Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #9

EP 9. PRIA BERJAS HITAM

Pertandingan antara Subjek Nomor 99 dan Nomor 100 resmi dimulai.

Namun, bahkan setelah beberapa detik berlalu, dua gadis yang telah saling menopang sejak pertama kali menginjakkan kaki di dunia kelam ini tak bergeming sedikit pun.

Mereka justru saling merengkuh erat di tengah arena.

Pakaian mereka yang lusuh bergetar hebat, diiringi lelehan air mata yang tak sanggup ditahan. Dalam keheningan yang mencekam, mereka berusaha meneguhkan hati satu sama lain.

Pria berjas hitam yang menyaksikan ketidakpatuhan itu mulai kehilangan kesabaran. Amarahnya meledak.

“KALIAN BERDUA!” Panggil pria itu, galak. “APA YANG KALIAN TUNGGU?! CEPAT MULAI PERTEMPURANNYA!”

Bentakannya menggema hingga ke sudut-sudut terjauh.

Tapi tetap tak ada tanggapan.

Kedua gadis itu bergeming.

Mengakibatkan murka sang pria berambut pirang makin tak terkendali.

Mata birunya memancarkan ancaman maut. “GUNAKAN SIHIR KALIAN UNTUK MENYERANG SEKARANG.” Ungkapnya dengan nada tinggi. “ATAU KUBUNUH KALIAN BERDUA SEKALIGUS!”

Gertakan itu memicu pergerakan. Akame merenggangkan pelukannya, perlahan melepas adiknya, Yukki. Pria berjas hitam sempat menyunggingkan senyum puas—mengira pertunjukan berdarah yang ditunggunya akan segera dimulai.

Namun, ia salah besar.

Bola mata emas Akame berkilat tajam. Tanpa ragu, gadis berambut merah itu mendirikan ratusan lingkaran sihir yang seluruhnya membidik lurus ke arah sang pria berjas hitam. Ia berdiri tegap, memasang tubuhnya sebagai perisai di depan sang adik.

“…Daripada melukai adikku…”

Seketika, suhu udara di lantai terdalam laboratorium itu melonjak drastis. Gelombang panas luar biasa berkobar hebat hingga membuat kerangka besi mencair dan pilar-pilar pelindung terbakar.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah fasilitas itu, tiga lapis jeruji yang mengurung kedua gadis meleleh bagaikan lilin yang dipanggang kobaran api neraka.

Kepanikan pun melanda.

Para peneliti di ruang pengawas berusaha menyalakan sistem pendingin darurat, tetapi mesin raksasa itu justru meledak akibat beban sihir berlebih sebelum sempat berfungsi.

Sirkuit listrik mati total.

Dengan histeris, para ilmuwan mendobrak pintu keluar demi menyelamatkan nyawa mereka masing-masing.

Di bawah sana, sang pria berjas hitam sama sekali tak goyah. Meski amarah menguasai wajahnya, langkah kakinya tetap tenang menembus hawa panas, mendekati Akame yang menyelimuti dirinya dengan sihir api mematikan. Di belakangnya, Yukki membangun barikade es tipis demi menahan radiasi panas yang dipancarkan sang kakak.

“… Daripada melukai adikku sendiri…” Ia mengulangi ucapannya dengan sorot mata terbuas yang pernah ia berikan.

“… LEBIH BAIK AKU MENGHABISI SEMUA ORANG YANG ADA DISINI!!”

Sihir Api Tingkat Tinggi: Cataclysm!

DUAR! DUAR! DUAR! DUAR!

Ratusan batu meteorit berukuran raksasa menghujani pria berjas hitam tanpa ampun.

Hujan api dan batuan itu melalap segala arah, memotong seluruh celah untuk menghindar.

Ledakan beruntun pun berkecamuk hebat, meremukkan struktur aula, meruntuhkan tribun penonton, dan menyulap ruang uji coba menjadi lautan api yang membara.

Atap laboratorium hancur berantakan.

Para peneliti yang tersisa menjerit panik, berlarian menghindari pancaran aura sihir yang kian liar.

Yukki yang melihat celah di atap itu refleks mendongak, berseru nyaring, “K—Kak! Atapnya terbuka! Kita bisa lari dari sini!”

Menyadari hantamannya berhasil membentangkan jalan keluar, Akame melesat menghampiri adiknya, merengkuh tubuh Yukki ke dalam dekapan, lalu menghentakkan kaki ke lantai hingga retak seribu demi melompat ke atas.

BLAAR

Tubuhnya pun segera mengudara di atas lantai.

Tiga meter.

Lima meter.

Sepuluh meter.

Tepat ketika jemari Akame menyentuh tepian lantai atas—ruang pengawasan para peneliti—sebuah bayangan mendadak muncul dari balik gulungan asap dan api.

Tak disangka, ternyata si pria berjas hitam itu sudah berdiri di sana. Pakaian dan tubuhnya secara ajaib tak tergores sedikit pun oleh hujan meteor yang tadi seharusnya sudah meledakannya hingga tak bersisa.

Dengan helaan napas kecewa, ia menghadang jalur pelarian si kedua gadis.

“Hm… Jadi ini batas kemampuan kalian?” gumam pria itu dingin.

Lihat selengkapnya