Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #6

EP 6. BIAR AKU YANG MELAKUKANNYA UNTUKMU

Baru sedetik setelah mesin berhenti sempurna, lantai yang terbuka di tengah aula mengatup kembali. Pria berjas hitam menurunkan tangannya dalam satu isyarat dingin. Dalam kejapan mata—secepat hembusan angin maut—Monster Z-098 melesat. Sasaran utamanya adalah Akame dan Yukki yang belum sempat mengambil jarak. Lengan kanan makhluk itu—sebuah gumpalan daging raksasa berbentuk tabung dengan diameter lebih dari dua kaki—terayun deras. Sangat tebal, keras, dan mustahil ditangkis dengan serangan biasa. Monster itu berniat meremukkan Yukki yang terpaku ketakutan dalam waktu singkat.

BUUUMM!!!

Akame berseru lantang, tersadar dari keterpakuannya. Melihat Yukki masih mematung tanpa sedikit pun usaha untuk menghindar—seolah hilang kesadaran—gadis berambut merah terang itu melompat lincah. Ia menyambar tubuh adiknya, membawanya melesat tepat saat lengan Z-098 menghantam lantai.

“Jangan bengong begitu, Yukki! Kita diserang!”

Benturan dahsyat itu meretakkan ubin berlapis material tempur, menciptakan gelombang kejut yang merayapi seluruh ruangan. Atmosfer pertempuran seketika pecah. Di balik kaca pelindung, para peneliti mulai panik dan berbisik cemas—khawatir arena yang mereka rancang tak cukup kuat menahan kebuasan subjek, hingga hasil eksperimen berharga itu berisiko jebol dan melarikan diri.

Yukki tidak memberikan respons apa pun. Bola mata zamrudnya redup, kosong tanpa cermin kehidupan. Dalam bopongan Akame, suaranya bergetar hebat saat ia bergumam lirih, “Kepala yang di tengah itu… milik lelaki yang tadi berguling di rerumputan… kan, Akame?”

Akame memadahi pertanyaan itu dengan keheningan. Tenggorokannya menyempit, tak mampu menguntai kata. Ia terus berlari menuju sudut aula yang paling jauh, berupaya memberi jarak dari monster setinggi sepuluh kaki tersebut. Wujud makhluk itu begitu mengerikan—sebuah tumpukan daging dan kepala teman-temannya yang terdistorsi—hingga membuat perut Akame mual dan ingin muntah.

Ruangan berbentuk persegi panjang dengan tiga lapis jeruji besi itu memagari sekelilingnya. Akame berniat merebahkan Yukki di sudut teraman, membiarkan dirinya maju seorang diri untuk menghadapi monster yang tak lain adalah 'makam berjalan' bagi kawan-kawan pelarian mereka.

Namun, belum sempat gadis tersebut melepas adiknya, Monster Z-098 mendahului.

Lengan kirinya melesat memanjang bagai pilar yang runtuh. ‘Senjata’ itu memiliki fleksibilitas dan elastisitas yang berada di luar nalar, merentang serta melintasi jarak dua puluh meter dari pusat aula dalam sekejap.

Bentuknya memipih di udara, meluncur tajam secepat tombak raksasa yang siap menembus tubuh kedua gadis. Berkilat-kilat.

Sihir Api: Rentetan Bola Api!

Dalam satu hembusan mantra, sepuluh bola api membara meledak beruntun dari telapak tangan Akame. Kilatan cahaya jingga menembus udara, menghantam lengan monster secara bertubi-tubi.

BUM! BUM! BUM! BUM! BUM! BUM!

Kepulan asap tebal dan debu membumbung tinggi, menghalangi jarak pandang. Logikanya, tidak ada anggota tubuh makhluk hidup yang sanggup menahan gempuran sepuluh ledakan tersebuttanpa perisai sihir atau baja keras.

Namun, dugaan Akame meleset.

Sungguh meleset.

Di detik berikutnya, dari balik jelaga tebal, ujung lengan yang kian pipih dan tajam itu ternyata sudah mencuat tepat di depan wajahnya. Kecepatan senjata itu tak berkurang sedikit pun.

Ketakutan Akame menyergap.

Akan tetapi, kesadaran bahwa Yukki sedang ada di pelukannya memaksa gadis Nomor 99 bertindak cepat.

Ia pun mengernyitkan dahi, mengalirkan seluruh sihirnya menuju kedua kaki. Mengeluh. “Si.. Sialan!”

Sihir Api: Sepatu Api!

DASH!

Ledakan api kecil di telapak kakinya memberikan dorongan instan.

Akame melempar tubuhnya deras-deras ke samping.

Ia berhasil menyelamatkan Yukki—tetapi gerakannya sedikit terlambat.

Lihat selengkapnya