Satu jam perjalanan yang melelahkan membawaku dan rombongan tiba di markas perserikatan petualang. Atmosfer di sekitar gedung terasa amat tegang; barisan penyihir kerajaan, personel serikat, hingga petinggi militer Voltaire sudah siaga penuh dengan senjata terhunus. Evakuasi warga berlangsung tertib dalam formasi tempur yang solid—sebuah penanda jelas bahwa tempat ini bakal menjadi gelanggang pertumpahan darah.
Begitu kami menapakkan kaki di pelataran, Najimi Harui dan Claude Vincost disambut bungkukan penuh hormat. Tanpa membuang waktu, Najimi memberi instruksi taktis sembari meminta seorang penyihir medis berambut putih untuk menangani luka dadaku yang parah. Aku dibaringkan di atas sofa beludru merah.
Wanita itu menempelkan kedua telapak tangannya di atasku. Tak lama, pendar cahaya putih hangat menyembur deras. Rasa sakit yang menusuk akibat tulang rusuk yang patah menguap seketika; struktur dadaku tersusun kembali dengan sempurna, kokoh seolah tak pernah dihantam benturan. Aku refleks duduk dan meraba dadaku—sama sekali tak ada rasa nyeri, walau tubuhku masih dibelit kelelahan ekstrem akibat kehabisan mana ilusi.
"Anri Heart," ucapnya ramah sembari mengulurkan tangan.
"Takagi Amuro," balasku agak canggung.
Ia tersenyum manis. "Nama yang indah dan terasa sangat tradisional, Amuro-kun."
"A-ah, tidak juga... Masih banyak nama lain yang jauh lebih bagus," sahutku sembari menggaruk tengkuk yang tak gatal.
Tawa kecil keluar dari bibir Anri. "Kau terlalu rendah hati."
Tak lama kemudian, Najimi menghampiri kami bersama beberapa perwira berseragam hijau. Wajah ramah yang biasa ia tunjukkan kini sirna, berganti riak keseriusan yang pekat.
"Tiga Panglima Besar Kerajaan Voltaire ingin menemuimu secara pribadi, Amuro-kun. Mereka ingin membahas Shirayaki Yukki, komplotan berjas hitam... dan Sihir Peniru milikmu," ujar Najimi.
Pernyataan itu membuatku tersedak air minum yang baru saja diberikan Anri. "Pe-petinggi militer?! Kau tidak sedang bercanda, kan, Harui-san?"
"Aku seratus persen serius," potong Najimi cepat. Ia lalu membeberkan fakta yang membuat jantungku berdegup kencang. "Sihir Peniru bukanlah sihir sembarangan. Itu adalah anomali langka yang hanya bisa dimiliki oleh satu orang saja di muka bumi pada satu era."
"Cuma... satu orang?" ulangku terbata-bata. "Bagaimana kalau ada pengguna lain di tempat yang berbeda?"
Najimi memilin anak rambut merah mudanya sejenak sebelum menjelaskan aturan absolut di balik kekuatan tersebut.
"Jika dua pengguna Sihir Peniru bertatap muka, akan terjadi fenomena regresi tak terhingga—seperti sebuah aturan pintu yang saling mengunci secara berantai tanpa ujung.”