Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #13

EP 13. AKHIR KISAH DUA JIWA ELEMENTAL--EPILOG PART 2

Wajah elok yang dibalut kesuraman itu tersembunyi di balik helaian rambut biru muda yang melambai diterpa angin. Semerbak lembut vanila yang berpadu hangat dengan kayu cendana mengiringi setiap embusan udara di sekitarnya. Harumnya begitu menenangkan, seolah sanggup mengikis kegelisahan siapa pun yang berada di dekat sosok tersebut.

Sepasang bola mata zamrud gadis itu menatap lekat sebuah syal merah yang terpajang di dalam butik. Manik matanya berkali-kali mengerjap, berkilau bagai permata yang menangkap pendar cahaya.

Disergap rasa malu, tangan halus sang pemilik mata indah terulur—hendak menyentuh kain syal hangat. Namun, gerakannya terhenti oleh rintangan yang tak kasat mata. Bulu matanya yang tebal dan lentik berkedip kaget; ia tak menyadari kepingan kaca toko yang begitu jernih membatasi langkahnya.

Dengan perlahan, ia menarik tangannya kembali.

Di bawah naungan terik yang memukau, gadis berambut biru berdiri cukup lama. Ia berpindah dari satu toko ke toko lain, hingga seorang wanita asing yang kebetulan melintas memperhatikannya.

Wanita berambut merah muda pendek itu mendekat, lalu menyentuh bahunya lembut, memancing sang gadis jelita untuk menoleh.

Sebuah ukiran senyum simpul menyambut penglihatannya—senyuman hangat pertama yang ia terima sepanjang pengembaraannya di ibu kota. Gadis itu tertegun sejenak.

Lalu-lalang manusia memadati pasar besar ibu kota.

Para pedagang di sepanjang jalan saling bersahut-sahutan, menjajakan dagangan, memanggil calon pembeli, hingga memamerkan promo dengan suara lantang.

Di balik senyuman hangat, wanita berambut merah muda yang membalut tubuh dengan mantel hijau seperti seragam mengajukan pertanyaan penuh keramahan.

"Selamat siang, Nona Muda!” Panggilnya dengan tangga nada sol yang khas. “Aku Najimi Harui dari Perserikatan Petualang—kau pasti pendatang baru di kota ini, kan?"

Untuk beberapa saat, gadis berambut biru muda itu terdiam kebingungan.

Ia tak tahu harus merespons apa.

Manik matanya berkedip pelan, memancarkan rona hijau zamrud yang teduh.

Najimi melanjutkan dengan nada persuasif.

"Apakah kau tertarik bergabung bersama kami menjadi seorang petualang?” Tawarnya.

“Jika bergabung, hidupmu di ibu kota akan jauh lebih terjamin. Kau bisa mengumpulkan banyak koin emas, mendapatkan teman-teman baru, dan tentu saja memiliki pengalaman bertempur yang baik—Bagaimana? Sangat mendebarkan, bukan?"

Dicecar pertanyaan bertubi-tubi, gadis berambut biru yang jarang bersosialisasi merasa suaranya tertahan di tenggorokan.

Ia menunduk, berusaha mencerna setiap kata.

Keheningan canggung sempat merayap di antara mereka.

Najimi Harui merasa jewewetan karena sikapnya sepertinya memang terlalu agresif. Ia menggerutu canggung di dalam hati.

Di sisi lain, gadis yang ditawari disergap oleh keraguan.

Tubuhnya bergetar hebat, memutar lagi ingatan kelam yang amat menakutkan.

Kepercayaan di dalam dirinya telah runtuh sejak beberapa waktu yang lalu.

Entah itu kepercayaan terhadap diri sendiri, atau kepercayaan terhadap senyuman orang lain.

Di balik benaknya, kilasan senyum dan tawa hangat bermunculan seperti mimpi yang dijejalkan dalam keadaan sadar, kemudian secara brutal tergantikan oleh pekikan histeris, tumpukan mayat, dan genangan darah yang pekat.

