Anggota Pasukan Khusus Kerajaan Voltaire telah memesan sebuah kereta kuda berukuran lebih besar dan panjang sejak beberapa waktu lalu—tepat saat si pangeran berambut pirang menangkupkan kedua tangannya di depan wajah, menarik kesimpulan.
“Dengan kata lain…”
Hentakan roda yang membentur jalanan berbatu di luar Ibu Kota membuat kabin kereta yang terbilang sempit itu berguncang pelan.
Sorot mata pangeran Voltaire berkilat-kilat.
“… kau ingin kami membantumu membangkitkan jasad para pahlawan, lalu menjadikan mereka sekutu utama untuk melawan seluruh anggota Malaikat Hitam?”
Sambil dipangku oleh Shirayaki Yukki yang tak henti-hentinya membelai kepalaku dengan senyum terkembang, aku mengangguk pelan. Kulayangkan tatapan serius ke arahnya.
“Begitulah,” sahutku pendek. “Tugas yang cukup mudah, bukan?”
“Tugas mudah dari Hongkong!” Lucian Voltaire setengah berseru, hampir menyemburkan napasnya. “Tindakan seperti itu masuk kategori pelanggaran hukum internasional, tahu! Jangan seret kami menjadi buronan puluhan kerajaan sekaligus bersamamu!”
Aku melirik tipis ke arah wanita yang memangkuku. “Yukki-san.”
“Ya?”
“Jika seisi kota berada dalam bahaya dan satu-satunya cara untuk menyelamatkannya adalah dengan menjadi jahat, apa yang akan kau lakukan?”
Gadis berambut biru muda itu menjawab tanpa beban, “Aku akan menjadi penyihir paling jahat yang pernah terlahir di dunia~!”
Kesenyapan ganjil menyergap seisi kabin sempit kereta kuda.
Aku kembali menatap para penyihir rekrutan dari berbagai negeri itu. “Kalian lihat?” Tanyaku. “Seseorang pasti akan menghalalkan segala cara demi meraih tujuannya, asalkan sejak awal ia memang memburu hal tersebut.”
Kuatatur intonasi suara, membuatnya terdengar makin berbobot.
“Jika kalian—para penyihir yang mengaku sebagai pembela negeri—menolak menolong kerajaan hanya karena takut berurusan dengan kerajaan luar, bukankah itu membuktikan bahwa kalian sesungguhnya tidak benar-benar mencintai negeri ini sepenuh hati?”
Logika sesat berbalut retorika sentimentil itu sukses menghantam mental tujuh anggota Ordo Flageon—nama pasukan khusus kerajaan yang bergabung denganku. Keringat dingin mulai menetes di pelipis mereka. Mereka bungkam. Tak ada yang tahu harus merespons apa.
Menggunakan kartu kehormatan, patriotisme, dan perlindungan adalah trik kuno untuk mengunci lawan bicara—sebuah teknik yang dulu diajarkan oleh Ov Vanguard. Dengan mengeksploitasi sisi emosional yang secara alami tertanam dalam diri manusia, aku bisa melumpuhkan akal sehat mereka secara efektif. Menyulap bangkai tikus menjadi pajangan berharga mahal.
“Sial…” Putra Mahkota Voltaire berujar tertahan, memegang pelipisnya. “… Bocah ini ada benarnya juga.”
Gadis berambut perak bertelinga runcing di sebelahnya mendengus dingin. “Seharusnya kau memikirkan hal mendasar seperti itu sejak awal, tu-an-pa-nge-ran.”
“Dan kalian berdua berniat memasuki kerajaan kecil Kuroshio yang berbatasan langsung dengan laut lepas Benua Selatan?” selutuh Finn Humberg, lelaki dari bangsa dwarf.
“Memangnya tempat seperti apa yang sebenarnya ingin kalian tuju?”
“Benua Terlarang,” jawabku singkat.
Mendengar nama itu, seisi kabin kereta kuda mendadak membeku.
“Be… Benua…”
“… Terlarang?”
Gadis berambut perak di dalam kabin mendadak membisu, terpekur dalam pikirannya sendiri.