Paduan warna hijau yang memesona memenuhi tempat itu dengan nilai seni yang begitu tinggi. Udara sejuk dan semilir angin lembut membelai kulit, menciptakan kenyamanan tiada tara bagi siapa pun yang singgah. Di langit biru, awan tebal berarak anggun, membiarkan sang surya memancarkan kehangatannya ke atas padang rumput dan hutan perawan yang membentang tanpa batas.
Di tengah keasrian itu, berbaringlah seorang gadis bergaun putih bersih di atas rerumputan rimbun setinggi mata kaki. Raut wajahnya tampak sangat sebal. Alisnya bertaut kencang, sementara gigi-giginya bergemeletak menahan jengkel. Melalui binar mata emasnya yang tajam, ia melemparkan tatapan kesal kepada gadis berambut biru muda yang duduk tenang di sampingnya.
“Lihat?! Bocah itu malah membuatmu ketiban sial, kan?!” bentaknya gusar.
Bukannya terprovokasi, gadis bermata zamrud itu justru menyunggingkan senyum getir. Sebuah tawa renyah lolos dari bibirnya, meski guratan duka tak mampu sembunyi dari parasnya.
“Yah… mungkin ini adalah balasan yang setimpal atas semua dosa yang kita perbuat selama ini, Akame.” Ia menatap kakaknya dengan penuh kelembutan, lalu melanjutkan pelan, “Kau tidak menyesalinya kan, Akame?”
Melihat senyuman adiknya yang begitu luhur dan meluluhkan hati, benteng kejengkolan Shirayaki Akame seketika runtuh. Ia mengembuskan napas panjang yang berat.
“Yah… jika kau berkata demikian… baiklah,” sahut Akame pasrah. “Aku tidak akan pernah menyesalinya.”
Kedua gadis itu saling merengkuh erat di atas hamparan rumput, lalu berbaring bersama menatap cerahnya langit membumbung.
“Sebab, ke mana pun kau melangkah…” Kata si gadis berambut merah. “…aku akan selalu menemanimu, Yukki.”
***
Tangisanku pecah seketika saat menyadari tubuh Yukki dalam dekapanku sudah tak bermata angin kehidupan. Denyut nadinya terhenti. Napasnya melayang lenyap.
Sembari merengkuh erat jasadnya yang kian dingin, aku meraungkan jeritan parau ke udara. Suaraku bergema di antara puing-puing gedung yang hancur, bongkahan es yang berserakan, dan kobaran api yang membakar sisa-sisa reruntuhan.
Tikaman duka yang teramat dalam menusuk dadaku tanpa ampun. Bayangan senyum hangat Yukki mendadak terlintas di benak—mengingatkanku pada suaranya yang lembut, perhatiannya yang tulus, serta tingkah lucunya yang selalu sanggup mencairkan suasana.
Kini, hati ini rasanya dicabik-cabik melihatnya tergeletak tak bernyawa di pangkuanku, dengan darah merah pekat yang terus merembes keluar dari celah bibirnya, menodai jemariku.
Dari kejauhan, tawa renyah gadis itu seolah kembali memanggilku, terdengar begitu nyata di telinga.
Pelukan terakhirnya yang penuh arti membuat air mata tumpah ruah, membasahi syal merahnya yang telah bersimbah darah.
Gumpalan awan hitam mendadak bergulung, menutupi sinar rembulan. Dalam sekejap, rintik-rintik hujan turun membasahi sudut-sudut kota yang porak-poranda. Hanya beberapa detik, gerimis itu berubah menjadi badai deras yang seketika memadamkan setiap jilatan api, diiringi dentuman kilat kuning membelah malam dan gemuruh meriam langit yang menyentak dada.
Di tengah gemuruh badai tersebut, jeritan keputusasaanku melayang menyatu bersama serpihan hati yang telah hancur lebur.
Pedih.
Hampa.
Ingatan-ingatan kelam tentang bagaimana orang-orang tercintaku direnggut satu demi satu kembali membanjiri kepala.
Dahulu Homura-san.
Kemudian Yui.
Dan kini Yukki-san.
“Sialan.” Aku mengumpat.
Meratapi ketidakberdayaan diriku sendiri.
“Kenapa aku… selalu gagal melindungi orang-orang di sekitarku?!” Aku menjerit.
Mata air kesedihan terus menetes, lebur dalam kejamnya tamparan badai. Pakaian yang basah kuyup, genangan darah yang memudar terbilur air, dan pekatnya langit malam seolah menjadi panggung sempurna yang dirancang takdir khusus untuk merayakan penderitaanku.
Namun, sebelum penderitaan ini mencapai titik jenuhnya, sebuah bayangan muncul dari balik tirai hujan deras.