Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #117

Kageha Keita

“Para pedagang… ya? Sebaiknya kalian lebih berhati-hati. Beberapa bulan terakhir ada segerombolan monster yang kerap menyerbu dari Hutan Kabut di bagian tenggara. Kuharap kalian selalu menyimpan senjata di sisi kalian.”

Peringatan dari dua penjaga gerbang masuk Kuroshio menyambut kedatangan kami yang kini begitu kelelahan. Luas kerajaan ini sebenarnya tak lebih dari satu wilayah kota di Voltaire. Berlagak bagai sekumpulan pedagang yang mencoba mengadu nasib, pemandangan pemukiman mendung beratap kabut basah Kuroshio langsung menyergap kami dengan keheningan, dingin yang menggigit, serta aura yang serba mencekam.

Rombongan kami yang berjumlah sembilan orang melangkah masuk usai melunasi ongkos kepada kusir profesional, berterima kasih karena bersedia memberikan pelayanan lintas kerajaan. Kami terdiam sejenak di area gerbang, mengamati senyapnya kerajaan kecil yang konon kerap dijadikan jalur perdagangan gelap tersebut.

Shirayaki Yukki mengedipkan sepasang manik zamrud yang cantik, tampak terkejut. "Kerajaan ini...” nadanya agak ragu. “… benar-benar ada penghuninya, kan?"

Aku mengangguk, mengutip informasi dari pangeran Vanguard yang saat ini sedang melayang di atas kami bagaikan hantu. "Seperti yang kudengar.” Ungkapku. “Kuroshio adalah kerajaan bayangan yang diselimuti misteri. Dari sini saja, aura tak menyenangkan sudah terasa pekat dari sudut-sudut jalannya yang temaram."

"Kalau begitu kita harus segera mencari penginapan," usul Albert, yang langsung disetujui oleh Tuan Putri Via.

"Ide bagus, Albert!"

Namun, sebelum rombongan aliansi khusus ini melangkah lebih jauh, sebuah hawa keberadaan yang begitu pekat mendadak menjepit permukaan kulitku. Orang biasa tentu akan sulit menyadarinya. Beruntung, latihan keras di bawah bimbingan Ov Vanguard telah menjejali tubuhku dengan rentetan pengalaman ekstrem—memaksaku melampaui batas insting bocah 13 tahun pada umumnya. Membuat indera-indera tubuhku berkali-kali lebih tajam daripada penyihir biasa.

Seketika, tanganku terangkat.

"Jangan ada yang bergerak," desisku dingin.

Sihir Ruang: Buka Penyimpanan Tak Terbatas: Pedang Legiun!

Seolah menarik benda asing dari ruang hampa, sebilah pedang standar kemiliteran Voltaire telah tertancap kokoh di genggaman tangan kananku. Benda bersejarah itu adalah senjata yang dulu dipakai oleh umat manusia bertempur melawan pasukan Raja Iblis. Kokoh, berbobot pas, dan memiliki ketajaman yang tak perlu diragukan.

Sambil pasang kuda-kuda menghadap salah satu gang gelap di samping jalan utama, udara dingin menyengat kulit begitu kami melangkah lebih dekat.

Peringatan dari dua penjaga gerbang tadi masih terngiang di telinga: “Kalian pedagang, kan? Hati-hati. Beberapa bulan terakhir segerombolan monster sering menyerbu dari Hutan Kabut di tenggara.”

 “Keluar,” seruku dingin ke arah kegelapan. “Jangan kira kau bisa bersembunyi dariku.”

Reaksiku yang mendadak serius membuat tujuh anggota Ordo Flageon langsung menyiagakan senjata. Tanpa perlu komando kedua, mereka otomatis membentuk formasi melingkar. Lucian, Noelle, dan Albert mengambil alih garis depan, sementara sisanya mengamankan sektor belakang. Atmosfer santai menguap seketika; digantikan oleh kesiapan bertempur tingkat tinggi khas pasukan khusus.

Keheningan yang mencekik berlangsung selama satu menit utuh.

Hingga akhirnya, dari balik kabut dan pekatnya bayang-bayang gedung, sebuah sosok melangkah keluar. Ia menarik turun penutup kepala hitamnya, memamerkan seringai lebar yang tampak sangat santai.

“Aduh-duh~ Ketahuan semudah ini, ya?” kekehnya, condong meremehkan. “Insting yang luar biasa untuk seorang bocah.”

“Boleh tahu namamu, Anak Muda~?”

“Korban yang akan mati tak perlu tahu siapa pembunuhnya,” balasku datar.

Pria berrambut ungu pendek dengan mata hitam pekat itu terkekeh geli.

Lihat selengkapnya