“Pasukan bayangan, serang!”
Tanpa formalitas bertele-tele—menyadari kami bukan pihak yang bisa diajak bernegosiasi—Kageha Keita memerintahkan ribuan prajurit hitamnya untuk memburu kami bersembilan.
Seketika, ratusan anak panah dan dentuman sihir melintasi langit pagi gerbang kerajaan yang mendung dan suram. Kilatan cahayanya memotong keheningan jalanan yang temaram. Dengan kuantitas semasif itu, rumah-rumah di sekitar kami jelas akan hancur lebur jika serangan tersebut tak diredam di udara.
Lucian Voltaire mengambil alih komando. Tabiat konyol sang pangeran menguap tanpa sisa.
“Noelle-san, aku serahkan padamu!” serunya tegas.
Mengangguk mantap, Noelle mengacungkan rapier hijaunya ke angkasa. Gadis elf itu melafalkan matra dalam bahasa kuno, memicu pendar lingkaran sihir di ujung senjatanya. Dari sana, sesosok roh kecil bersayap—ukurannya tak lebih besar dari genggaman tangan orang dewasa—melesat lincah menembus udara.
“Pinjami aku kekuatanmu yang agung, Sylphia!” panggil Noelle nyaring.
Sihir Angin: Tornado Terbalik!
WHUUSH!
Aku tak sepenuhnya paham bagaimana makhluk bersayap—sebut saja 'peri hijau'—itu bekerja. Ia hanya menarik napas dalam-dalam hingga kedua pipinya mengembang bulat, lalu menghembuskannya kembali lewat hentakan energi yang masif.
Ajaibnya, hembusan bertekanan tinggi itu memuntir aliran udara, memicu pusaran angin raksasa di tengah arena. Tornado itu berdiri terbalik, menyedot seluruh anak panah dan proyektil sihir ke intinya, lalu melemparnya jauh ke angkasa—mengamankan pemukiman sipil di bawahnya.
Kageha Keita terperangah. Kekuatan penyihir elf memang berada di level yang berbeda. Matanya membelalak, tetapi pria itu menepuk tangan dengan kekehan kagum.
“Luar biasa! Benar-benar luar biasa!”
Jemari tangannya kembali menari, memainkan serabut-serabut ungu yang berkilauan.
“Kalau rombongan kalian punya penyihir roh sekelas ini...” Kalimat sang penguasa Kuroshio menggantung, berubah mengerikan. “... Aku harus menangkap kalian hidup-hidup!”
Sihir Boneka Bayangan: Kendali Paksa!
Sihir Peniru: Tiruan Sihir Pembatal: Pembatalan Paksa!
Jurus yang kutunggu-tunggu akhirnya keluar. Begitu jemari pria bermantel hitam itu terangkat memanipulasi serabutnya untuk melilit rekan-rekanku, aku bergegas meminjam kekuatan Najimi Harui—Wakil Kepala Perserikatan yang sihirnya sangat krusial dalam situasi seperti ini.
Seketika, niat busuk penguasa Kuroshio patah di detik pertama. Kegiatan magisnya dibatalkan oleh sinar merah muda yang aneh. Kalkulasinya meleset total. Tanpa memberi jeda, aku memanfaatkan celah itu untuk merangsek maju, memberi komando pada Pangeran Lucian dan Albert si agen bertudung hijau.
“Lucian-san, Albert-san, sekarang!” seruku, mengalirkan daya sihir ke bilah Pedang Legiun di genggaman.
Sihir Peniru: Tiruan Sihir Api — Gelombang Api!
WHOOSH!
Kobaran api meledak membentang, melahap barisan depan dan menghempaskan puluhan prajurit bayangan. Serangan itu memang tak langsung membunuh mereka, tetapi Lucian dan Albert bukan petarung yang lambat memanfaatkan momentum. Begitu barikade musuh terbuka, dua anggota Ordo Flageon itu menerobos kencang dengan sihir terbaik masing-masing.