Fajar menyingsing di atas kehancuran Gedung Perserikatan Petualang.
Pemandangan yang tersisa sungguh mengerikan.
Gedung lima lantai itu telah runtuh total—puing-puingnya saling tumpang-tindih, terbelah oleh pilar-pilar beton yang roboh dan lebur. Jendelanya hancur berkeping-keping, meninggalkan kawah besar di pelataran depan. Di sekitarnya, ratusan mayat penyihir terhampar tragis di bawah tumpukan material. Sebagian besar tubuh mereka tak lagi utuh, dengan kelopak mata yang terbelalak lebar seolah hendak menjerit histeris, meski lidah telah kaku dimakan maut.
Di tengah pembantaian yang memilukan demikian, puluhan lingkaran sihir melayang di udara, terus-menerus menembakkan serangan berdaya hancur mahadahsyat. Serangan itu berasal dari tiga panglima kerajaan yang kini menjadi tawanan. Tubuh ketiganya bergerak tanpa kehendak, dikendalikan penuh oleh serabut-serabut sihir ungu yang membentang di angkasa.
Sementara di atas sana, seorang gadis kecil berambut hitam-keunguan menatap medan tempur yang banjir darah dengan dingin tanpa rasa salah. Gadis tersebut, Kageha Enma, kembali membangkitkan pasukan bayangannya yang sempat dilepas meski tak sampai seratus. Lalu ia berbisik. “Selamat tinggal,”
Kageha menjentikkan jarinya. Seketika, sekitar lima puluh prajurit berzirah hitam yang semula ambruk kembali bangkit. Mata mereka menyala merah buas. Dengan senjata terhunus, pasukan tersebut meluncur menerjang sisa-sisa penyihir dan pimpinan terakhir, Claude Vincost, mengepung dari segala penjuru.
“Mereka datang!” teriak Kepala Perserikatan kepada puluhan penyihir yang masih hidup. Kedua tangannya menyala terang dengan pendar cahaya biru dan hijau, bersiap menciptakan tembok pelindung terakhir sebelum pasukan bayangan membantai mereka hingga punah.
Nona Najimi dan Anri terengah-engah di samping Claude Vincost. Tenaga mereka telah habis.
Sihir penyembuhan memang sanggup memulihkan luka dan cedera, tetapi tak kuasa mengikis rasa lelah yang menggerogoti tubuh. Hanya masalah waktu sebelum pihak Kerajaan dan Perserikatan habis dibantai oleh si kecil Nomor Tujuh.
Sementara itu, ketiga panglima yang tersandera terikat dalam siksaan batin yang luar biasa. Dengan mata kepala sendiri, mereka menyaksikan satu demi satu anak buahnya tewas oleh sihir yang keluar dari tangan mereka sendiri. Jeritan kesakitan, tubuh yang tertindih, hingga anggota badan terputus—semua kekejaman itu dilakukan oleh tubuh para panglima yang dikendalikan Si Nomor Tujuh.
Ketiganya dipaksa merapal belasan lingkaran sihir berukuran raksasa. Ukiran simbol magis di dalamnya memancarkan pendar terang yang berbeda—sihir tingkat tinggi. Seluruh muara energi itu terarah tepat ke rombongan Claude Vincost yang berlindung di balik benteng berlian. Siap memusnahkan.
“Ta—Tanganku... tidak bisa dikendalikan!” seru Moris Wesley panik. Lelaki kaku tersebut berjuang sekuat tenaga melawan kekangan serabut ungu yang mengikat jemari, tapi usahanya tetap sia-sia.
“Ughh….”
Hanoki Ikidori dan Orihara Kanae juga mengalami nasib yang sama. Jika panglima terkuat saja tak sanggup melepaskan diri, apalagi mereka yang jelas berada di tingkatan bawah. “HEI, BOCAH!”bentak Ikidori pada Kageha Enma, yang tentu saja tak berniat mendengarkan. ” LEPASKAN KAMI!!”
Kanae berteriak memperingatkan dari kejauhan, “Claude-san!! Menjauhlah dari sana!!”
Namun, segalanya terlambat. Belasan sihir tingkat tinggi telah terlepas, mereka melesat membelah udara, mewarnai langit fajar. Tekanan energinya menciptakan hembusan angin kencang yang menerbangkan debu dan mengibarkan rambut, mengikis permukaan tanah yang dilalui.
Saat Claude Vincost menyadari seluruh serangan itu ditujukan padanya, saat sisa energi sihirnya tak lagi cukup untuk menahan gempuran ketiga panglima, dan saat ia menatap para prajurit di sekitarnya dengan rasa iba, putus asa, serta penyesalan mendalam...
... Di saat itulah, aku melepas selaput tak kasat mata yang menyelimuti tubuh. Aku muncul tepat di hadapan Kageha Enma, menatap matanya lurus-lurus. Dengan sisa tenaga yang mengendap di dalam tubuh, aku mengaktifkan Kekuatan Peniru—mengerahkan seluruh taruhan di detik ini.
Sihir Peniru: Tiruan Sihir Pembatal Modifikasi—Medan Tanpa Sihir!
VOOOOM!!
Bagaikan goresan pensil yang dihapus bersih dari kertas, belasan serangan sihir milik ketiga panglima yang melaju di udara lenyap tanpa bekas. Pasukan bayangan yang tadinya mendesak garis depan menguap seperti embun, menyisakan jasad-jasad tak dikenal yang roboh ke tanah.
Kekangan serabut ungu yang menjerat ketiga panglima terputus. Tubuh mereka terhempas berdebam ke jalanan ibukota, mengerang kesakitan karena sendi-sendi yang patah. Bukan hanya serangan musuh yang lenyap, benteng permata milik Claude Vincost pun tak bisa lepas dari pengaruh pembatal skala raksasa yang kugunakan—lenyap dan memperlihatkan para pengungsi yang berada di dalam.
“I… Ini?!”