Sinar rembulan mencuat dari balik gulungan awan, memancarkan pendar redup nan mistis yang menerangi kehancuran di pinggiran kota. Cahaya dingin itu terpantul di antara bongkahan es yang perlahan meleleh, menyatu dengan pendar jingga kobaran api yang tak kunjung padam.
Di balik reruntuhan bangunan yang porak-poranda, seorang gadis mungil berambut hitam keunguan dengan manik mata putih polos menatap rembulan. Pandangannya sayu dan kosong—seolah nyawanya telah melayang jauh dari sana.
Di sisinya, berdiri seorang pemuda berambut perak dengan garis mata yang amat sipit. Wajahnya ramah, mengukir senyum tipis yang tak pernah pudar. Sementara itu, tak jauh dari mereka, seorang pria berambut pirang panjang yang setengah tubuhnya bertelanjang dada melangkah mendekat dengan tatapan kecewa.
"Sialan... Kalian lama sekali," umpat pria pirang itu.
Tanpa membuang waktu, ia menusukkan jarum suntik berisi serum hijau pekat ke lehernya. Dalam sekejap, struktur tubuhnya yang tadi membesar dan kekar menyusut kembali ke ukuran normal. Ia memungut jas hitam yang tergeletak di jalanan berdebu, menyampirkannya ke bahu untuk menutupi lengannya yang terbuka. Ujung jas itu berkibar dimainkan angin malam.
Dengan ekspresi riang, pemuda berambut perak membalas seraya mengangkat bahunya santai.
"Ya ampun, Jade-san~... Kau ini kasar sekali, sih~! Enma-chan yang mungil dan imut ini mana mungkin kusuruh berlari menyusulmu—yang bahkan gagal membawa tubuh Yukki kemari?"
Pemuda itu lantas memeluk tubuh Enma dari belakang. Gadis kecil itu sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari langit, mematung pasrah bak boneka kain.
Pria bernama Jade itu mendecakkan lidah, membuang muka gusar.
"Tutup mulutmu. Aku baru saja ditipu."
Pemuda berambut perak berpura-pura terkejut.
"Eeh~?! Jade-san baru saja ditipu~?! Apa aku tidak salah dengar? Bukankah selama ini justru kau yang hobi membodohi orang lain dengan sihir ilusimu?"