Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #120

AKHIRNYA BISA BICARA

“Dengan kata lain, kalian berniat menyeberang ke Benua Terlarang melalui wilayah kami demi sebuah ekspedisi rahasia, dan bersedia menggelontorkan bayaran fantastis asalkan kami mau diajak bekerja sama serta tutup mulut sampai misi selesai, begitu?”

Kageha Keita memijat-mijat dagunya seraya menunduk. Sesekali ia mengusap wajahnya yang tampak suram. Di sisinya, duduk sang permaisuri muda yang cantik—sosok yang sebenarnya memegang kendali sebagai kepala majelis rakyat, pihak yang tadi sengaja menggerakkan massa. Tepat di dekatku, Lucian dan rekan-rekannya duduk berhimpitan.

Tak lama, beberapa pelayan datang membawakan hidangan makan siang yang masih mengepul, menyebarkan aroma bumbu yang tajam dan menggugah selera. Dengan gestur penuh hormat, Tuan Keita dan permaisurinya mempersilakan kami menyantap hidangan tersebut tanpa ragu.

Aku merespons singkat dengan nada datar. “Persis seperti yang kubilang, Keita-san. Perlu ditegaskan, di sini kami bergerak secara independen di bawah komando tunggal dariku. Kerajaan Voltaire sama sekali tidak punya hak untuk mengintervensi langkah kami. Jadi, kalian tidak perlu cemas bahwa kami bakal memicu kekacauan di wilayah ini.”

“Tunggu sebentar.” Sang Permaisuri berambut biru gelap sepunggung mendadak memotong. Matanya menatap kami tajam. “Bukankah beberapa saat lalu kalian baru saja memicu kekacauan besar?”

Tanpa rasa bersalah sedikit pun, Lucian Voltaire malah tertawa lepas. Tangannya terangkat, menunjuk tepat ke arah hidungku. “Bukan ‘kalian’, Nona. Tapi bocah ini sendirian yang melancarkan pembantaian sadis itu. Kalau Anda berniat menjatuhkan hukuman, sebaiknya—”

“—Jangan mengungkit lagi masalah yang sudah rampung,” potongku, dingin. “Yang terpenting, aku sudah menyembuhkan mereka semua dan membangkitkan mereka dari kematian, bukan?”

Tentu saja berkat bantuan Irene-san, bisikku lirih dalam hati.

Sang Permaisuri—yang naluri pembela rakyatnya amat kental—jelas belum bisa menerima begitu saja. Ia melayangkan tatapan sinis yang tidak bersahabat, khusus tertuju padaku.

“Namun, Bocah, fakta itu sama sekali tidak menghapus kenyataan bahwa kau telah membantai mereka—apa aku salah?”

“Hah?” Dahiku terlipat kesal. “Memangnya siapa duluan yang bertindak mencurigakan dan memancing amarah kami?”

“Te—Teman-teman... Bukankah kita duduk di sini untuk bertukar pikiran secara terbuka? Pembahasan ini tampaknya mulai melenceng jauh dari tujuan awal...” Lagi dan lagi, Albert Gradieve mengambil peran sebagai juru damai di antara dua kubu yang saling pasang urat.

Ketegangan merayap kaku selama beberapa detik yang mencekam.

Setelah aku dan permaisuri galak itu sama-sama menghela napas berat, Kageha Keita akhirnya mengalihkan kembali pembicaraan. Ia menatapku penuh selidik.

“Tapi begini...—siapa namamu tadi?—Ah, Takagi Amuro...” Sorot matanya menyipit. “Uang yang kalian janjikan untuk kerajaan ini adalah seribu koin emas per kepala yang berangkat ke Avelorn. Artinya, jika dikalkulasikan dengan jumlah rombongan kalian, totalnya mencapai 9.000 koin emas sebagai upah menyeberangi lautan Benua Selatan yang ganas...”

Ia menjeda ucapannya sejenak.

“... Apakah kalian benar-benar memegang uang sebanyak itu?”

Ugh!

Lihat selengkapnya