Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #17

EP 17. HANYA SATU ORANG

Malam yang dingin merambat pelan menuju fajar. Di ufuk timur, semburat cahaya putih mulai samar menoreh langit yang masih dibalut kegelapan. Rembulan enggan bergeser, dan bersama pendar pucatnya… kengerian yang dibawa belum juga usai.

Formasi pertahanan melingkar dibentuk rapat, mengelilingi markas lima lantai milik Perserikatan Petualang Ibukota. Pasukan terbagi ke dalam empat sektor utama sesuai arah mata angin. Masing-masing barisan dipimpin oleh tiga panglima kerajaan dan Claude Vincost, sang Kepala Serikat yang bertubuh tambun.

Di barisan paling belakang, Nona Najimi bersiaga dengan mantel hijau seragamnya. Meski tidak bertarung di garis depan, ia mengemban peran vital yang tak mampu digantikan siapapun: menetralkan sihir musuh, memimpin tim penyerang jarak jauh yang memadati halaman, celah jendela, hingga atap bangunan dengan tongkat sihir teracung.

Mata-mata yang baru saja kembali membawa laporan mengenai pergerakan di pusat kota memberi salam hormat sambil sedikit membungkuk. Panglima Moris, selaku pimpinan tertinggi pertahanan, mengangguk pelan—sebuah isyarat dingin bahwa bentrokan fisik tinggal menghitung detik.

Suasana mendadak hening. Sangat mencekam.

Para penyihir kerajaan dan petualang yang tersisa paham betul bagaimana reputasi dan sepak terjang sekte Malaikat Hitam selama bertahun-tahun. Mereka kuat, sadis, dan kerap muncul tanpa peringatan. Kemampuan tempur organisasi yang di luar akal sehat lebih dari cukup untuk menandingi seluruh armada militer Kerajaan Voltaire—sebuah ancaman eksistensial bagi negeri itu sendiri.

Dua ratus penyihir sebenarnya jauh dari kata cukup untuk menghadapi satu anggota Malaikat Hitam. Namun, meski demikian, karena pusat ibukota jauh lebih penting dan layak untuk dilindungi, Master Azaroth terpaksa menetap di istana bersama mayoritas prajurit. Pada akhirnya, gedung perserikatan harus berpuas diri dilindungi oleh tiga panglima demi satu misi mutlak: memastikan jasad Shirayaki Yukki tidak jatuh ke tangan musuh.

Panglima Moris mempertajam indera, memindai hawa keberadaan musuh yang kian dekat.

“Mereka datang,” cetus Moris Wesley singkat. Kalimat sederhana yang sanggup melontarkan getaran dingin ke punggung siapa pun yang mendengar.

Seketika, seluruh prajurit mempererat genggaman pada senjata. Mereka meringkuk makin dalam di balik tempat persembunyian masing-masing. Kemudian, sebuah suara langkah kaki memecah sunyinya jalanan yang dingin dan berkabut. Awalnya samar, seperti desir angin malam. Namun lambat laun, gema itu menjelma menjadi dentum derap langkah yang dihentakkan secara simultan dan serempak. Suaranya membahana dari segala penjuru, mengepung gedung perserikatan dari tiap sudut tanpa celah. Pasukan pertahanan dibuat kebingungan menentukan arah datangnya gelombang serangan tersebut.

Lihat selengkapnya