“Musuh akan mengincarmu jika tahu kau memiliki Kekuatan Peniru, Amuro-kun. Kaburlah bersama Yukki ke kawasan istana supaya lebih aman di bawah perlindungan Master Azaroth! Kau paham?!”
Tanpa memberi ruang untuk bernegosiasi, Najimi Harui menyuruhku segera angkat kaki dari Gedung Perserikatan. Wanita itu memalingkan wajah. Seolah menyegel rapat-rapat segala bentuk diskusi, ia mengacuhkanku. Membiarkanku berdiri sendirian di pintu masuk lantai satu yang sibuk oleh para penyihir berseragam putih-hijau.
Lima lawan satu.
Hasil keputusan rapat di lantai atas sama sekali tidak mengejutkan. Mereka benar-benar menganggapku sekadar anak kecil yang tidak memiliki pemikiran logis. Menepikanku ke pinggir agenda unjuk pendapat.
Pada dasarnya, semua orang khawatir pertahanan Gedung Serikat tak akan sanggup menahan gempuran anggota Malaikat Hitam yang datang untuk merebut Yukki-san. Namun, di saat yang sama, pihak Kerajaan dan Perserikatan Petualang tentu tak bisa diam membiarkan jasad agen rahasia mereka direbut, dihidupkan kembali, atau dijadikan senjata perang mengerikan yang berbahaya di masa depan. Apalagi, rumor dari jaringan intelijen menyebutkan bahwa Kageha Enma—sang pengendali bayangan—kini tengah bergerak kemari bersama dua rekannya yang lain.
Sekali saja jasad Yukki masuk dalam jarak pandang dan jangkauan sihir Enma, dengan mudah gadis itu akan membangkitkannya sebagai boneka bayangan baru. Memerintahkannya meratakan pasukan kerajaan dan menang tanpa keringat—sebuah skenario terburuk yang sangat mematikan. Sebab itulah para panglima dan petinggi serikat tak ingin bertaruh nyawa. Mereka memutuskan akan melarikan jasad Yukki ke arah barat daya di bawah kawalan ketat puluhan penyihir berkuda. Tak ingin membiarkan sihir curang Kageha Enma mendarat di tubuh wanita tersebut, memperlakukannya bak boneka.
Hal yang sama juga berlaku padaku.
Sekali aku ikut terjerat Sihir Boneka Bayangan milik Si Nomor Tujuh, riwayatku pun akan tamat. Nasib Kerajaan dan Perserikatan akan berada di ujung tanduk karena Kekuatan Peniru jatuh ke tangan musuh—kabar buruknya, skenario ini lebih buruk daripada keburukan kemungkinan pertama.
Jujur. Sebenarnya aku benci diatur-atur oleh pihak yang tak begitu terkait denganku—apalagi orang-orang ini jelas memanfaatkan Shirayaki Yukki sebagai bidak yang bermain di pentas politik kerajaan yang pelik dan kompleks. Namun, jika pilihannya adalah memihak otoritas resmi yang kritis atau kelompok penjahat teroris yang tadi jelas-jelas hampir saja membunuhku, tentu aku tidak akan serta-merta memusuhi kerajaan hanya karena ego yang rendah.
Aku memang menolak mentah-mentah rencana buruk mereka, para anggota rapat di lantai lima itu. Mereka terlalu meremehkan Malaikat Hitam yang sanggup menyusun siasat licik dan intrik-intrik. Maka dari itu, aku memutuskan akan bertindak dengan caraku sendiri. Ya. Sebuah cara yang disarankan langsung oleh Sang Peniru—pria misterius yang sejak tadi mengekor di sampingku, mengajakku bicara tanpa bisa dilihat atau didengar oleh siapa pun.
Dan cara itu adalah...
… menghidupkan kembali Shiryaki Yukki.