PRANK!!
Di tengah impitan situasi yang kian kritis, aku memaksa sihir peniruku membumbung aktif.
Dengan sisa-sisa stamina yang nyaris menguap, ingatan tentang struktur aktivasi sihir pembatal milik Najimi Harui—yang sempat kusaksikan beberapa saat lalu—kupanggil secara paksa. Sebuah keputusan nekat yang langsung membuahkan hasil: lingkaran sihir raksasa di depan kami mendadak retak, lalu hancur berhamburan.
Meriam api beriklim neraka yang seharusnya sanggup menyulap tubuhku menjadi abu dalam sekejap mata pun gagal menyembur.
Hening sejenak.
Orang-orang yang sedari tadi menahan napas menyaksikan lingkaran sihir itu mulai bernapas lega. Para penyihir yang mengerdil di balik tameng darurat perlahan menyembulkan kepala, meluruhkan perisai sihir mereka satu per satu.
Hah... hah...
Aku, yang nyaris menyerahkan nyawa di detik-detik terakhir lantaran belum menguasai kekuatan sendiri, terkulai lemas di atas sofa. Keringat dingin mengalir deras dari pelipis. Napasku memburu, tersengal-sengal.
Mataku terasa agak berat.
Benar-benar...
… kekuatan yang menyiksa.
Dengan mencoba meniru sihir Najimi Harui yang unik dalam tekanan situasi si panglima, aku akhirnya sadar bahwa kemampuan peniru yang kumiliki ini memiliki suatu efek samping yang merepotkan.
Jika sihir yang hendak ditiru merupakan sihir yang asing, langka, atau memiliki daya besar, maka tenaga dan energi yang terkuras dari tubuhku juga meningkat drastis. Ini seperti aku memiliki sejumlah alat tukar di pasar, lalu memilih beberapa komoditas jurus sihir yang akan kugunakan di medan perang.
Dan sihir pembatal Najimi Harui masuk dalam kategori barang mahal yang seketika menguapkan banyak energy sihirku.
"Wah~! Hebat sekali dirimu, Amuro-kun~! Aku sampai terpana melihatnya!” Memecah lenggang yang sama sekali tidak lucu, panglima ketiga Orihara Kanae memegangi kedua pipi.
“Jadi itu yang namanya sihir peniru, ya~? Aaah~! Aku jadi ingin memilikinya juga!"
Tanpa dosa, pria tersebut memekik kegirangan seraya menepuk-nepuk tangan. Matanya membulat lebar. Suara tepuk tangannya bergema sendiri di tengah kantor perserikatan yang mendadak lengang.
Ia menciptakan atmosfer canggung yang kental. Lantas mengusap-usap puncak kepalaku yang masih berukuran bocah dua belas tahunan.
Hanya saja, ketika euforia Orihara Kanae baru saja meledak, tak berselang lama, sebuah gerakan mantap dari Ikidori langsung menyeret sosok itu keluar bersama beberapa penyihir kerajaan berseragam putih.
Anri Heart yang memahami apa yang akan terjadi bergegas mengekor di belakang. Ia jelas khawatir jika nantinya Ikidori hilang kendali dan mematahkan tulang Orihara-san, ia bisa langsung menyembuhkannya di tempat, menghindari tragedi tewasnya salah satu panglima berharga kerajaan hanya karena alasan konyol.
Setelah situasi terasa agak stabil, pria berambut hitam panjang di hadapanku berdehem tiga kali. Panglima Armada Pertama Kerajaan, Moris Wesley, melangkah mendekat. Ia membungkukkan badan sedikit sebagai tanda hormat sebelum mulai bersuara.
"Maaf, nampaknya saya akan langsung berbicara pada inti tanpa kehadiran kedua teman saya."
Aku menggeleng lemah, menghela napas berkali-kali untuk menetralkan detak jantung. "Tidak masalah...” Kataku, mengatur intonasi. “Anda bisa langsung bertanya kapan pun Anda mau, Moris-san."
Jujur saja, tanpa kehadiran dua panglima yang gila itu, pembicaraan ini bakal jauh lebih beradab.
Didampingi Kepala Serikat dan wakilnya, Moris Wesley menarik sebuah sofa hingga berhadapan tepat di depanku. Ia duduk, lalu menopang dagunya dengan kedua telapak tangan. Matanya menatapku lurus. Interogasi pun dimulai.
"Langsung saja, Amuro-kun."
Aku mengangguk seraya menelan ludah yang terasa pahit.
Suasana yang baru saja sedikit cair beberapa detik lalu langsung membeku kembali.
"Pertanyaan pertama…”
“… Kau ini berada di pihak siapa?"
Kalimat yang meluncur barusan ibarat belati yang segera menancap tepat di dada. Cara bicara panglima pertama yang berubah seratus delapan puluh derajat serta-merta mengubah penilaianku terhadap sosok tersebut.
Kupikir ia akan mengulur waktu sejenak dengan basa-basi formal yang sopan. Namun, menyadari bahwa sejak detik pertama pria ini sudah melancarkan serangan terbuka, aku segera mengendalikan diri dan menjaga ekspresi wajahku. Menjawab.
"Untuk hal itu...” Ungkapku, menggantung. “… Aku belum bisa memastikannya, Moris-san."
Jawaban ambigu yang terlontar dari mulutku bagai sambaran petir di siang bolong. Orang-orang dari Serikat Petualang dan para penyihir kerajaan yang mendengarnya mendadak terperanjat. Claude Vincost dan Najimi Harui hampir terpekik, beruntung masih ingat bahwa ini adalah ranah pembicaraan antara Panglima Moris denganku secara pribadi.
Bocah bodoh!—cerca Najimi Harui dalam hati. Wanita itu sudah siap-siap mencubit pipiku begitu interogasi ini usai.
Apa yang kau bicarakan di depan Panglima Moris, hah?!
Kendati orang-orang di sekitarnya tersentak, Moris Wesley tetap bergeming. Wajahnya dingin tanpa kedipan. Sebuah seringai tipis terukir di bibirnya, memancarkan sinyal intimidasi yang amat pekat.
"Amuro-kun…” Panggilnya, pelan—tapi dengan ekspresi dingin yang berusaha disembunyikan.
“… Bisa kau ulangi ucapanmu sekali lagi?"
Ungkapan barusan tentu merupakan ancaman yang diberikan secara halus.
Aku tahu posisiku disini terlalu terjepit dan tidak menguntungkan untuk suatu pembicaraan terbuka antara kedua belah pihak. Namun, aku menolak untuk gentar dan tunduk kepada panglima berwajah kaku ini. Biarpun kedua kakiku gemetaran di bawah, aku tetap menatap matanya dan menjawab mantap.
"Baiklah, tidak masalah.” Kuterima permintaan panglima tersebut.
“Seperti yang kukatakan barusan, aku tidak akan berdiri di suatu pihak secara khusus, Moris-san. Entah itu Kerajaan, Serikat Petualang, atau bahkan pria berjas hitam yang tadi sempat mengincar Yukki-san. Aku ini netral dan pendatang yang baru saja mengenal kehidupan ibukota beberapa hari yang lalu."