Di sektor barat, kelompok terakhir yang terkumpul di barat sebenarnya sama sekali tak memiliki cacat secara komposisi kekuatan. Tim ini berisikan Shirayaki Yukki, Putri Via beserta pengawal pribadinya, Bella Isabella, serta Albert dan seorang penyihir bernama Yami Yatsuo.
Masalahnya hanya satu: lawan mereka adalah kawanan naga api Ignis yang ganas dan berani mati. Mau tidak mau, mereka harus bertempur habis-habisan demi menyelamatkan warga sipil yang mengaduh dan terjebak di bawah puing bangunan.
“Semuanya, awas!”
Sihir Es: Dinding Pelindung Es — Tiga lapis!
BUM BUM BUM BUM BUM
Yukki—yang tadi sempat berniat bertukar posisi dengan Akame namun batal—kewalahan setengah mati menahan bombardir napas api dan bola-bola magma yang ditembakkan tanpa henti.
Jauh di garis depan, Albert bergerak lincah menyusuri sudut-sudut pemukiman yang hancur. Sebagai pengguna elemen tumbuhan, ia sadar betul sihir daunnya akan sia-sia jika diadu langsung dengan naga api. Lelaki bertudung hijau itu memilih berfokus pada navigasi evakuasi, mengandalkan pendengarannya yang tajam untuk mengendus jerit tangis warga di balik reruntuhan.
Sementara keduanya demikian, di puncak menara pengawas yang tersisa, Bella Isabella mengamuk tak tertahankan. Mengandalkan sihir penguat fisik yang dimiliki, sang pengawal bertangan dingin itu memukul mundur naga-naga yang mencoba mendekat—menghantam sisik keras mereka dengan tinju mentah tanpa senjata.
“Kalau kalian mencoba mendekat sekali lagi.” Ancam sang pengawal kepada gerombolan naga yang menghindar ke langit tinggi. “Berikutnya aku tidak akan ragu untuk menjebol tubuh kalian hingga tembus ke sisi belakang!”
Kira-kira itu yang terjadi pada kelompok ketiga.
Tunggu.
Sepertinya ada yang terlewat.
Apa yang sedang dilakukan sang Putri Kerajaan dan Yami sejak awal pertempuran?
Jawabannya: Keduanya sedang duduk melingkar di garis belakang, bermain kartu.
Benar-benar bermain kartu.
Logikanya sederhana: putri bungsu Kerajaan Aurelion itu murni tak bisa bertarung, sedangkan temannya, Yami Yatsuo, adalah 'penyihir sekali pakai' yang baru diaktifkan jika kondisi sudah berada di ambang kemusnahan. Praktis, mereka berdua menganggur dan hanya bertugas menjadi pemandu sorak dari jarak aman.
"Sayang sekali, Yami-kun! Kali ini aku mendapatkan Full House sempurna!" Putri Via Chrononius Aurelion Elizabeth memamerkan deretan kartu dengan dagu terangkat angkuh. "Sudah kubilang, kan? Rakyat biasa mana mungkin sanggup mengungguli keagungan darah biru para bangsawan!"
Yami Yatsuo menatap sang putri dengan kelopak mata setengah tertutup. Dengan malas, ia membalikkan susunan kartunya sendiri.
"Apa yang sebenarnya kau ocehkan, Nona Muda?" celetuk Yami santai. "Kemenangan mutlak ada di tanganku."
Via tertawa geli melihat deretan kartu di meja, sebelum matanya melotot sempurna. "A… Apa-apaan ini?!" Wajah cantiknya seketika pucat pasi. "Ja—Jangan bilang… Royal Flush?! Tidak mungkin! Kau pasti menggunakan sihir yang curang!"
Yami mendecakkan lidah seraya mendengus sinis.
"Huft.” Ejeknya. “Semua pecundang memang selalu mengambing-hitamkan takdir saat mereka kalah, Tuan Putri."