasil optimal seperti yang kuharapkan.
Di tengah dinginnya malam, kepanikan dan rasa malu melumpuhkan kendali entitas jahat di dalam tubuh yang kudekap.