Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #135

EP 117. PERTEMPURAN DI SEKTOR TIMUR

[Beberapa saat sebelum Takagi Amuro berhadapan dengan sepasang Jenderal Raja Iblis Mei Ling dan Han Ling]

Situasi di sektor timur memburuk jauh lebih cepat daripada yang terjadi setengah jam lalu. Gelombang Slime Parasit yang datang tanpa henti memaksa empat sosok penyelamat—Lucian Voltaire, Noelle si gadis Elf, Finn Humberg, dan Permaisuri Eva—terdesak mundur secara perlahan menuju area pengungsian.

Lawan mereka tak lagi slime hijau biasa. Rombongan garda depan yang mulai kelelahan itu kini harus berhadapan dengan varian monster baru berupa Slime Biru bertubuh raksasa, lima kali lebih besar dari ukuran normal. Yang mana tiap kali diserang atau ditebas, cipratan tubuhnya bukannya hancur, tapi malah membelah diri menjadi klona-klona kecil yang agresif. Mereka melompat dengan kecepatan tinggi, menjerit bising sembari menggemertakkan deretan gigi tajam yang menyerupai gesekan gergaji. Sangat berbahaya.

“Mundur! Kita tidak bisa menahan gempuran ini terus-menerus! Kembali ke area pengungsian warga dan pertahankan wilayah itu sampai titik darah penghabisan!” tegas Pangeran Lucian memimpin komando. Ia melepaskan ratusan pedang cahaya sebagai umpan pengalih perhatian, memimpin gerakan mundur. Di sisinya, Noelle yang berambut perak tampak lunglai kehabisan tenaga. Gadis itu terpaksa dipapah oleh Finn, si bocah Dwarf yang kini susah payah membidikkan senapan canggihnya.

Saat Lucian mendadak lengah, seekor Slime Parasit Hijau yang lolos dari pengawasan meluncur turun dari atas, siap menerkam kepala pemuda pirang itu—

TAANGK!

—Tapi beruntung, Eva Garden yang telah pulih sepenuhnya refleks bergerak dengan kecepatan tinggi. Ia merentangkan tameng lebarnya untuk menangkis makhluk menjijikkan sebelum sempat menguasai sang pangeran.

Melihat sang permaisuri kembali bertarung di garis depan, Finn Humberg yang merintih menahan bobot tubuh Noelle berseru lega, “E—Eva-san!”

“Hiyaaat!”

Tanpa belas kasihan, Eva memutar tubuhnya di udara usai menangkis sergapan. Ia melayangkan tendangan seratus delapan puluh derajat ke atas, mementalkan monster slime yang sempat menempel pada tamengnya. Sorot mata wanita itu begitu tajam dan fokus. Sisa-sisa trauma dan kesedihan yang sempat menguburnya kini telah sirna, berganti gemuruh semangat yang bergejolak membakar dada. Tanpa mengalihkan pandangan dari gerombolan makhluk lengket yang meloncat, ia berteriak galak.

“Hoi, anak muda!” panggil Eva sembari kembali memasang posisi bertahan. “Jika kau terus melamun seperti itu, kita semua bakal jadi santapan makhluk-makhluk menjijikkan ini, bodoh!”

“A… Aku mengerti!” Lucian, yang baru tersadar bahwa ia sempat terpana melihat paras sang permaisuri yang sedang marah, segera berdehem canggung.

Aksi curi-curi pandang itu tak luput dari penglihatan Noelle, yang langsung melayangkan tatapan membunuh dari jarak dekat. Lucian pun buru-buru membantu Finn memapah Noelle yang tak sanggup berlari sembari terus memanggil badai pedang cahaya untuk menebas setiap monster yang berusaha mendekat. Dengan rapi, mereka mencoba bergerak mundur.

“Ja… Jangan berhenti bergerak!”

“KYAAAAAK! KYAAAAAAK!”

Sayangnya, baru beberapa langkah bergerak menjauhi pusat invasi, jalur pelarian anggota ordo itu mendadak terpotong. Sekumpulan Slime Biru berukuran mini—kira-kira sebesar genggaman tangan—telah mengepung dengan gigi-gigi bergemerincing seperti pisau yang sedang diasah. Dengan jumlah masif dan ukuran sulit dibidik, kelompok pembasmi di sektor timur kini terjepit dari dua arah sekaligus dalam kondisi stamina yang terkuras. Membuat Lucian sebagai kapten sementara menjerit dengan sepasang mata melotot.

“Ya… Yang benar saja?!”

“Me—Mereka datang!”

“KYAAAAAAKK!”

Tak ada pilihan lain. Kelompok pertama itu akhirnya membagi tugas untuk menahan kepungan dari dua arah. Lucian, yang memegang sihir paling efektif untuk saat ini berfokus mengendalikan gempuran dari arah timur. Sementara dari barat, Finn dan Eva bahu-membahu menahan gelombang Slime Biru yang mencoba merangsek masuk. Adapun Noelle, yang staminanya terkuras habis akibat mengerahkan sihir roh tingkat tinggi bangsa Elf, dibaringkan di sudut jalan yang relatif aman. Ia hanya bisa menonton jalannya pertempuran dengan tubuh kaku tak berdaya. Mengatur nafas yang terengah-engah dengan pasrah dan putus asa.

Sihir Cahaya: Badai Pedang Cahaya!

Senapan Energi: Tembakan Terkoordinasi!

Lihat selengkapnya