Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #16

EP 16. ALASAN MENJADI JAHAT

Setelah itu, yang tersisa hanyalah kegelapan yang pekat.

Tanpa sensasi, tanpa denyut nadi, gadis yang tak lagi bernapas itu mengambang dalam kehampaan, seolah jiwanya telah terlempar keluar dari batas realitas. Tak ada bekas cahaya. Tak ada dinding pembatas.

Satu-satunya memori yang tersisa di benaknya hanyalah gambaran jemarinya yang membeku oleh sihir sendiri, serta sosok Akame yang terbaring kaku tak bernyawa di hadapannya. Mati dengan mata terbuka.

Ingatan tragis itu memicu rasa sakit yang menusuk, membuat sang gadis ingin menangis sekali lagi. Namun, sayangnya, ia gagal. Di tempat ini, suara tak punya gema. Kehadiran manusia tak punya jejak. Bahkan untuk mengonfirmasi eksistensinya sendiri, gadis berambut biru muda itu dirayapi keraguan.

Apakah aku…

… masih hidup?—ia bertanya-tanya dalam keheningan.

Tiba-tiba, secercah cahaya menyapu wajahnya.

Sinar yang begitu menyilaukan memaksanya memicingkan mata. Meringis.

A… Apa ini?

Cahaya itu merekah, menerangi sudut-sudut kegelapan yang sebelumnya tersembunyi. Ruang hampa itu mendadak menjelma menjadi taman lanskap yang indah. Bukit-bukit tinggi berbaris bagai pagar alam yang melindungi dalam formasi melingkar. Bunga-bunga indah bermekaran seolah musim semi akan berlangsung selamanya—menciptakan sensasi harum yang begitu teduh dan menenangkan.

Kabar baiknya… si gadis berambut biru tak sendirian di tempat seindah ini.

Kakaknya, Shirayaki Akame, telah berdiri menunggu di bawah sambil melambai. Senyuman tipisnya terulas di balik helai rambut merah yang berkibar dimainkan angin. Tampak menawan dan jelita.

Detik itu juga pertahanan Shirayaki Yukki runtuh. Air matanya meledak tanpa sanggup ditahan. Memori tentang momen-momen terakhir sang kakak yang bertarung menggunakan api putih hingga terbunuh, serta kenangan pahit saat tubuh mereka membeku bersama di ruang eksperimen, berputar hebat di kepala. Membuat sesak rongga dada yang rapuh.

“… A… Aku pulang, Kak Akame…! Hiks… Yukki pulang…!” panggilnya, terisak.

Keduanya kemudian berpelukan di udara, sedikit mengambang.

Dengan tawa hangat yang terentang lebar, Shirayaki Akame menyapa lembut.

“… Selamat datang kembali…”

“… Yukki.”

***

BOOOM!

Ledakan sihir hitam membelah keheningan ruangan yang kumuh dan terbengkalai. Dinding-dinding ruangan yang terkelupas menunjukkan sisa-sisa pertempuran dahsyat, sementara langit-langit yang dipenuhi sarang laba-laba menegaskan betapa tempat itu telah lama dilupakan waktu.

Di ambang pintu ruangan tanpa ventilasi, seorang pria berambut pirang sepanjang punggung menatap ke pusat ruangan dengan pandangan menuntut. Ia berdiri tenang, menantikan hasil dari sebuah mahakarya.

Kondisi paling mengenaskan terlihat di bagian tengah.

Menggunakan simbol bintang segi lima simetris yang dilukis dari darah murni kaum bangsawan, sepuluh penyihir bertudung membentuk formasi ritual terlarang. Dua onggok tubuh terbaring kaku di titik pusat sebagai tumbal utama. Sejumlah penyihir yang berhasil selamat dari efek samping sihir laknat terengah-engah sambil muntah darah.

Ritual tersebut berjalan sukses—meski lima penyihir harus tewas mendadak akibat kontak dengan konsentrasi sihir gelap, sementara yang lain harus segera diberikan perawatan intens.

Ketika aura negatif perlahan surut, pria berambut pirang di ambang pintu melayangkan senyum puas. Ia senang bawahannya ternyata bisa menjalankan instruksi yang diberikan dengan presisi. Melihat dua eksperimen berharganya berhasil diselamatkan dari ambang kematian, pria berambut pirang tak dapat menahan diri untuk terkekeh—kekehan seorang anak yang berhasil memenangkan boneka dari sebuah permainan berhadiah.

Di pusat ritual, Yukki dan Akame mendadak tersentak bangkit. Kesadaran mereka terlempar kembali ke dalam realitas. Terkejut mendapati si pria pirang masih bernapas, secara refleks mereka langsung mengangkat tangan untuk melayangkan serangan balik.

Namun, gerakan mereka mendadak terkunci.

Bukan karena ancaman luar, melainkan karena sebuah fakta mengerikan baru saja menghantam mereka: mereka kini disatukan dalam satu raga.

Benar-benar satu raga.

Mahkota rambut mereka sekarang merupakan perpaduan biru muda dan merah yang terang membara. Sepasang matanya memantulkan cahaya warna kuning emas dan hijau zamrud secara berdampingan. Melalui mekanisme sihir terlarang yang berbahaya, dua jiwa itu kini berbagi kesadaran dan kontrol fisik sambil membawa pasokan kapasitas sihir utuh dari ‘kehidupan sebelumnya’. Yukki memegang kekuatan es, sedangkan Akame menguasai api—memungkinkan raga baru itu memanipulasi dua elemen kontras secara simultan dengan daya hancur luar biasa.

Konsepnya mungkin tak jauh berbeda dari monster Z-098 yang kemarin mereka kalahkan.

Begitu mengetahui apa yang terjadi, naluri Yukki dan Akame berontak hebat. Mereka mencoba beridiri dan sadar bahwa kondisi disini sama sekali belum berubah sehingga mereka akan melawan lagi.

“A—APA-APAAN?!”

Lihat selengkapnya