Gadis itu ingin menangis tanpa alasan.

Ia ingin lari.

Ia tidak mau melibatikan orang lain dalam kehidupannya sekali lagi—mengulangi kesalahan yang sama.

Namun wanita bernama Najimi Harui tidak tinggal diam melihat kelakuan pendatang asing yang tiba-tiba aneh tersebut. Ia memeluknya erat. Mengusap kepalanya seperti seorang kakak yang menemukan adiknya setelah bertahun-tahun berpisah.

Wanita bermantel hijau itu berbisik.

“Tenanglah, kau tidak perlu mengkhawatirkan sesuatu di ibukota yang aman begini… ya? Kalau kau menangis tiba-tiba, orang lain akan menyangka aku memperlakukanmu dengan buruk.”

Najimi Harui lalu tertawa hambar.

Tapi gadis berambut biru muda merasakan dirinya jadi lebih baik dalam dekapan wanita tersebut.

Dengan perlahan, ia menganggukan kepalanya tipis sebagai pertanda ia sudah baik-baik saja. Setelah menatap ujung sepatu, membisikkan suatu kata pada dirinya sendiri, gadis ber-sweater putih yang memanggul tas besar—kontras dengan perawakannya yang mungil—itu akhirnya mengulurkan tangan dengan wajah bersemu merah karena malu.

Sorot matanya menyipit.

"Shi—Shirayaki Yukki," bisiknya pelan, menatap lurus ke arah Najimi Harui seraya mengukir senyuman paksa.

"Mohon bantuannya!"

Najimi sebenarnya sempat terpaku.

Bukan sekadar karena paras elok gadis di depannya begitu memukau hingga ia membeku di tempat, melainkan karena senyuman kecil yang diberikan gadis ini tampak begitu rapuh.

Seolah baru pertama kali terpancar setelah bertahun-tahun terkubur dalam kegelapan.

Namun, Najimi segera menepis berbagai asumsi anehnya. Membalas. "Ah, te—tentu saja!” Ia menggappai uluran tangan gadis bernama Shirayaki Yukki.

“Karena Najimi Harui ini adalah wanita yang sangat baik, aku akan membantumu untuk sampai dan berhasil di perserikatan petualang, Shirayaki-san! Bersiaplah!"

Keduanya lantas melangkah bersama.

Najimi Harui berjalan di depan, sementara Shirayaki Yukki mengekor dari belakang.

Manik matanya terus menatap punggung Najimi dengan agak waswas, takut tertinggal atau tersesat di tengah keramaian—tapi ia terlihat jauh lebih senang daripada sebelumnya.

Keduanya pun menyusuri jalanan kota yang riuh. Setelah menunggu sejenak di dekat jalan raya, mereka menaiki kereta kuda yang terhitung murah, dan berbincang di dalam kabin yang sepi meski sebagian besar hanya diisi oleh celotehan Najimi.

Tak perlu waktu lama, sepasang kawan baru itu tiba di hadapan sebuah gedung megah berlantai lima.

Pintu masuknya dihiasi undakan batu putih bersih dengan dua penyihir berseragam putih tengah berjaga melalui senjata tersarung di pinggang.

Melesat turun dari kereta kuda sambil mendongak, Yukki mengukir senyuman lebar tatkala menyaksikan arsitektur bangunan yang begitu anggun meski terkesan simpel. Untuk pertama kalinya, ia menyaksikan sebuah tempat yang mungkin bisa ia sebut sebagai 'rumah' baru bagi gadis tersebut.

Melalui kepingan kaca besar yang tembus pandang dari jalanan, interior kantor perserikatan terlihat begitu rapi. Perpaduan warna krem dan cokelat antik menghadirkan nuansa berkelas yang penuh wibawa.

Orang-orang berhawa misterius berhilir-mudik.

Lihat selengkapnya