Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #129

MELAWAN DUA JENDERAL IBLIS

“Aku akan selalu menunggumu, Pangeran.”

Ruangan luas dan gelap itu bukanlah latar ideal untuk sebuah momen emosional yang kelak terpatri seumur hidup dalam ingatan Mei Ling. Penjara segel milik gadis tersebut masih menampung puluhan—bahkan ratusan—monster kelaparan yang tak henti-hentinya mengerang, menciptakan gema mencekam yang mampu memicu ketakutan siapa saja yang mendengar.

Satu-satunya sumber penerangan berasal dari lilin-lilin trisula yang melayang di udara dengan daya magis misterius. Lilin-lilin itu bergerak secara independen, seolah memiliki kesadarannya sendiri, menerangi siluet wajah pangeran tampan yang tengah dipeluk oleh gadis berkimono merah. Bayang-bayang yang tercipta mempertegas nuansa pilu sosok gadis berpostur mungil yang akan ditinggalkan.

Cengkeraman jemari Mei teramat erat di pakaian pria di hadapannya, seakan enggan membiarkannya pergi. Suaranya bergetar, memancarkan nada kepolosan rapuh yang menyayat-nyayat hati.

“Sampai kapan pun, Mei Ling akan menunggu Pangeran… walau Mei Ling tahu Pangeran tidak akan pernah kembali ke sini untuk selama-lamanya,” ia berucap dengan nada tertahan. “Mei Ling cinta, sangat amat cinta, luar biasa cinta kepada Pangeran Ov yang baik dan tampan. Jika ada kata yang lebih agung daripada cinta, Mei Ling tidak akan ragu menggunakannya untuk mengungkapkan perasaan ini kepada Pangeran. Sungguh.”

Menghadapi perpisahan yang tak akan terulang, gadis berambut cokelat kehitaman menyerah membendung air matanya. Lonceng emas yang menghiasi tubuh si gadis berdenting halus setiap kali ia bergerak, menyatukan irama tangis yang mengiris udara di antara gelapnya Penjara Segel raksasa.

Mei Ling menggigit bibirnya rapat-rapat, berusaha menahan isolasi rasa sakit yang membendung di dada. Sembari menengadahkan pandangan, ia menatap Pangeran yang sejak tadi hanya bisa mematung—enggan melukai perasaannya lebih jauh dengan ucapan kepergian.

Gadis berkimono merah menyeka air mata yang terus meleleh.

“… Ma… Maka dari itu… Pangeran…” Suaranya tertahan. “… Setelah ini… hiks… hiks…”

“… Tolong… kumohon…”

“… Jangan pernah lupakan Mei Ling.”

***

Sihir Peniru: Tiruan Sihir Air — Gelombang Pasang!

Sihir Peniru: Tiruan Sihir Es — Hembusan Pembeku!

WHOOOOOSHH… KRAAAAAK!

Menggabungkan dua elemen tiruan secara bersamaan, aku berusaha mengurung Ling bersaudari dengan bongkahan es yang merambat cepat. Jalanan Kerajaan Kuroshio yang tadinya lengang mendadak diterjang gelombang air raksasa yang langsung membeku menjadi benteng es masif. Dengan jangkauan serangan yang begitu luas, mustahil bagi siapa pun untuk menghindar—termasuk Jenderal Raja Iblis Pertama dan Kedua yang tersapu oleh arus dingin tersebut, terperangkap dalam lautan es secara mendadak lalu tenggelam…

… Atau, setidaknya, itulah yang kuharapkan.

PRAAAAANK!!

Seperti yang telah terjadi sebelum-sebelumnya, menundukkan dua komandan ras iblis terkuat secara bersamaan bukanlah perkara mudah. Yang satu dibekali anugerah keabadian yang mustahil dibunuh, sementara yang lainnya menyimpan jutaan sihir tersegel di balik kertas-kertas jimat yang bisa ia lepas sesuka hati.

Hanya dengan satu sentakan, usahaku untuk menghentikan pergerakan keduanya kembali gagal. Energi sihirku menyusut secara drastis. Aku dipaksa mempertimbangkan opsi untuk mundur. Dengan berat mengakui bahwa aku belum sepadan dengan mereka.

BZZTT… BZZZZT

Lihat selengkapnya