Hari itu adalah hari kematian Chloe—ibu dari Eva Garden yang masih sangat kecil dan polos.
Pada pagi hari yang diliputi kabut tebal seperti biasa, seusai menyantap sarapan lezat, wanita itu mendadak mendekap erat putri semata wayangnya. Menangis sesuggukan cukup lama.
“Maafkan Ibu, Eva... Maafkan Ibu...” Chloe Garden mengulang-ulang baris kalimat itu bak deretan mantra yang rapuh.
Eva Garden sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Pikiran pendeknya sebagai bocah sepuluh tahun membuatnya tak bisa berpikir dalam terlalu jauh. Namun, dengan sisa-sisa memori yang dimilikinya, ia masih ingat.
di pagi yang sama, rumah mereka saat itu kedatangan tamu.
Tamu tersebut adalah dua orang prajurit yang mengaku membawa surat resmi dari kerajaan. Setelah mengucap salam formalitas dan sedikit membungkuk, keduanya meminta sang ibu untuk ikut menghadap atas urusan yang—katanya—teramat penting.
Gadis kecil itu kehilangan ayahnya sejak ia masih berada dalam kandungan.
Maka, tatkala kabut putih perlahan menyerap dan mengaburkan punggung ibu yang kian menjauh bersama kedua prajurit, Eva hanya bisa melambaikan tangan seorang diri, melumat pelan bibirnya yang kering.
Sang ibu memang sempat berpesan bahwa ia akan pulang menjelang sekitar tengah malam. Ia mewanti-wanti Eva agar tak perlu repot-repot menunggu, menyuruhnya mengambil sisa roti di dapur jika perutnya merasa lapar—
—Namun Eva enggan menurut.
Didorong rasa waswas yang menggelayut di dadan, Eva nekat begadang semalaman di balik pintu.
Ia menunggu dengan kesabaran yang patut dipuji hingga kedua kaki mungilnya bengkak dan pegal. Ketika fajar menyingsing dan Eva tersadar dari tidurnya di depan pintu, ia mendengar ketukan samar tiga kali dari pintu yang berada di hadapannya.
Tuk. Tuk. Tuk.
Senyum di paras mungil Eva seketika mekar dengan sempurna.
Ibu! Ibu sudah pulang!
Eva mengira ketukan itu adalah pertanda bahwa sosok tersayangnya telah kembali, pulang sedikit terlambat dari waktu yang sebelumnya dijanjikan.
Namun, begitu gagang pintu ditarik, figur yang berdiri di ambang pintu bukanlah sang ibu yang berambut hitam mengombak, melainkan dua prajurit kerajaan yang kemarin mengantarkan surat, datang dengan wajah suram.
Bola mata Eva membulat lebar.
Jantungnya berdegup kencang—sang ibu tak ada bersama mereka.
Banyak hal yang ingin ditanyakan oleh gadis kecil yang terlalu polos untuk menerima berbagai kabar berat. Namun, tanpa basa-basi, kedua prajurit yang tak berniat menyembunyikan kebenaran langsung angkat bicara. Mereka menyerahkan selembar perkamen aneh yang dipenuhi deretan tulisan Latin. Menepuk bahu Eva pelan dengan penuh pengertian.
Gadis itu, yang masih terlalu belia, tentu tak sanggup membaca deretan huruf yang terpampang di hadapannya. Namun kelak, tatkala ia tumbuh dewasa dan memperoleh pendidikan yang layak, ia akan memahami bahwa perkamen yang diantarkan ke rumahnya pagi itu adalah surat kematian—sekaligus klaim jaminan asuransi dari kerajaan untuk menanggung seluruh biaya hidupnya hingga akhir hayat.
Di bawah kabut tebal Kuroshio yang tak pernah surut, di balik bayang-bayang kerajaan kecil yang suram, Eva Garden menangis histeris saat dua prajurit membisikkan beberapa kalimat singkat yang menusuk, lalu izin undur diri. Jeritannya memecah sunyi ketika pintu rumah kembali ditutup, mengiris udara pagi yang membeku.
Ibu tersayangnya telah tewas.
Ia dijadikan tumbal bagi Naga Lautan Benua Selatan yang kembali mengamuk beberapa waktu lalu melalui undian.
Dan Eva Garden…