Aliran Timur: Tebasan Penghancur Batu!
Sihir Pemanggilan: Cakar Cerberus!
TRAAANKK!
Bentrokan antara baja dingin dan cakar tajam beraura ungu menjadi dentang lonceng yang menandai dimulainya duel maut melawan Sang Jenderal Iblis Kedua. Percikan api menyembur ke udara. Bias kilatan singkat begitu menyilaukan mata.
Tanpa memberi jeda, begitu tahu serangan pembuka tidak berhasil, aku segera mengambil napas Ibuki—teknik pernapasan terlarang untuk memompa kekuatan fisik secara radikal dalam hitungan detik. Sambil memantapkan kuda-kuda, otot-otot tubuhku menegag keras saat merapalkan jurus susulan. Menggenggam pedang di tangan erat-erat.
Aliran Timur: Badai Pedang!
SLASH! SLASH! SLASH! SLASH! SLASH!
Kilatan tebasan beruntun menghantam musuh tanpa ampun. Kedua cakar tebal milik Han Ling hanya sanggup melindungi kepala dan dada; sementara bahu, paha, serta perutnya yang terbuka lebar menjadi sasaran empuk sabetan pedang yang berayun makin ganas. Mengucurkan darah merah segar.
Alih-alih meringis atau mengaduh, wanita bertelinga runcing justru tertawa melengking saat melihat luka-lukanya berlumuran darah dan terbuka, lalu merapat dan pulih dalam sekedipan mata.
Ia tertawa terpingkal.
“Hahaha! Apa-apaan ini, Bocah?!” ejeknya sembari membusungkan dada. “Kau berniat menghabisiku dengan pedang tua yang bau tanah? Bercanda juga ada batasnya, tahu!”
SAT! SAT!
Serangan balik berupa sabetan cakar beracun meluncur memotong udara, nyaris saja memenggal leherku jika tidak segera melenting mundur. Aku mengatur napas yang mulai tersengal. Menatap musuh yang masih berdiri jumawa di hadapan.
Sebuah seringai tipis terukir di bibirku yang berdarah.
“Tidak ada yang bercanda di sini, Jenderal Sialan,” ujarku, dingin. “Ini namanya taktik.”
Han Ling memegangi perut yang baru saja pulih, tergelak.
“Bwahahahaha! Serangan geli seperti tadi kau sebut taktik?!”
“Ya,” jawabku mantap. “Sebelumnya aku mengira satu-satunya cara melukaimu adalah dengan sihir tingkat tinggi berelemen api atau racun Cerberus yang mematikan. Akan tetapi, sekarang aku sadar bahwa anggapan itu keliru.”
Menarik napas Ibuki putaran kedua, aku menghunuskan pedang ke depan. Bersamaan dengan itu, belasan lingkaran sihir bersinar dalam pendaran biru-emas yang memukau, merekah di sekeliling tubuh Han Ling di tengah jalanan.
“Karena ternyata, Han Ling…” Suaraku menggantung berat. “… pedang berkarat pun sanggup membuat bangsa iblis bersimbah darah jika kita memotongnya di celah yang tepat.”
Sihir Peniru: Tiruan Sihir Ruang dan Waktu — Gerakan Nol Detik!
“A—APA YANG—?!”
KAAATS!
Segalanya terjadi dalam rentang waktu kurang dari satu mikro-detik.
Melalui puluhan portal ruang yang terbentuk serentak di sekeliling Han Ling, aku melepaskan tebasan jarak jauh pada aliran waktu yang telah dihentikan.
Memanfaatkan manipulasi ruang yang terlalu curang, satu tebasan dasar itu dilipatgandakan menjadi puluhan tebasan menyilang yang mencabik-cabik tubuh sang Jenderal tanpa celah. Saat arus waktu kembali berputar, darah segar menyembur deras dari bekas serangan seperti air mancur.
ZRASH!
Menggenang di mana-mana, membuat jalanan bertambah kotor.
Meski kesadaran wanita itu belum runtuh, Han Ling hanya sempat menyaksikan kepalanya sendiri terputus dan menggelundung di puing-puing bebatuan, disusul potongan tubuh yang hancur berkeping-keping. Tercerai-berai.
Diiringi erangan murka, iblis yang tak bisa mati itu memberikan perintah gaib kepada pasukannya yang berjaga. Mengedutkan alis.
“SE—SEMUANYA!” jerit kepala Han Ling histeris. “HABISI BOCAH INI CEPAT!”
“ROAAAAAAR!”
Ratusan monster raksasa bergerak serentak untuk mengeroyokku di depan majikannya. Namun, meski jelas berada dalam bahaya, aku tak ingin memberi kesempatan pada sang jenderal iblis untuk memulihkan dirinya lebih jauh.
“Monster-monster panggilan,” ujarku pada segenap makhluk mengerikan yang beberapa saat lalu kupanggil melalui lingkaran sihir. “Hancurkan segala sesuatu yang berani mendekat.”
Armada tempur monster milikku ikut meraung, melesat maju dari kegelapan. Dengan gesit, mereka mengunci balik pasukan iblis yang ingin ikut campur dalam pertempuran brutal satu-lawan satu. Mengerahkan segala tenaganya sambil menantiku dalam tatapan berbinar.
TAP
TAP