Malam hari—atau mungkin sore sebab tak mudah membedakan waktu di negeri yang senantiasa diliput kelam ini—sebuah kabar mendadak menghantam penginapan Ordo Flageon yang kupimpin di pusat kerajaan.
Jalanan perkotaan yang biasanya mati kini mendadak bising. Warga berbondong-bondong berlarian ke satu arah. Lantai bangunan berguncang berkali-kali, menghantarkan getaran mirip gempa bumi yang konstan.
Namun, lupakan sejenak kekacauan di luar.
Yang lebih mengejutkan daripada keadaan itu, sosok yang membawa berita buruk ke hadapan rombongan pembasmi Malaikat Hitam... adalah Sang Permaisuri sendiri.
Wanita itu berdiri terengah-engah di ambang pintu kamarku.
Paras cantiknya pucat pasi.
Ia mengenakan zirah serba hitam yang didesain khusus untuk pertempuran—dengan sedikit selip bercak darah menyepuh wajah bersihnya—menatapku dengan sepasang mata yang berkaca-kaca.
“Tu... Tuan Penyihir!” Cara memanggilnya berubah total dibanding saat pertama kali kami bersua.
Tanpa ragu, Kepala Majelis Rakyat yang terkenal galak dan angkuh itu bersimpuh tepat di hadapanku. Segenap harga diri yang dimilikinya luruh saat ia merebahkan dahi, menempelkannya pada lantai kayu yang berdebu.
Ia menangis.
Tangisan melengking yang teramat keras, dan tak pernah kubayangkan akan keluar darinya.
Sang Permaisuri menjerit di balik isakannya.
“Kami mohon!”
Satu bulir air mata tumpah lagi dari dagunya yang lancip.
“Pinjamkan kami kekuatan Anda, dan kami berjanji akan mengabulkan apa pun permintaan Anda setelah ini tanpa syarat!”
Mataku mengerjap berkali-kali, begitu pula dengan Yukki yang masih terbaring di ranjang yang sama. Beberapa anggota yang terbangun dari tidur pulas tampak mengusap wajah mereka yang kaku.
Ketika pandangan kami menyatu, kami mendapati fakta yang sama bahwa istri Tuan Keita yang belum lama ini tidak menghargai kami kini mengorbankan seluruh martabatnya, memohon sampai bersujud di lantai penginapan.
“Tolong...” ratap Permaisuri dengan suara gemetar ketakutan.
“… Tolong selamatkan kami dari amukan monster Hutan Kabut yang datang dari arah selatan!”
***
Gadis itu merasa tubuhnya tak lagi milik dirinya sendiri.
Meski kehangatan, rasa dingin, bahkan rasa sakit masih sanggup dieja oleh sarafnya, segala gerak-gerik raga yang ia miliki seolah dikendalikan entitas asing.
Ia ingin melawan.
Ia ingin memberontak.
Namun, jiwanya yang terlalu kaku tidak mampu untuk mengambil alih kendali kembali.
Satu-satunya yang sanggup gadis itu lakukan hanyalah menjadi penonton pasif di balik sepasang matanya sendiri.
Ia menyaksikan jemarinya membantai, menusuk, tertawa kegirangan, lalu menjilati darah musuh yang melumasi telapak tangannya bak seorang psikopat.
Ia sadar ia telah gila—tapi ia tak sanggup menghentikannya.
Bukan berarti gadis itu adalah sosok suci seperti pendeta; ia memang wanita yang sadis dan cacat secara moral. Akan tetapi, menyaksikan pembantaian dari sudut pandang ketiga ini menghadirkan jenis kebahagiaan yang aneh.
Ia senang. Ia menyaksikannya. Tetapi, ia tak merasa kebahagiaan itu adalah miliknya.
Apa kata orang-orang?
Hampa.
Di dalam kepala yang gadis tersebut punya, sebuah instruksi bergema terus-menerus di kedua telinga yang runcing. Suara itu bergetar tajam, memerintahkan tubuhnya untuk terus bergerak—membabat habis siapa pun yang menghalangi jalan dengan kejam.
Gema itu terdengar seperti titah raja yang mutlak, tak dapat ditentang. Tak dapat digugat.
“Habisi,” bisik suara itu pelan. Yang kemudian dilanjutkan ke mulut si gadis secara refleks dan spontan.
“Habisi.” Seringainya melebar.
“Habisi."
"Habisi. "
"Habisi. Habisi. Habisi. Habisi... HABISI!”
Tanpa sadar, bibir wanita bertelinga tajam yang tubuhnya seolah kebal luka menirukan mantra murka tersebut. Ia tak mengamuk sendirian. Di sisinya, seorang gadis berukuran lebih kecil berkimono merah melayang di udara secara ajaib. Gadis itu melesatkan puluhan kertas mantra merah membara yang meledak hebat, memuntahkan berbagai Sihir serangan berbagai elemen.
Sama halnya dengan si wanita bertelinga runcing, raut wajah gadis berkimono merah itu kian menyimpang. Ia meracau kepada dirinya sendiri—bukan sebagai penyemangat atau pengalih rasa perih, ceracau itu justru merupakan indikasi bahwa jiwanya telah terkontaminasi oleh kuasa asing di luar tubuhnya sendiri.