Lautan es dan kobaran api melukis malam dengan kontras yang mengerikan. Sejauh mata memandang, kota yang runtuh akibat guncangan dahsyat itu kini tak ubahnya kota mati. Puing-puing bangunan memblokir jalanan, berbaur dengan lelehan es yang kalah bersaing oleh jilatan api—menciptakan genangan air hangat di mana-mana.
Setelah drama memalukan yang berkepanjangan, aku berakhir dimarahi habis-habisan oleh Yukki-san—yang untungnya telah sadar sepenuhnya. Pipi saya dihadiahi tamparan bertubi-tubi dengan kekuatan supernya. Rasa perih baru menyengat kulitku, diselingi cubitan gemas yang tak kalah menyiksa. Aku tak berniat melawan. Pasrah menerima hukuman atas tindakan yang—jujur saja—sangat tabu bagiku.
Dasar nasib.
“Ya ampun, kau ini...” Gadis berambut biru muda mengeluh.
“Meski memiliki tampang seperti bocah polos… Amuro-kun ternyata om-om yang bermasalah, ya?!” Yukki-san berseru sembari memijat kening.
Ia duduk di atas bongkahan es raksasa, sementara aku bersimpuh di bawahnya bagai seorang budak yang menunggu amnesti.
Merasa kehormatanku diinjak-injak, aku mendongak membela diri.
“Anu... Mungkin Yukki-san harus dengar dulu alasanku—”
“—Mesum,” potong Yukki cepat.
“T-Tunggu sebentar, Yukki-san—”
“—Mesum.”
“Yu—”
“—Mesum!”
Aku menghela napas panjang dan memilih menyerah.
Tak ada gunanya meladeni mode ketus wanita di depan ini.
Posisi duduk kubenahi, napas kutarik dalam-dalam, dan siap memasang telinga untuk ceramah ronde kedua.
Namun, bukannya bentakan keras atau tatapan dingin menusuk yang kudapat, gadis di depanku justru memalingkan wajah. Lewat helaan napas pelan, ia bergumam halus,
“...Tapi… Karena aku tahu kau melakukannya demi menyelamatkanku...” Ia mengambil jeda sejenak.
“...kali ini kau kumaafkan, Amuro-kun. Jangan diulangi lagi.”
Angin malam berembus lembut, menerbangkan helai demi helai rambut biru milik Shirayaki Yukki yang sehalus sutra.
Wajahnya yang tersiram cahaya rembulan tampak begitu memikat—seperti putri langit yang terdampar di bumi. Meski ia memalingkan muka, rona merah di pipinya tak bisa bersembunyi.
Aku sempat terpukau oleh pesonanya.
Namun, jiwa polosku yang kelewat jujur mendadak interupsi. Mengangkat tangan.
“Uhm... maaf sekali, Yukki-san.” Kataku, tiba-tiba.
“Se—Sebenarnya… Aku melakukan hal itu juga demi keselamatan nyawaku sendiri... Kau tahu bukan? ‘Dirimu Versi Jahat’ itu sangat mengerikan? Jadi kupikir—”
“A-mu-ro-kun…” Shirayaki Yukki menggeram. Mengepalkan tinju kanannya.
“… BODOH!!”
TAK!
Belum sempat aku menyelesaikan kalimat, jidatku dihantam pukulan keras. Tubuhku melayang dan mendarat telak di atas permukaan es keras. Penglihatanku berkunang-kunang.
Kalau bukan karena sihir es penyembuh tiruan yang refleks kuaktifkan, aku pasti sudah pingsan di bawah cahaya rembulan yang temaram.
Sambil merangkak bangkit, kulihat Yukki-san mengelus tangan kanannya sendiri seraya meringis. “Aduh...”
“… Sakitnya.”
Batinku menjerit.
Harusnya aku yang bilang begitu!
Satu jam berlalu.