Lantai lima kantor serikat petualang di ibu kota menyajikan atmosfer yang jauh berbeda dibanding empat lantai di bawahnya. Jika lantai-lantai sebelumnya dipenuhi hiruk-pikuk petugas yang lalu lalang, tumpukan berkas dokumen, dan jendela kaca besar yang menghadap jalanan utama, lantai ini adalah wujud dari sebuah kerahasiaan tingkat tinggi yang sangat dijaga.
Begitu melangkah melewati pintu kayu Oak tebal berpelindung sihir, sebuah ruang rapat megah langsung terbentang di hadapanku.
Di tengah ruangan, berdiri meja persegi panjang dari kaca tebal berkilau dengan bingkai perak. Kaki-kaki penyangganya berliuk presisi, memancarkan estetika artistik yang elegan. Di atas meja, beberapa gelas keramik kosong telah tertata rapi di samping teko berukir naga merah yang siap menyajikan teh hangat.
Langit-langit ruangan dicat putih bersih, menopang lampu gantung raksasa bernuansa klasik dengan puluhan lilin yang berpendar di atasnya. Derap langkah kaki kami teredam sempurna oleh karpet merah tebal. Di dinding-dinding berbalut warna abu-abu, terpasang jajaran lukisan pahlawan dan pimpinan kerajaan, terbiaskan oleh temaram dari lusinan lentera dinding.
Sembari mempersilakanku duduk, Panglima Moris mengambil tempat di salah satu kursi, didampingi dua petinggi serikat di sisi kanan dan kirinya.
"Mungkin ini terdengar agak kurang sopan bagimu... Tapi, Amuro-sama... Sejauh mana kau mengenal Shirayaki Yukki?" tanya Panglima Moris membuka percakapan.
Aku menelan ludah yang terasa mengganjal di tenggorokan. Setelah terdiam sejenak mengumpulkan ingatan, aku akhirnya menjawab.
"Meski awalnya terasa sulit dipercaya... aku pernah mendengar bahwa Yukki-san dan kakaknya, Akame-san, dulunya adalah kristal sihir bernyawa.” Ungkapku, mantap.
“Mereka ditemukan di sebuah gua terbengkalai... dan butuh waktu berbulan-bulan untuk para peneliti membawa mereka ke permukaan demi dianalisis..."
Panglima Moris mengangguk perlahan. Ia saling lempar pandang dengan dua penyihir di sisinya, lalu kembali menatapku tajam.
"Kalau begitu, pemahaman dasarmu sudah cukup jauh," ujarnya, berdehem.
"Namun, biar kuberitahu hal yang sebenarnya, Amuro-sama... Penyihir es-api itu telah mengikat kontrak sebagai agen rahasia dengan pihak Kerajaan Voltaire sejak setahun yang lalu.”
Mengikat kontrak sebagai agen rahasia—aku mengulang dalam batin.
Panglima Moris meneruskan.
“Berkat informasi yang ia suplai, kami mampu membaca pergerakan kelompok Malaikat Hitam selangkah lebih cepat. Kami berhasil menyiapkan antisipasi yang tidak hanya menyelamatkan ibu kota, tetapi juga seluruh kerajaan—sebuah keuntungan strategis yang sangat gemilang."
Aku mengernyitkan dahi, merasakan ada kejanggalan.
"Menjadi agen ganda di dalam Malaikat Hitam...” Suaraku tertahan. “… bukankah itu sangat berisiko dan membuatnya mudah dicurigai? Lagi pula, Bukankah Yukki-san adalah petualang resmi yang dimiliki oleh serikat ini?"
Sang Panglima menghela napas berat. "Itu benar." Ia jeda sejenak sebelum melanjutkan, "Tapi justru sebab itulah, harga yang harus dibayar teramat mahal.”
“Shirayaki Yukki—dengan kesadaran Akame—terpaksa menawarkan kontrak mata-mata serupa kepada kelompok Malaikat Hitam agar posisinya tak memicu kecurigaan. Ia secara sengaja harus membocorkan beberapa rahasia serikat dan penyihir kerajaan demi mengamankan aksesnya untuk bebas bergerak di ibu kota sebagai petualang independen.”
“Secara praktis, Yukki adalah mata-mata ganda bagi kedua belah pihak."
"Mohon maaf, Moris-san." potongku spontan. Kedua kakiku bergetar hebat. "Jika seperti itu, bukankah pihak kerajaan justru terkesan membiarkannya dalam bahaya? Bertahan di Malaikat Hitam berarti Yukki-san dipaksa membunuh dan membantai orang-orang tak berdosa, bukan? Dia dipaksa melakukan hal-hal yang paling ia benci—dia pasti sangat menderita!"
Garis pertahananku runtuh. Amarah yang membakar dada memuncak hingga aku menghentak meja kaca tebal itu dengan keras.
“Apakah kalian tidak sadar…” Nada bicaraku merendah dengan dingin dan sinis. “… BAHWA GARA-GARA PERAN GANDA SEPERTI ITU, YUKKI-SAN HARUS MEMBOMBARDIR DESA CHIHARU SAMPAI HANYA MENYISAKAN DIRIKU DAN MEMBUNUH BANYAK SEKALI ORANG TAK BERSALAH, HAH?!”
Napasku memburu parau. Mataku memerah membelalak menatap Panglima Moris. Aku tak habis pikir bagaimana wanita sepolos Yukki-san bisa dijadikan bidak catur oleh orang-orang berkuasa ini.
Jika sosok di hadapanku bukan Panglima Pertama Kerajaan yang teramat disegani, mungkin aku sudah memicu Sihir Peniru untuk meratakan tempat ini sekarang juga.
Hening.
"...Itu mustahil, Amuro-kun," sela Najimi Harui dengan nada suara yang menenangkan namun dingin.