Rintihan anak kecil itu bagaikan sihir yang mendadak membekukan semua orang di sana. Perpaduan antara cemas, takut, dan kepolosan murni dalam suaranya sanggup membuat dunia seolah berhenti berputar.
Ia muncul begitu saja dari celah gang yang gelap dan dingin. Setelah berlari-lari kecil, bocah yang mungkin usianya tiga atau empat tahun di bawahku itu mendadak berhenti. Matanya yang berkaca-kaca menatap tajam ke arahku dan rombongan pasukan khusus penumpas Malaikat Hitam. Alis tebalnya bertaut erat.
“Kalian para pendatang…” ujar bocah itu dengan suara bergetar. “… jangan sakiti Tuan Keita seenak jidat kalian!”
Keheningan melingkupi tempat tersebut tepat saat si bocah selesai bicara. Kami bersembilan membeku di tempat, berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Sementara itu, di bawah kendali benang-benang ungu milikku, Kageha Keita hanya menyunggingkan senyum misterius tanpa melontarkan sepatah kata pun.
Sebelum kami sempat mengambil tindakan, dari berbagai sudut kerajaan, ribuan penduduk asli Kuroshio berhamburan keluar dari rumah masing-masing. Mereka membawa golok, kapak, sapu lidi—apa saja yang bisa dijadikan senjata—lalu berbaris rapat layaknya pasukan militer yang siap berperang.
Melihat pemandangan itu, pandanganku langsung tertuju pada sang penguasa kerajaan yang kini sudah tak berkutik. Raut wajahku jelas-jelas menuntut penjelasan.
“Woi, sialan.” Panggilku, kasar. “Apa yang kau lakukan pada mereka?”
Namun, pria bermantel hitam di dekatku hanya mengangkat bahu. Ia bergeming, berakting seolah tak tahu-menahu soal aksi nekat warga sipil yang tiba-tiba keluar.
Tiba-tiba, seorang warga tersentak saat mengamati jubah kebesaran yang dikenakan Pangeran Lucian. Matanya yang tirus menyipit. “Pakaian itu…” Ia bergumam. “… bukankah seragam khas dari Kerajaan Voltaire?!”
“Ka—Kau benar!” sahut warga lain.
“Jadi, mereka mau mengacaukan negeri kita ini lagi?!”
“Pergi kalian jauh-jauh, penyihir-penyihir biadab!”
Gelombang seruan marah menjalar cepat dari satu titik ke titik lain bagai api yang menyambar jerami kering. Di hadapan barisan penduduk yang jelas-jelas rakyat biasa dan tak boleh disakiti, aku dan delapan anggota lainnya mendadak kehilangan akal. Kami bingung bagaimana cara meredam penolakan liar ini tanpa perlu mengangkat senjata.
Memang ada asumsi kalau ribuan orang di sekitar kami sedang berada di bawah pengaruh sihir atau obat-obatan tertentu. Namun, melihat fakta Kageha Keita dalam kendaliku tak melakukan gerakan apa pun, ditambah kesadaran warga tampak sepenuhnya normal, mau tak mau aku harus menerima kenyataan pahit bahwa orang-orang ini tulus membela pemimpin mereka, dan benar-benar menginginkan kami angkat kaki dari sini.
Si agen tudung hijau mencoba mengajak warga berunding.
“S-Semuanya, tolong tenang dulu! Sebenarnya—”
“Ke-lu-ar! Ke-lu-ar! Ke-lu-ar!”
Sialnya, bahkan Albert yang biasanya berotak dingin dan bicaranya paling manis di antara kami gagal membendung amarah massa. Bukannya didengar, dahinya malah dihantam lemparan batu besar hingga lecet dan mengucurkan darah. Ia terdorong mundur satu langkah, menyapu luka di wajahnya sambil meringis kesakitan.
Dari barisan belakang, Bella Isabella menjerit tertahan. “A—Albert!”
“Sial!” Lucian Voltaire yang semula bersiap menggunakan pedang cahayanya lagi mendadak ragu. Di antara kerumunan warga yang mendekat ternyata terdapat anak-anak, wanita, dan lansia yang tak mungkin ia serang. Pria tampan berambut pirang itu akhirnya menarik mundur anggota yang bersamanya, bergabung berdiri di dekatku. Sementara rekan yang lain langsung memasang barikade pelindung, mengacungkan senjata untuk mengantisipasi jika situasi benar-benar tidak terkendali.
Melihat kami tersudut, Kageha Keita yang masih dalam cengkeramanku terkekeh pelan. Merasa angin segar berembus ke arahnya, pria itu mulai besar kepala dan menatap kami penuh ejekan.
“Hahaha!” Tawanya tergelak. “Sepertinya kalian salah perhitungan saat masuk ke wilayah kami, penyihir-penyihir muda!” memercikkan air liur. “Saat kaki kalian melangkah ke kerajaanku yang agung, di situlah riwayat kalian akan tamat!”
“Kalian akan dikepung wargaku yang selalu setia!”
“Kalian akan dituduh sebagai penjahat!”
“Lalu dibakar hidup-hidup beramai-ramai!”