Kageha Keita benar-benar kelewatan.
“Menjadi seorang kesatria? Jangan bercanda, Eva. Kamu terlalu lemah buat itu. Menyerah aja.”
Kalimat itu terngiang-ngiang tajam di kepala Eva Garden. Di atas benteng Kuroshio yang dingin dan dikepung kabut tebal, langkah keduanya bersama seorang gadis kecil lain menyusuri sudut situs pertahanan tanpa terendus seorang penjaga pun. Waktu menunjukkan pukul 12 siang. Puncak hari yang dingin, terhalang awan kelabu yang seolah tak pernah hengkang dari langit Kuroshio.
Eva—gadis yang diasuh kastil setelah ibunya dijadikan tumbal bagi naga air di lautan lepas—tersentak hebat. Dadanya serasa dihantam batu besar saat mendengar Keita, sahabat kecil yang selalu baik padanya, melontarkan kata-kata sekejam itu. Tangannya gemetaran. Matanya mulai berkaca-kaca. Mimpi besarnya untuk menjadi pahlawan mendadak runtuh begitu saja. Tanpa peduli lagi pada permainan meniti pagar benteng, Eva melipir ke sudut, meringkuk sambil membenamkan wajah di balik rok tebalnya yang mulai basah oleh air mata.
Kageha Enma, si kecil yang polos, menarik-narik ujung baju kakaknya sambil berbisik halus. “Kak… Kak Keita… Kak Eva main petak umpet sendirian, tuh. Dia lagi ngitung.”
Keita mengerutkan dahi, bingung. Namun begitu menoleh ke belakang, langkahnya mendadak terkunci. Sahabat kecilnya tertinggal jauh di balik benteng, menangis terisak-isak sampai memancing perhatian penjaga patroli.
Keita menyengir canggung. “E-Enma-chan…” ia memanggil si adik. “… itu jelas-jelas bukan main petak umpet!”
Dua bersaudara itu lalu buru-buru menghampiri Eva yang mulai diinterogasi penjaga. Beruntung, berkat lidah lincah sang pangeran Kuroshio yang pandai bersilat kata, kecurigaan penjaga berhasil ditepis dengan mudah. Permainan pun berlanjut—kali ini menuruni tangga spiral benteng yang melingkar curam.
“Iblis.”
Tiada angin, tiada hujan. Saat Keita melangkah turun menyusul adiknya yang sudah di bawah, sebuah bisikan dingin meluncur dari bibir gadis berambut hitam di belakangnya. Langkah Keita membeku. Tenggorokannya mendadak kering. Saat ia menoleh ragu, dilihatnya wajah Eva sudah makin sembab dan memerah.
Keita gelagapan. “E… Eva?” panggilnya, patah-patah. “Ka—kau kenapa?”
“Keita-kun… Ibliiiiiis!!”
PLOP!
Refleks dorongan tangan Eva yang spontan membuat sang pangeran terlempar ke celah kosong di tengah tangga spiral. Tak sampai setengah detik, lelaki itu sudah melayang bebas di udara. Dengan ekspresi konyol bercampur pasrah, ia sempat menatap Eva yang panik, sebelum akhirnya gravitasi menarik tubuh pangeran tersebut jatuh menabrak lantai dasar benteng dengan dentuman keras. Debu membumbung tinggi, mengibaskan rambut Enma di bawahnya.
“Aww... Sa-sakit...”
Melihat pangeran Kuroshio tergeletak di lantai keras, rasa bersalah langsung menghantam Eva. Ia buru-buru menuruni tangga sambil memegangi rok panjangnya yang merepotkan. Lalu berseru.
“Ke—Keita-kun?! Kau tidak apa-apa?! Maafkan aku!”