Serangan ribuan monster yang merambat ke berbagai penjuru memaksa kami berpencar menjadi tiga regu. Berbekal tabung perak komunikasi yang ajaib, kami memelihara kontak—saling menukar kabar dari medan tempur masing-masing.
Pembagian kelompok ini memang tak merata. Noelle, Lucian, Finn, dan Nona Eva menyisir wilayah timur; Yukki-san bersama sisa anggota Ordo bergerak ke barat; sedangkan aku memilih menyongsong gelombang musuh dari garis selatan seorang diri.
Awalnya, beberapa orang—termasuk Yukki—menolak keras keputusanku untuk bergerak sendiri. Mereka mengkhawatirkan keselamatanku sebagai aset berharga, berbahaya sekali jika tidak ada orang lain yang menolong. Namun, begitu aku merapalkan sihir pemanggilan yang mendatangkan sekelompok monster dalam hitungan detik, protes mereka bungkam seketika. Tanpa membuang waktu, mereka langsung bergerak ke sektor masing-masing. Berangkat berdasarkan regu yang dimasuki.
Kini, di hadapanku, berdiri sesosok makhluk mengerikan yang teramat kukenal.
Minotaur.
Monster kerbau raksasa berbulu lebat dengan tanduk yang siap merobek langit itu mendadak muncul dari balik debu, menyeruduk dan meruntuhkan barisan pemukiman warga dalam sekali hantam.
Aku tak berniat menyerangnya secara asal-asalan seperti diriku yang dulu. Di medan perang berskala masif, stamina dan energi sihir adalah komoditas yang teramat krusial.
Langkah yang kuambil sangat pragmatis: memanggil senapan laras panjang dari dimensi penyimpanan tak terbatas, lalu membidikkannya ke depan—menerobos jarak di antara sisa-sisa warga dan ratusan monster yang mengamuk.
Lusinan Grovak yang kupanggil bekerja jauh lebih efisien dari perkiraan. Kendati para warga awalnya menjerit ketakutan melihat kehadiran mereka, makhluk-makhluk itu justru menerjang gelombang musuh dari selatan, mengamankan jalur evakuasi dengan presisi di luar batas harapan.
Nafasku kuatur sambil menyentuh pelatuk yang dingin.
Mataku memicing fokus.
Sihir Peniru: Tiruan Sihir Api Modifikasi — Peluru Api Terkonsentrasi.
DZING!
Letupan senjata yang kugunakan sejatinya memanfaatkan daya dorong ledakan mesiu di dalam selongsong. Namun, karena aku menyuntikkan peluru sihir, maka laras, pelatuk, dan kekang bidik hanyalah media perantara demi melontarkan serangan berkekuatan masif secara presisi—sebuah bentuk penghematan energi sihir yang fantastis.
Peluru magis itu melesat membelah kabut Kuroshio yang putih dan tebal.
Diiringi desingan kencang yang memotong udara, peluru itu melesak masuk tepat ke dalam salah satu bola mata Minotaur. Menghancurkan keseimbangan tubuhnya seketika.
Tubuh besarnya oleng ke samping, merobohkan gedung besar di dekat makhluk tersebut. Puing-puing bangunan yang hancur berhamburan menggulung puluhan monster lain yang berada di sekitar. Jeritan kematian saling bersahut-sahutan bersamaan dengan anggota tubuh yang terlindas dan putus bercipratan arah.
Sebuah efisiensi sihir yang patut dipuji.
"Ka—Kau... Penyihir bocah yang tadi membunuh orang-orang, kan?!"
Dari balik kekacauan medan tempur—di antara genangan darah yang berceceran—seorang pria melangkah mendekat dengan gestur ragu dan wajah pias.
Aku melirik sekilas, lalu mengenali sosoknya.
Dia adalah orang pertama yang tadi kuhabisi saat kerusuhan demonstrasi meletus beberapa saat lalu. Namun kini, pria itu tak lagi melayangkan tatapan penuh dendam atau kebencian. Sambil merengkuh bayinya yang selamat bersama sang istri, ia membungkuk dalam-dalam di hadapanku. Lalu pria itu berseru penuh penyesalan.
"Ma... Maafkan tindakanku sebelumnya!” Suaranya bergetar bersamaan dengan guncangan tanah yang tercipta akibat bangunan roboh.
“Tapi... terima kasih!” Lanjut pria itu. “Kau telah menyelamatkan keluargaku yang berharga!"
“Selamat berjuang!”
Usai berujar pasrah, mereka bergegas lari ke area belakang di bawah pengawalan sejumlah Grovak.
Aku mengalihkan bidikan ke arah monster berikutnya di barisan depan, menyunggingkan senyum tipis yang getir.
"Menyelamatkan keluargamu yang berharga, ya..." Aku terkekeh pelan.
"...Apa-apaan."
Kuda-kudaku kembali terkunci.
"Katakan hal itu saat perang ini benar-benar berakhir, Paman."
Sihir Peniru: Tiruan Sihir Api Modifikasi: Peluru Api Terkonsentras—Sepuluh Kali!
DZING! DZING! DZING! DZING! DZING!
Sementara itu, di sektor timur, kelompok Lucian, Noelle, Finn, dan Eva Garden bertarung mati-matian menahan gempuran Slime Parasit yang bergerak sangat lincah.
Kalah jumlah dan pergerakan, keempatnya harus memeras otak demi meminimalisasi jatuhnya korban jiwa dari pihak sipil.