Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #19

EP 19. PENYELAMATAN YUKKI... DIMULAI!

 “Kalian tidak akan pernah menang melawan kelompok itu, Bocah. Percayalah padaku.”

Suasana di Gedung Serikat masih tegang. Rapat koordinasi rencana pertempuran sedang berlangsung sengit. Karena aliansi antara Kerajaan dan Serikat telah mantap, aku memutuskan bergabung untuk sementara waktu.

Formasi tempur mulai dibagi. Namun, begitu para panglima mengetahui aku mewarisi Kekuatan Peniru, mereka sepakat untuk segera melarikanku ke ibukota. Rencananya, aku akan dievakuasi bersama jasad Yukki yang mulai kaku, dikawal ketat oleh beberapa prajurit yang membawa surat mandat untuk Master Azaroth—sang jenderal besar kerajaan.

Tiba-tiba, di tengah ketegangan yang demikian, seorang pria tegap berambut pirang pendek muncul begitu saja seolah baru saja berteleportasi. Dengan santainya ia melangkah di atas meja rapat seakan sedang memperagakan sebuah drama, lalu duduk tanpa sopan santun di hadapan para panglima dan petinggi serikat.

Mata birunya yang tajam menatapku lurus.

“Jangan ikuti cara mereka. Itu cuma tindakan bunuh diri.”

Anehnya, tak ada satu pun hadirin yang bereaksi terhadap kedatangan maupun ucapannya. Pria tampan beraura bangsawan ini seolah tak kasatmata. Besar kemungkinan, hanya aku yang bisa melihat dan mendengar suaranya.

Tunggu...

…. Mengapa cuma aku yang bisa melihatnya?—aku bertanya dalam hati, kebingungan.

Apakah ini ada hubungannya dengan Kekuatan Peniru yang ia berikan padaku?

“Hoi, Bocah. Kau mendengarku tidak?”

Merasa diacuhkan, pria yang mengaku sebagai Sang Peniru itu melotot dingin ke arahku.

“Te—Tentu saja aku mendengarmu, Tuan—!” sahutku refleks.

Seketika aku membeku. Aku baru teringat kalau rapat penting masih berlangsung! Dalam hati, aku memaki diriku atas kecerobohan konyol yang baru saja kuperagakan.

Sesuai dugaan, seluruh petinggi di ruangan mendadak menoleh. Dahi mereka berkerut heran melihat tingkahku yang ganjil. Kemudian mereka mempertanyakan pada siapa aku bicara.

Beruntung, sebuah gagasan mendadak terlintas di kepalaku. Aku buru-buru menyambung kalimat.

“Te—Tentu saja aku mendengarmu, Moris-san...! Idemu bagus sekali! Sepertinya kita punya peluang menang dari mereka! Ya... mungkin?”

Mendengar celetukan itu, para hadirin menghela napas panjang dan menggeleng pelan. Mereka memaklumi kelakuanku yang dianggap masih berjiwa kanak-kanak, lalu kembali melanjutkan diskusi.

Di depanku, Moris Wesley menyunggingkan senyum tipis.

“Hm... kau memuji kecerdasanku, Anak Muda? Hahaha... insting berperangmu boleh juga!”

Aku jadi merasa bersalah.

Jujur saja, sejak tadi aku sama sekali tidak paham apa yang sedang dibicarakan para pimpinan rapat. Namun, saat Sang Peniru kembali menatapku dengan pandangan ganjil, aku baru saja hendak membuka mulut tapi—

“—Dalam hati saja,”

—Benar.

Pria itu memotong tiba-tiba, seakan mampu membaca jalan pikiran.

“Aku ini menguasai Sihir Telepati, tahu.”

“Ka… Kalau begitu bilang dari tadi, dong!” Aku mengamuk tanpa suara. Tapi pria berjubah biru tebal hanya menggidikkan bahu. “Kupikir kau cukup cerdas untuk menyadarinya sendiri… Tapi sepertinya aku salah, ya?”

“Langsung ke intinya!” Bentakku, dalam benak. “Ada angin apa kau muncul lagi di hadapanku? Hah?!”

Pria tersebut hening sejenak, tampak berpikir. Namun, menyadari seringai misterius yang mendadak terpatri di wajah, aku jadi tahu bahwa jawaban yang ia berikan setelah ini tak akan terdengar menyenangkan.

“Aku ingin kau mencicipi rasanya kematian, Takagi Amuro.”

Lihat selengkapnya