Pertarungan itu berlangsung begitu cepat—tanpa suara, tanpa henti, dan bahkan saking kilatnya, rasa sakit pun tak sempat singgah di tubuhku. Namun, tepat saat aku berkedip, sesuatu telah menembus dadaku.
Darah memuncrat deras.
Napasku mendadak tersengal tajam, menyisakan batuk yang memuntahkan cairan merah segar.
Pandanganku perlahan kabur. Dalam satu gerakan yang begitu presisi, pria berambut pirang dengan jas hitam—sosok yang persis menyerupai si Penyihir Bertopeng Kucing—muncul tepat di hadapanku.
Tangan kanannya telah menembus hingga ke punggung, basah oleh darahku sendiri. Aku hanya bisa terbelalak pasrah sebelum akhirnya roboh berdebam di atas basahnya jalanan.
Di tengah deru hujan yang kian lebat, lelaki itu berlalu begitu saja. Ia membopong jasad Yukki yang sudah tak bernyawa, meninggalkanku yang tergeletak menyedihkan di dalam genangan darah yang kian melebar.
Tanganku berusaha menggapai, merangkak di atas tanah, tetapi tubuh ini menolaknya. Aku tahu kondisiku kritis. Luka tembus sebesar ini mustahil disembuhkan dengan sihir biasa, terlebih energi milikku telah terkuras habis.
Kejadian ajaib tak akan datang dua kali.
Hari ini, di tempat ini, aku tahu aku akan mati.
Meninggalkan dunia.
Menyusul Homuro-san, Yui-san…
… dan Yukki.
Sihir Pembatal: Pembatalan Paksa!
PRANGGG!
Dunia mendadak runtuh secara dramatis.
Realita di sekitarku seolah terbuat dari cermin raksasa yang dihancurkan dari segala sisi, pecah menjadi serpihan kecil lalu menguap tanpa sisa.
Tanah yang merekah dan jalanan yang hancur surut kembali menjadi angin.
Dalam fenomena magis yang tak dapat kucerna, genangan darah di tubuhku lenyap.
Lubang mengerikan di dadaku hilang.
Yang tersisa hanyalah rasa nyeri yang menghujam tulang rusuk—seolah serangan fatal tadi tak pernah benar-benar terjadi namun bekas penderitaannya tetap nyata.
Badai hujan pun reda, mengembalikan panorama malam kota yang tenang.
Di tengah kebingungan itu, seorang wanita muda mendarat ringan tak jauh dariku. Rambut merah mudanya yang dipotong pendek membingkai wajah manisnya, dihiasi senyum tipis yang menenangkan.
"Jangan khawatir, Bocah. Sekarang kau aman bersama kami."
Dia adalah Najimi Harui, Wakil Kepala Serikat Petualang Ibu Kota.
Najimi tidak datang sendirian. Di belakangnya, rombongan berseragam hijau serta belasan kesatria kerajaan berjubah putih—lengkap dengan lambang emas yang berkilau di bahu—telah bersiaga penuh dengan senjata terhunus dan tongkat sihir berbagai warna.
Tanpa aba-aba, puluhan lingkaran sihir bermekaran di udara.
Kilat, lidah api, pasak es, bilah angin, hingga tombak cahaya melesat bersamaan, menerangi kegelapan malam dengan ledakan warna yang memekakkan telinga.
Hening sejenak merayap begitu debu sisa ledakan mengepul tinggi. Pasukan Najimi mengacungkan senjata ke segala arah, tak membiarkan kewaspadaan mereka mengendur sedikit pun.
Sesuai dugaan, di balik pekatnya debu, 'lelaki itu' masih berdiri tegak sambil membopong jasad Yukki. Secara mengejutkan, tubuhnya membelah menjadi sepuluh sosok yang identik. Mereka bergerak cepat memutari kami, memaksa seluruh rombongan membentuk formasi lingkaran protektif dengan Najimi dan aku di titik tengahnya.
Atmosfer mendadak pekat oleh aura pembunuh.
Sebelum ada yang sempat membedakan mana tubuh yang asli, kesepuluh bayangan itu menghela napas serentak.
"Astaga..." Kata mereka.
"... Tamu yang sangat merepotkan."
Mereka menerjang bersamaan dalam kecepatan yang luar biasa, membuat formasi pertahanan seketika buyar—
Sihir Pembatal: Pembatalan Paksa!
—Tapi sekali lagi, fenomena ajaib itu terjadi.
Sepuluh bayangan yang menerjang pecah berhamburan bagaikan cermin retak. Mereka jatuh ke tanah dalam suara gemerincing yang berisik, lalu lenyap.
Di saat para prajurit terpana, pria pirang bermata dingin yang asli rupanya telah mengambang satu meter tepat di atas kepala Najimi Harui. Seringai mengerikan terkembang di wajahnya, siap melepaskan tendangan maut ke leher sang Wakil Kepala Serikat—
Sihir Kristal: Tembok Safir!
BRAAKK!
—Hanya saja, ia masih kurang beruntung.
Seakan telah membaca pergerakan musuh sebelumnya, seorang penyihir berseragam hijau mengacungkan tangan. Sebuah atap pelindung dari permata safir yang begitu kokoh tercipta secara instan, menahan hantaman fatal yang nyaris merenggut nyawa Najimi.
Dentuman hebat itu sampai menggetarkan tanah di bawah kaki kami.
Sadar musuh di hadapan mereka hanyalah bayangan ilusi, para prajurit dengan cepat merapat, mempersempit ruang gerak si pria berjas hitam.
"Kita tertipu!"
“Cih.”
Pria berambut pirang itu mendecik gusar. Ia melompat mundur untuk menjaga jarak, mendarat dengan tangkas di salah satu atap rumah warga. Wajahnya menekuk jengkel.
"Jangan mengganggu tugasku, dasar orang-orang Serikat!" bentaknya dari ketinggian. "Kalian hanyalah para penyihir bodoh yang mau melakukan apa saja demi bayaran besar! Jangan menyita waktuku!"
Penyihir elemen kristal yang berdiri di depan—yang tak lain adalah Claude Vincost, Kepala Serikat Petualang Ibu Kota—terkekeh pelan. Suara seraknya terdengar santai sembari tangannya memegangi perut yang agak buncit. Sorot matanya tajam memantulkan cahaya dari balik kacamata.
"Penyihir yang melakukan apa saja demi uang..." ujar Claude perlahan, "... jauh lebih baik daripada kelompok kriminal yang tak pernah ragu menyerang orang tak bersalah."
Sihir Kristal: Tusukan Permata Zamrud!
KRAK! KRAK! KRAK!
Claude melepaskan gelombang energinya.
Kepingan zamrud hijau raksasa bertumpuk tajam meluncur deras, menembus dinding kayu dan batu rumah warga, nyaris mencabik tubuh si pria pirang jika saja ia tak buru-buru melompat ke udara.